Chapter 3 -Mr. Annoying-

26.4K 1.1K 17
                                        

Hey, readers! Author comeback dan ngebawain chapter 3.

Oke, ini ada pic nya Rey, menurut kalian cocok gak?

Kalau mau lihat yang gak pake kacamata cari aja di google namanya Yang Gyu Bin. Cakep kok. Tapi, gue lebih suka kalau dia pake kacamata.

Lihat multimedia ya, daaan.. selamat membaca!

-

“Uh, sialan si Calvin, katanya mau membolos bersama, tapi ia malah asyik bermimpi di perpustakaan, mana susah banget dibanguninnya lagi. Dasar kebo.” umpat Rio pelan.

Rio menggerutu sepanjang jalan menuju taman belakang. Ia tampak kesal dengan ulah Calvin. Bagaimana tidak, mereka yang tadinya akan membolos pelajaran sejarah yang amat sangat membosankan karena guru sejarah mereka, Pak Shaleh selalu sibuk bercerita panjang lebar selama pelajaran dengan jarak waktu semenit disetiap katanya seperti, Bila.. semenit kemudian.. Kita, dan begitu seterusnya, dan itu membuat seisi kelas tidak dapat menahan kantuk mereka karena terkena syndrome bosan yang berlebihan, tapi Rio malah menemukan Calvin telah tertidur nyenyak di pojok perpustakaan.

Entah apa yang akan dikerjakannya sekarang. Mungkin ia akan tidur di tempat biasa, pohon besar yang berada di taman belakang.

Setelah sampai, Rio mendongak, ia memperhatikan dahan besar tempat biasanya ia numpang tidur, baginya pohon tersebut adalah kasur keduanya setelah kasur yang berada di kamarnya, ia pun mulai memanjat pohon tersebut dengan lihai. Ia pun mulai menutup matanya dan menikmati angin yang berhembus pelan ke arahnya serta nyanyian burung-burung yang menemani tidurnya.

-

“Whoah.. ternyata benar apa yang dikatakan Rissa kalau taman belakang sekolah ini sangat indah,” gumam  Ryn sambil memandang takjub ke seluruh penjuru taman.

Ia melihat bermacam-macam jenis bunga, ada bunga mawar dengan berbagai macam warna, bunga asoka, bunga sepatu dan bunga-bunga yang lainnya. Ia juga melihat sebuah air mancur di tengah taman dan di kelilingi oleh kolam ikan mas yang berwarna-warni. Ia juga melihat pohon-pohon rindang di sekitar taman, di bawah beberapa pohon tersebut terdapat kursi panjang dengan cat putih yang biasanya akan diduduki oleh beberapa siswa untuk sekedar mengobrol dan menikmati pemandangan di taman.

Ryn pun duduk di salah satu kursi yang berada di bawah pohon yang cukup besar dari pohon lainnya.

PLUK.

“Auww..” ringis Ryn. Ia memegangi kepalanya yang barusan telah ditimpuk oleh sebuah benda. Ia memandang ke arah bawah dan mendepati sebuah dompet kulit berwarna hitam di samping kakinya.

“Dompet? Punya siapa nih? Siapa sih yang buang dompet sembarangan, pasti gak waras tuh orang. Gak mungkin kan Tuhan ngasih gue rejeki langsung dari atas langit. Perasaan gue gak ada doa deh minta dompet jatuh dari langit. Apa mungkin Tuhan ngasih gue hadiah karena gue anak baik-baik?” ucap Ryn polos sambil membolak-balikan dompet tersebut. Ia mengernyit bingung. Benar-benar aneh pikirnya.

“Bwahhahahahaa..”

Tiba-tiba saja Ryn dikagetkan dengan suara tawa seseorang. Ia tak melihat seorang pun di taman ini kecuali dia. Ryn pun merinding dan mulai memikirkan yang aneh-aneh.

“Hii.. suara apaan sih itu, ini masih siang, masa ada hantu berkeliaran siang-siang, duh.. gue jadi merinding. Apa jangan-jangan itu suara penunggu taman ini? Uwaa..” ucap Ryn sambil menatap awas ke sekitarnya.

“Maaf, Om genderuwo, om pocong, atau om-om hantu lainnya, Ryn gak bermaksud untuk mengganggu kalian,” kata Ryn masih menatap awas ke sekitarnya.

Be My StarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang