Chapter 5 -Lies-

22.5K 1K 7
                                        

Check Multimedia

Pic Mario

-

Ryn membuka kedua kelopak matanya. Samar-samar ia lihat sekelilingnya. Ia melihat ruangan yang  sangat asing baginya. Ruangan yang bernuansa putih. Lalu, ia berusaha untuk bangun dan duduk. Tapi, kepalanya masih terasa sakit.

“Aww..”

Ringis Ryn sambil memegangi kepalanya sambil menahan sakit.

“Ryn, lo sudah sadar?” tanya seseorang. Ryn pun menoleh dan melihat Rissa yang sedang menatapnya dengan berbinar-binar.

“Gue dimana, Ris?” tanya Ryn masih sambil memegangi kepalanya.

“Lo di uks, Ryn. Kepala lo sakit ya? Ini minum dulu airnya,” jawab Rissa sambil menyodorkan segelas air putih yang berada di atas nakas kepada Ryn.

Ryn pun menerimanya dan langsung meneguk air putih tersebut. Tenggorokannya sangat kering dan ia sangat butuh minum.

“Kenapa gue bisa ada di uks?” tanya Ryn lagi sambil menyodorkan gelasnya yang sudah kosong kepada Rissa.

“Lo gak ingat? Lo pingsan di depan ruang music. Ryn!” ucap Rissa penuh dengan penekanan.

Ryn pun mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Ia ke uks untuk tidur dan berhenti di depan ruang music. Mengingat kenangan lama. Bertemu Rey. Dan semuanya gelap.

“Terus siapa yang bawa gue ke uks?” seakan teringat bahwa ia pingsan, Ryn pun langsung menanyakannya.

“Rey! Lo tahu? Rey gendong lo seperti tuan putri, banyak anak cewek sesekolah yang iri ngelihat kalian berdua,” ucap Rissa mengebu-gebu.

“Benarkah—“

“Ryn, lo udah baikan? Lo baik-baik aja kan? ada yang lecet? Mana yang sakit bilang gue!” ucap Calvin sambil meriksa wajah, tangan dan kaki Ryn.

Ia tampak sangat khawatir ketika ia tahu bahwa Ryn tadi pingsan. Ia takut sepupu yang sudah ia anggap adik kandung sendiri itu sakit. Bahkan ia sempat menyalahkan dirinya sendiri karena hal tersebut. Ia merasa tak becus sebagai kakak untuk Ryn.

Ryn melengos melihat perlakuan Calvin terhadapnya. Menurutnya Calvin sangat lebay padahal ia tidak apa-apa. tapi, ia tahu bahwa itu adalah bentuk kasih sayang seorang Calvin yang gak pernah diberikan Calvin kepada wanita lain selain dirinya dan tentu saja Mamanya Calvin sendiri.

“Gue gak papa, Cal,” ucap Ryn pelan. Ia berusaha untuk membentuk sebuah senyum agar Calvin percaya bahwa keadaannya tidak apa-apa.

“Lalu, apa yang terjadi sama lo? Lo kecapekan? Biasanya kalo lo pingsan karena lo kecapekan,” tanya Calvin sambil menatapnya dengan tatapan –lo harus cerita ke gue.

“Iya. Gue cuma kecapekan. Tadi malam gue begadang nonton film sama dua curut itu,” ucap Ryn sambil memutar kedua bola matanya. Sebenarnya dia agak sedikit berbohong, tapi mau bagaimana lagi dia gak mau membuat Calvin khawatir. Toh, bener juga kan apa yang dikatakannya bahwa ia begadang dengan kedua sahabatnya.

Calvin hanya mendecak kesal. Ia sudah sangat tahu kebiasaan tiga sahabat itu.

“Huh, terus kenapa tadi lo nangis di depan ruang music?” tanya sebuah suara dari arah pintu. Ryn pun mendongak dan melihat Rey di dekat pintu sambil bersender dan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Ng.. itu..i –“

“LO NANGIIIS? Astaga, jangan bilang lo –“ teriak Calvin lalu, menggelengkan kepalanya tak percaya.

Be My StarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang