Chapter 12 -Strange Feeling-

18.8K 942 26
                                        

Akhirnya gue upload juga chapter ini. Thanks banget bagi yang sudah setia menanttii.. *bahasanya elahh. Semoga chapter ini bisa sedikit mengabulkan permintaan kalian, untuk yang mau ada adegan Ryn-Rey dan Calvin-Rissa yang so sweet. Maaf banget kalau ini gak ada so sweet-nya. Huhu. Gue emang penulis abal-abal T_T

Oke, silahkan membacaa!!

-

“RYN LO ADA DI DALAM?” teriak Calvin ketika sudah sampai di depan pintu gudang. Tapi, sama sekali tidak ada jawaban dari dalam. Calvin pun langsung menggebrak pintu tersebut dan pintunya langsung terbuka seketika. Yang lainnya pun takjub, ketika Calvin marah dia benar-benar menjadi sangat kuat.

Calvin pun menelusuri setiap sudut gudang yang sangat gelap itu sampai ia mendengar suara isakan di sebelah kirinya. Ia melihat Ryn yang sedang menelungkup di samping lemari bekas yang sudah tidak terpakai lagi. Segera saja ia berlari ke arah Ryn dan berjongkok dihadapan Ryn.

“Ryn, lo gak apa-apa kan? Ada yang luka? Ada yang sakit?” tanyanya bertubi-tubi.

Ryn pun mendongakkan kepalanya. Ketika melihat wajah Calvin di depannya, ia langsung menghambur ke pelukan Calvin.

“Kak.. Ryn takut, Kak. Hiks.. Ryn takut,” isak Ryn di dalam pelukan Calvin. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Calvin dan membiarkan air matanya membasahi seragam Calvin.

Calvin pun mengusap-ngusap rambut Ryn untuk menenangkan Ryn. “Iya, Kakak ada di sini,” balas Calvin lembut. Ryn sangat jarang memanggilnya Kakak, kecuali kalau dia benar-benar takut dan sedih.

Rissa yang melihat adegan tersebut sangat terharu, mereka lebih terlihat seperti saudara kandung dibandingkan sepupu.

Calvin pun langsung menggendong Ryn keluar gudang dengan Ryn yang masih membenamkan wajahnya di dada Calvin. Setelah keluar, Calvin bisa melihat pipi Ryn berwarna merah dan terlihat bekas sebuah tamparan. Calvin pun kembali menggeram.

Kiara.. cewek itu harus diberi pelajaran.

“Rey, jaga Ryn,” ucap Calvin sambil menurunkan Ryn dengan hati-hati dan memberikannya ke Rey. Rey pun dengan sigap memegangi bahu Ryn agar Ryn tidak terjatuh. Ia tahu Ryn masih sangat lemas. Lalu, ia menyenderkan Ryn ke tembok dan membiarkan Ryn duduk.

“Psst.. Gue pernah bilang kan, lo jelek kalau nangis,” kata Rey pelan. Bahkan sangat pelan sehingga hanya Ryn yang dapat mendengarnya. Rey pun menghapus air mata Ryn dengan jari jemarinya membuat Ryn tertegun dan merasa seperti De Javu untuk kesekian kalinya.

Entah benar apa bukan, tapi setiap perlakuan Rey ke dia ia merasa pernah mengalaminya.

“Kiara, karena lo sudah nyakitin adik sepupu gue, lo bakal terima akibatnya,” ujar Calvin datar sambil menatap tajam ke arah Kiara. Ryn dan Rey yang tadinya saling tatap langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Calvin.

“Adik sepupu kesayangan lo itu yang sudah bikin gue sakit!” elak Kiara sambil menunjuk-nunjuk Ryn. Spontan Ryn ketakutan dan berlindung di belakangnya Rey. Rey pun menenangkannya. Lalu, ia menatap tajam Kiara.

“Memangnya Ryn salah apa sama lo, Ra?” tanya Azriel. Ia menenangkan Kiara yang sudah di ujung emosinya.

Kiara pun menoleh ke arah Azriel dan menatapnya penuh dengan kekecewaan, amarah, dan penuh.. cinta?

“Ini semua bermula di lo, Az. Gara-gara lo. Gue cemburu. Lo selalu deketin dia, senyum ke dia, ketawa karena dia, ngacak rambutnya dia penuh sayang, dan lo perhatian banget sama dia. Gue sakit ngelihat itu, Az. Sakiit.. Bahkan lo ngebiarin Ryn manggil Iel sedangkan orang lain gak. Kapan sih lo mau nganggap gue itu ada? Gue suka sama lo dari kelas 10. GUE CINTA SAMA LO!” jelas Kiara lirih. Azriel pun terbelalak kaget. Tapi, yang lainnya hanya merespon biasa, mereka tahu kalau Kiara suka sama Azriel sejak lama. Hanya saja Azriel tidak peka dengan perasaan Kiara.

Be My StarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang