Cuilan Daim

172 7 2
                                        

WAJAHNYA merengut kesal, ia langsung membuang muka saking tak sudinya menatap pada sang suami yang sudah menolak keinginannya tanpa menunjukkan usaha barang secuil pun.

Syamsul yang melihat Raisya merajuk cuma bisa menghela napas. Ia perhatikan tubuh istrinya yang membelakangi dengan posisi menyilangkan kedua tangan, kalau orang melihatnya dari depan sudah bisa dipastikan wanita hamil itu sedang dirundung rasa sebal. Terlihat nyata dari bibirnya yang mengerucut.

"Aku mau mewujudkan keinginan kamu kalau itu jelas."

"Terus menurut Mas itu enggak jelas?" Raisya menyipit. "Itu keinginan bayi kamu, Mas, bukan aku."

"Bayi kita." Syamsul mengoreksi. Ia kembali menghirup napas, mencoba menjadi seorang kepala keluarga yang menyelesaikan masalah dengan tenang.

Kembali, istrinya merengek. "Pengin, Mas, aku pengin!"

"Rai, Manhattan ke Nevada itu butuh waktu sampai lebih dari lima jam, dan kamu pengin kita ke sana hanya untuk cobain empanadas?" Syamsul menggeleng. "Kamu tahu 'kan empanadas itu apa?"

Raisya mengangguk-anggukkan kepala dengan wajah lucu. "Kayak pastel tapi isinya banyak varian, Mas, di Indonesia cuma ada bihun atau sayur, jadi aku penasaran pengin coba."

"Kalau di Empanadas Factory itu enggak halal, Rai."

"Mas tau dari mana?" Matanya memicing. "Bukan alasan Mas untuk menolak keinginan aku, kan?"

Syamsul langsung memasang wajah lelah. Usia kehamilan istrinya sudah menginjak lima bulan, selama itu pula kesabarannya sebagai seorang suami diuji dengan tingkah-tingkah tidak masuk akal dari Raisya yang beralasan kalau itu adalah ulah sang cabang bayi.

"Jelas ada menu Bacon Cheese Burger."

"Bisa jadi beef bacon."

Pria itu mengurut dada. "Aku bisa bikinin kalau kamu mau."

"Enggak! Aku mau yang asli Amerika, Mas!" Raisya kukuh pada pendirian.

"Oke!" Syamsul sudah di ambang batas. "Jika kamu memang keras kepala mau coba dan kamu ragu cita rasa yang aku bikin enggak otentik seperti Empanadas Factory, aku bakal minta Nyonya Amelie untuk bikinin."

Setelah berkata demikian, Syamsul langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Raisya yang segera dihantam rasa bersalah.

Sambil mengelus perutnya, Raisya berbicara sendiri.

"Dek, kasihan Papa, kita udahan yuk ngerjain Papanya."

***

Syamsul yang baru sampai dan selesai memarkirkan mobil segera beranjak masuk ke dalam rumah. Ia perhatikan seisi kediamannya nampak hening dan kosong.

Sejujurnya tadi pagi Syamsul tidak mau dibutakan amarah dan menjadikan Raisya sebagai samsak. Mengingat istrinya juga tengah mengandung. Ia tidak mau salah kata atau perbuatan yang berakibat fatal terhadap tumbuh kembang calon bayi mereka.

Tapi Syamsul juga sebetulnya sudah tidak kuat menghadapi hormon kehamilan istrinya yang semakin hari semakin tidak jelas. Kadang-kadang menangis, kemudian tertawa. Maaf kata, istrinya sudah seperti orang gila.

DaimTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang