Hai, para pembaca yang saya cintai dan sayangi. Gue post nih chap 19nya, semoga suka deh. Yang bilang multi-nya ilangan, udah tak masukin kok. Makasih bagi yang bilang kalau cerita gue ini bagus, gue terhura banget :3
-
Setelah tiga hari libur, hari ini Ryn masuk dan belajar seperti biasa. Sekarang ia dan Rissa berada di kantin, duduk dan menikmati makanan pesanan mereka masing-masing.
Selama perjalanan menuju kantin mereka terus dilirik oleh orang-orang yang mereka lewati. Orang-orang tersebut juga saling berbisik. Entah apa yang mereka bisikkan. Tapi, satu yang Ryn tahu, pasti ini tentang gossip tiga hari yang lalu.
Meskipun Aunt May sudah bilang kalau yang bersama Rey bukan Ryn Guellena dan hanya mirip, bahkan Aunt May sampai menyebutkan perbedaan-perbedaan sampai ketidakmungkinan Ryn Guellena berada di Indonesia agar dapat meyakinkan orang lain. Namun, tetap saja, gossip dia bersama Rey gak sebegitu mudahnya hilang dari pembicaraan anak sekolahan.
Rissa melihat ke sekitar masih ada beberapa yang menatap mereka, bukan, lebih tepatnya Ryn. Ia jadi merasa bersalah karena meninggalkan Ryn dan Rey berdua.
“Ris, hari minggu lo kemana sama Calvin?” Ryn memulai percakapan.
“Oh, he..hehe.. kemarin itu, ngg..” Rissa gelagapan, ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
Melihat keanehan Rissa, Ryn memicingkan kedua matanya, meneliti Rissa dari bawah ke atas seakan ingin menginterogasinya bulat-bulat.
“Ada yang lo sembunyiin ya dari gue?”
“Eh, bukan itu, anuu..”
“Apaan?” Ryn melotot tajam ke Rissa.
“Ng.. Calvin bawa gue gitu aja, katanya dia gak mau ganggu lo sama Rey. Maaf Ryn, gara-gara kita lo sma Rey jadi dapat gossip gini,”
“Oke, gue maafin dengan syarat lo ngasih tahu kenapa alasan Calvin bawa lo?”
“Ng.. Calvin.. dia..”
“Calvin kenapa?”
“Ng.. gue sama dia—“
“Hai, Ris,” sapa Calvin, lalu ia mengacak rambut Rissa pelan dan duduk di samping Rissa.
Melihat hal itu, mata Ryn membulat seketika. Sedangkan Rissa kembali mengatupkan bibirnya. Bungkam. Ia menatap Ryn gusar.
“KALIAN JADIAN??!!” teriak Ryn reflek. Seisi kantin pun menoleh ke arahnya, kebanyakan merasa terganggu dan lainnya penasaran dengan ‘kalian’ yang dimaksud Ryn.
“Upps..” Ryn menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu, mengucapkan sorry pada orang-orang yang merasa terganggu tersebut.
“Biasa aja kali, Ryn,” Calvin mendengus sebal. Rey dan Rio yang bersamanya pun duduk di kanan-kiri Ryn.
“Gimana bisa? Kapan?” interogasi Ryn.
“Ng.. Minggu—“
“Gimana bisa? Ya, bisalah,” sela Calvin cepat. Membuat Rissa bungkam kembali.
Ryn kembali memicingkan matanya. Tajam. Menusuk. Nggak segitunya, ding.
“Kalian? Pasangan kucing-tikus yang gak pernah akur—jadian?” Rissa menahan napasnya. Ryn benar-benar menakutkan saat ini. Sedangkan Calvin hanya melengos melihat ke-lebay-an sepupunya itu kumat.
BRAAK.
Ryn memukulkan botol kecap ke meja. Rio-Rey-Rissa-Calvin dibuatnya kaget.
Tiba-tiba saja Ryn mengambil tangan Rissa dan menjabatnya. “SELAMAT RIS. JANGAN LUPA PEJE YA!”
KAMU SEDANG MEMBACA
Be My Star
Teen FictionIni kisah tentang Ryn--gadis ceria dan ramah, tapi dibalik keceriaan itu terpendam sesuatu yang orang lain tak boleh menyentuhnya. Sesuatu yang disebut 'rahasia'. Rahasia menyakitkan yang membuatnya menyembunyikan jati diri sebenarnya. Akankah satu...
