PAGI hari mereka dijalani dengan wajah cerah. Keduanya, baik Syamsul dan Raisya memang senang mengawali hari secara bahagia.
Setelah menuntaskan sarapan dan bersiap, pria itu pamit dengan istrinya lantas sudah pergi meninggalkan kediaman mereka.
Lagi-lagi keseharian yang mungkin terlihat membosankan, tapi tidak dengan Syamsul. Ia begitu semangat dan tak sabar memasuki gedung yang mengikat semua mimpi serta hobinya di sini.
Musik yang terdengar dari radio mobil memulai waktunya agar semakin positif. Lagu dari musisi lawas, David Archuleta dengan judul Rainbow, sangat penuh atmosfer di momennya sekarang.
Sambil bersenandung, Syamsul mengarahkan kemudi ke balai tempatnya mengais rezeki. Sesampainya, ia sudah disambut suara energik Thomas.
"Halo, Ilham!"
Mengunci mobilnya melalui remot, Syamsul membalas dengan senyum cerah. "Hai, Thom!"
"Bagaimana sisa harimu kemarin?"
Syamsul tersadar sesuatu, mengingat Raisya alergi dengan pil anti hamil yang dibelinya kemarin lusa, hari ini ia berencana untuk mampir ke apotik sebentar, sebab tentu saja sebagai pria dewasa yang normal, ia tak bisa bersama sang istri tanpa hasrat ingin menyentuh.
Aduh, pemikiran itu malah membuat kepalanya sakau. Syamsul harus segera mengenyahkan kenistaan yang bersemayam.
"Baik," jawabnya serak. Satu hal yang disesalinya adalah gairah sebagai pejantan tangguh. "Kau sendiri bagaimana?"
"Aku masih terbayang-bayang ajakan Alexis kemarin." Thomas tersenyum begitu lebar.
Syamsul sebetulnya keberatan, tapi melihat betapa gigihnya sang sahabat, membuatnya tak tega sekadar menolak. "Ya, jadi mari kita ke kepala departemen."
"Oh, ya, kita bertemu dengan Tuan Wright dan Tuan Hemsworth bersama Alexis, dia sudah menunggu di dalam."
Seketika langkah Syamsul terhenti. "Mengapa dia harus ikut?"
Thomas menaikkan salah satu alisnya. "Kau keberatan, Bung?"
"Kau tahu itu, Thom."
"Tapi Alexis yang memberikan informasi ini pada kita, kurasa tidak etis jika menyelanya dan mengambil kesempatan yang dia ketahui lebih dulu."
Syamsul terdiam sebentar. "Thom, bukan apa-apa, kau tahu aku ini sudah menikah."
Thomas mengangguk. "Kupikir tak masalah, asal kau tidak memasukkannya terlalu dalam di hatimu."
Sekali menghela napas berat, akhirnya langkah mereka dilanjutkan. Benar saja, baru angin dari mesin pembuat menyapa mereka, sudah ada Alexis melambai di tempatnya berdiri.
"Hai, selamat pagi!"
"Pagi," balas Syamsul dan Thomas serentak.
"Ayo, kita segera konfirmasi ini." Sambil berjalan beriringan, Alexis memandu mereka menuju satu ruangan.
Sedangkan Syamsul di posisinya lebih banyak diam. Entahlah sejak kemarin ia merasa minatnya pada gadis itu sudah menurun drastis tidak seperti dulu.
***
"Raisya!"
Seseorang menyeru sekaligus suara bel terdengar nyaring, ia tak perlu bertanya siapa yang bertandang karena tepat ketika pintu rumahnya terbuka, nampak Amelie berdiri di depan pagarnya sambil menenteng sesuatu.
"Hai, Nyonya Amelie, bagaimana harimu sekarang?" Raisya berbasa-basi sambil membukakan akses masuk. Ia mempersilahkan wanita tua itu bertamu.
"Sangat baik. Hari ini aku dan Roger baru saja mengunjungi kafe milik cucu kami." Amelie menyodorkan apa yang dibawanya sedari tadi. "Ini, kami bawakan untukmu."
"Wah, terlihat segar, terima kasih banyak, Nyonya."
"Ya, cobalah, siapa tahu sesuai seleramu dan bisa kau cicipi nanti ketika kau kembali ke Indonesia." Amelie mendudukkan diri.
"Kau mau apa, Nyonya?"
"Ah, aku sudah cukup dengan minuman, alangkah baiknya kau menghidangkan makanan saja."
"Oke, tunggu sebentar." Raisya undur diri, menuju dapur, mengambil beberapa camilan khas Indonesia. Semacam pangsit yang digoreng dan diberi bumbu pedas lalu ia hidangkan di hadapan wanita tua itu.
"Omong-omong cucuku akan ke Amerika dalam waktu dekat. Tadi pagi dia memberi kabar, makanya aku dan Roger mendadak rindu lantas mendatangi kafenya."
"Benarkah?" Raisya mulai menyeruput minuman dingin cokelat dengan krim berbusa di atasnya. Kala cairan pekat itu menjamah lidahnya, ia ingin menangis saking sedapnya. "Astaga ini enak sekali."
Amelie tertawa sebagai respon. "Cucuku memang ahli."
"Ini resep sendiri, Nyonya?"
"Ya, dia bereksperimen kala di studi kemiliterannya dulu."
"Studi militer?"
Kepala berambut putih itu mengangguk. "Cucuku sempat sekolah abdi negara sebelum merintis usaha kafenya ini."
Raisya terdiam, ingatannya menarik ia pada satu kilasan di masa lalu. Entah mengapa cucu Amelie ini memiliki satu latar belakang yang mirip dengan sahabatnya dulu.
Ya, sama-sama mengenyam pendidikan tentara.
"Di mana Tuan Roger?" Masih sambil menyeruput melalui sedotan, Raisya mengerutkan kening.
"Dia sedang ada urusan dulu dengan telepon." Amelie berujar sembari mengunyah pangsit. "Kau beli ini di mana?"
"Aku buat sendiri, Nyonya." Ia tersenyum lembut.
"Kau yakin?"
"Ya, dari Indonesia kami membawa bahan mentahnya, berupa olahan tepung yang dipotong tipis, kami beli di pasar tradisional sekalian bumbunya, kemudian sampai di sini dimasukkan ke dalam kulkas, kalau sewaktu-waktu ingin tinggal goreng dan beri perasa."
"Kalau begitu kau harus membuatkanku yang banyak." Amelie tertawa ringan dan dibalas nada serupa.
Keduanya berbincang mengenai apa saja. Di hadapan Amelie, Raisya seolah melihat ibu kandungnya. Mereka sangat menikmati hari itu, terasa sederhana tapi menyenangkan.
*****
• bertalian •
KAMU SEDANG MEMBACA
Daim
RomanceAdalah Syamsul, menikahi Raisya karena memang cinta, sudah dari masa sekolah ia memendam untuk teman masa kecilnya. Adalah Raisya merasa begitu bahagia ketika perjuangan cintanya bisa menapaki jenjang pernikahan, hidupnya pasti bakal menyenangk...
