Bab Dua Empat

254 10 2
                                        

BERINGSUT Syamsul bangkit dari ranjang, ia menutupi tubuh polos dengan sekadarnya dan berjalan ke dalam kamar mandi.

Sedangkan di atas tempat tidur sana, Raisya meringkuk di bawah selimut, ia menutupi badan tanpa pakaiannya yang kini dihiasi bercak merah begitu banyak. Wanita itu menutup mata, kelelahan, mencoba untuk tidur. Sudah seminggu Syamsul menyetubuhinya tanpa henti.

Kehidupan pernikahan mereka juga mendingin, obsesi suaminya untuk membuat Raisya hamil jelas membangun sekat antara mereka. Seharusnya tidak begini. Komitmen serius atas nama Tuhan bukan melulu soal hubungan badan.

Raisya sampai merasa sakit setiap berjalan, pangkal pahanya ngilu dan setiap ia beres mandi, Syamsul selalu menyentuhnya, lagi dan lagi, secara berulang.

Aktivitas tanpa batas itu jelas mempengaruhi kesehatan fisik dan mental Raisya sekarang, tubuhnya lunglai sudah tanpa tenaga, setiap saat dimasuki dan diisi.

Mengingatnya membuat Raisya geli dan mual, ia memijat kepalanya yang pening, jelas dirinya butuh rehat lantas baru memejamkan mata sesaat, wanita itu sudah terbang ke alam bawah sadar.

Syamsul beres mandi, ia dapati dengkuran halus menghiasi tidur istrinya. Tidak tega sebetulnya, tapi semua perasaan di dada pria itu campur aduk. Cemburu, tresna dan rindu, membuatnya berubah seperti monster mungkin dalam pandangan Raisya.

Sejatinya ia juga tidak menyesal karena tak henti menggagahi istrinya setiap hari sejak waktu seminggu belakangan. Bercinta saat amarah meningkat benar-benar nikmat.

Astaga, baru saja mandi, tubuh bagian bawahnya sudah berkedut lagi. Syamsul mesti menahan, Raisya perlu waktu istirahatnya. Walau apa yang dilakukannya dalam rentang tujuh hari lebih ini termasuk ke dalam penyiksaan, tapi ia jamin kesuksesan akan datang.

Pria itu segera berpakaian dan duduk di tepi ranjang, memperhatikan rupa istrinya, noda hitam menghiasi mata wanita itu, pasti Raisya benar-benar terkapar. Tentu saja, berahi Syamsul perlu diacungkan jempol, tak berkesudahan dan serupa binatang.

Tersenyum kala Raisya menggeliat dalam lelapnya sebab tangan pria itu menyeka rambut ke belakang telinga. Cantik. Satu kata konstan yang menggambarkan betapa sempurnanya sang istri.

Syamsul menunduk, ia membisikkan sesuatu. "Maaf, Rai."

Detik itu juga Raisya membuka matanya. Ia dan Syamsul saling pandang, dalam, intim dan saling berbicara melalui siratan mata.

Kedua tangan putih Raisya terangkat, menangkup wajah tampan suaminya. "Aku juga minta maaf, Mas."

Hening sejenak.

"Maaf udah nuduh kamu selingkuh."

Syamsul berdecak. "Apa yang dilakuin Timo waktu itu?"

Teringat sesuatu, Raisya mencoba bangkit, ia lalu membuka laci samping kasur, memberikan sesuatu pada suaminya. Kalung yang sempat melingkar di lehernya ia lepas dan disimpan kembali.

"Dia ternyata orang yang sama dengan sahabat aku sejak SMA." Raisya menahan sebentar. "Waktu lulus dia bilang mau sekolah militer di Inggris, tapi saat yang sama juga dia udah nggak bisa aku hubungin, bertahun-tahun kemudian kita ketemu lagi, bukan sebagai teman lama yang dulu sering tukar cerita, tapi cuma sebatas tetangga."

Syamsul terbelalak karena kisah istrinya sangat menarik didengar. Bagaimana tidak, dunia begitu sempit membuat pertemuan setiap manusia di dalamnya.

"Dia ngasih aku kalung itu, sebagai tanda menghargainya, aku terima, cuma nggak akan aku pakai karena aku nggak mau kamu salah paham, Mas." Raisya menjelaskan secara perlahan.

Syamsul menilik makin dalam ke pandangan istrinya yang menyendu. "Soal Alexis."

Raisya mendengarkan.

"Waktu dia nelpon pertama kali itu dan aku langsung pergi bukan berarti aku mau nemuin dia, tapi ada teman akrab aku di kantor, namanya Thomas, dia hilang, orang terakhir yang liat dia itu Alexis, otomatis dia ngehubungin aku sebagai ketua, takut terjadi apa-apa." Syamsul tersenyum. "Maaf, aku nggak ada ngasih tahu kamu apapun soal pekerjaan aku."

Kepala wanita itu menggeleng.

"Kedua kalinya dia nelpon waktu kita lagi ada acara itu, Alexis bilang kalau Thomas berduka, adiknya meninggal dunia, maka dari itu setelah sampai di sini aku langsung pergi lagi tanpa ngasih alasan ke kamu."

"Nah, lebih baik jujur 'kan, aku jadinya nggak usah berburuk sangka sama kamu, Mas." Tangan Raisya mengelus rahang suaminya. Tarikan bibir tercipta, membalas mesem dari Syamsul yang tak sirna.

"Once again, I'm so sorry, Rai." Syamsul mencium dalam kening istrinya. "Mandi?"

Raisya terkekeh, ia menarik pelan kerah kemeja suaminya, bibir merah wanita itu melumat milik Syamsul sekejap lalu berbisik seksi. "Can we do it again? This time please do slowly and be romantic person, also gentleman, Daddy!"

Syamsul kepanasan cuma karena kalimat Raisya, ia langsung menempelkan bibir mereka lagi. Seperti permintaan sang istri, kali ini lebih lembut dan syahdu.

Mereka mengulang pergumulan dengan perasaan. Hal tersebut membuat Raisya makin mabuk kepayang di tengah kegiatan panas mereka.

Waktu terus bergulir, tapi keduanya tak mengindahkan, saling memanja, meraba, menyesap dan menyusup, mencari kehangatan dari masing-masing panas tubuh yang menguar melalui pori kulit.

Syamsul meremas payudara Raisya yang terasa makin padat dari sebelumnya. Mungkin karena aktivitas seks mereka membuat perubahan signifikan pada beberapa titik tubuh istrinya. Tak dipungkiri, hal itu tentu menambah gairah dan semakin memantik api erotisme dalam diri mereka.

Lidah pria itu menyapu tiap jejak kulit tengkuk istrinya yang putih. Raisya memejam, merasakan kecupan basah di sekitar leher dan pijatan lembut dari bagian dadanya.

"You're so sexy!" Puji Syamsul, ia tersenyum ketika wanitanya mengerang, kedua jemarinya mengacak rambut setengah basah sang pria.

"Aku nggak perlu pemanasan!" Raisya merengek. Lagipula ia sudah diklaim setiap waktu, untuk apa Syamsul mengulang momen mereka seolah sekarang pertama kalinya mereka berhubungan.

"No!" Kepala Syamsul menggeleng. "Kamu bilang harus slowly, romantic and gentle, jadi nikmatin aja."

"Mas!" Wanita itu menggerutu, belum sempat menyuarakan ketidaksetujuannya, kedua belah bibirnya ditutup rapat dengan yang lain.

Syamsul mencium dalam, miliknya yang tebal mengisap habis dua belah istrinya yang kecil. Decapan basah terdengar berkecipak, peraduan lidah di dalam rongga mulut terasa mengawangkan keduanya ke surgaloka.

Raisya mendesah senang, kedua tangannya membuka kancing kemeja Syamsul secara perlahan, jemarinya menari ketika dada polos suaminya terasa, ia mengelus, menggoda hingga sang suami merutuk di tengah perhelatan bibir mereka.

"Jangan buat aku nggak keren dan melakukannya kayak anak remaja." Syamsul cemberut. "Satu lagi, jangan makin goda aku, di sini yang harus digoda itu kamu, Rai!"

Raisya terkekeh geli, ia menerima cumbuan suaminya lagi, kali ini mereka benar-benar bersanggama penuh penghayatan, dua tubuh beda warna kulit itu menempel, lengket dalam artian kiasan dan harfiah.

Keduanya, baik Syamsul dan Raisya menghalangi keadaan luar mengganggu kegiatan mereka yang khidmat. Seolah dunia milik berdua, lebih-lebih napas panas serta desahan melambung, bersatu di langit kamar sebagai saksi ke sekian setelah ranjang atas peraduan dua badan yang memabukkan.

Syamsul sudah bergerak, kejantanannya bersarang nyaman di lorong licin tersebut. Kedua tangannya menahan tubuh di sisi kepala Raisya, mata pria itu tidak lepas memandang wanitanya yang tak henti bersuara.

Salah satu tangan Raisya mengalung, sedang satu lagi mengelus milik suaminya yang tertahan kokoh. Wanita itu berguncang teratur, seiring sentakan dari suaminya. Dua dadanya mengayun indah, mengundang Syamsul mendekat dan mencabulinya.

"Aku sayang kamu, Rai." Syamsul berujar pelan, gerakannya masih bertahan, menelusuri semakin dalam jejak-jejak keberadaannya sejak seminggu belakang.

Raisya tersenyum, sambil berdesis, berusaha menguasai akal sehatnya yang melayang. "Aku sayang kamu, Mas."

Lantas keduanya saling bergumul, membiarkan dua sel beda jenis banyak melakukan pertemuan hingga mereka bersepakat menciptakan satu gumpalan yang ditunggu keduanya.

Janin.

*****
• bertalian •

DaimTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang