2. Guntur

13.7K 1.6K 36
                                        

"Tumben lo belom berangkat ngampus?" Hasmi menggeser kursinya ke meja Tia. Karena ruangan kerja CSA (Customer Service Administration) di kantor mereka didesain tanpa sekat, hanya meja kerjanya saja yang dipisah dengan bilik. Oleh karena itu jadilah Tia, Hasmi, dan rekan kerja mereka yang lain sering mampir-mampir antar meja pakai kursi kerja mereka yang dibagian kakinya emang ada rodanya. Jadi kalau mau pindah tempat ya tinggal geser kaki aja gak perlu jalan.

"Tadi di line katanya dateng telat dosennya, Kak. Paling ntar ngumpulin tugas doang," jawab Tia sambil mengambil pocky rasa cokelat di mejanya yang tadi dibelinya pas jam istirahat kantor. "Lu kalau mau ambil aja ya, Kak," tawarnya pada Hasmi.

Hasmi mengangguk kemudian ikut melihat layar komputer Tia. "Ngapain anjir lo ngeliatin gituan? Ngebet banget?"

 "Ngapain anjir lo ngeliatin gituan? Ngebet banget?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Hahaha kagak. Iseng aja buat estimasi dana. Kalau tahun sekarang aja udah segitu, pas gue nikah nanti udah naik lagi pasti biayanya. Duh Gustii, jodohin hamba sama CEO please."

Hasmi menoyor kepala Tia dengan jari telunjuknya. "Lo kalau mau cari paket nikah yang standar-standar aja bege. Itu mah habis buat honeymoon doang."

"Iya lah. Ini gue iseng doang tadi nongol di eksplore instagram gue. Lagian, nikah sebenernya murah kalau yang dicari 'sah'nya. Tapi kan orang-orang mah kebanyakan yang dicari 'wah'nya."

"Nah itu!" Hasmi menyetujui pendapat Tia. "Ya gimana tapi udah membudaya sih. Kalau nikahnya gak pake resepsi, disangka udah isi duluan. Padahal kan gak semuanya begitu."

Tia mengangguk-angguk, "Lo sendiri rencana married nanti gimana, Kak?" tanyanya iseng. Dibandingkan dengan Lasa dan Rasti yang seumuran dengan Tia, Hasmi memang sudah lebih tua dua tahun dari ketiganya. Kalau Rasti dan Lasa adalah teman satu sekolah Tia, perkenalan dengan Hasmi adalah karena mereka pernah mengidolakan satu orang yang sama. Ketemuan sekali, eh ternyata nyambung obrolannya. Terus ya udah deh akhirnya jadi sahabatan sampe sekarang. Tia masuk ke kantor yang sekarang ini juga karena Hasmi yang dulu merekomendasikannya.

"Gak tahu gue belom ada bayangan sih haha. Kalau mau yang murah meriah mah gampang. MUA sama hair do biar si Rasti aja kan dia jago dandan tuh. Photographer weddingnya ya lo aja sama bokap lo yang jago foto. Terus dekorasi tempatnya suruh Lasa. Mantap kan?"

"Memanfaatkan teman banget lo ya, Kak?"

Hasmi mengangguk semangat. "Oh ya jelas doong! Cari temen itu yang banyak manfaatnya, bukan yang banyak mukanya."

"AIH SHEDAP!"

"Ehh dek Tia hari ini gak kuliah?" Secara otomatis Tia dan Hasmi menoleh ke asal suara itu. Begitu melihat siapa yang berbicara Hasmi langsung mengulum bibirnya untuk menahan agar tawanya tidak menyembur, sedangkan Tia sudah melempar pandangan tajam ke arah Hasmi.

"Gak ada jadwal ya dek?" Aduh, please! Asli! Tia gedek banget dipanggil 'adek' sama cowok yang sekarang menumpukan wajahnya di atas bilik meja Tia. Kapan coba Tia diangkat jadi adeknya? Mana masang tampang sok imut pula.

"Nanti sebentar lagi juga berangkat kok, Pak," jawab Tia ala kadarnya ditambah dengan sedikit senyum formalitas. Sebenernya sih lelaki di depannya yang bernama Pak Guntur itu gak tua-tua banget, baru tiga puluh tahunan dan secara tampang juga masih masuk kategori hot papa atau om-om versi wattpad sih. Kalau mau disamain ama artis indo yaa kayak Dion Wiyoko deh. Tapi versi lebih belo, lebih berisi sama lebih gelap dikit kulitnya. Secara fisik emang cukup oke lah, masalahnya kelakuannya itu loh, sikap ganjen dan tukang pamernya itu yang bikin Tia ilfeel setengah mati. Bukan Tia doang sih sebenernya.

"Ya ampun Dek Tia, kan udah saya bilang panggil saya Mas Igun aja."

Ivan Gunawan kalee ahh!!
"Udah biasa Pak Guntur, Pak. Biar lebih sopan."

"Tapi kan saya maunya biar lebih akrab."

Kalau aja gak demi sebuah etika, Tia pasti udah mutar bola matanya di hadapan pria itu. Diliriknya Hasmi yang sudah menyembunyikan wajahnya dengan menunduk sambil mengotak-atik ponselnya. Tia tahu pasti Hasmi lagi ngadu ke grup mereka, atau gak malah ngirim vn langsung gombalan Pak Guntur tadi ke grup.

"Berangkat naik apa, dek? Bareng sama Mas aja yuk? Sekalian jajal mobil baru Mas. Yang lama AC nya udah gak dingin sih jadi Mas ganti aja mobilnya sekalian."

Astaghfirullah! Yang rusak AC-nya, yang diganti mobilnya. Bener-bener banget ini orang. Mungkin kalau pala dia sakit, palanya juga yang diganti. "Enggak, Pak. Makasih. Saya udah pesen Ojek-Zone kok." Bohong sih, sebenernya Tia belum pesen. Orang dia masih asik numpang buka instagram di komputer kantornya. Abis kalau dari hape sayang kuota.

"Yah sayang banget. Kapan-kapan kita pergi bareng ya?"

"Ya, Pak." Di-iya-in aja udah biar cepet. Tia udah males banget lihat Pak Guntur lama-lama.

"Ya udah, Mas balik duluan ya. Kamu hati-hati. Semangat ya kuliahnya."

Tia hanya menanggapinya dengan senyum formal yang ia paksakan setengah mati. Setelah Pak Guntur keluar dari ruangannya, barulah terdengar tawa yang sialnya bukan hanya berasal dari mulut Hasmi tapi juga dari rekan-rekan kerjanya yang lain.

"Mas Iguuunnn," goda Mbak Leoni sambil menggerak-gerakkan pundaknya maju-mundur secara bergantian.

"Jijay banget deh. Sok-sokan mau kayak webtoon Pasutri Gaje kali tuh dia manggilnya mas sama adek. Jangan mau Tia sama dia," timpal Rizki yang kalau malam jadi Rizka. Alias macho-macho melambai gitu.

"Terus yang mau sama dia siapa? Elo ya, Ki?" tanya Hasmi.

"Boleh sih, ntar gue porotin doang tapi duitnya buat oplas ke Thailand. Balik dari Thailand kan gue udah cantik tuh, nah gue tinggal deh."

"Ya dia juga cari yang lain lah, Ki. Kan dia cakep."

"Cowok cakep tapi kalau isi instagramnya selfie muka mesum sama foto-foto harta miliknya sih orang juga bakal mikir berkali-kali. Gue yang setengah-setengah aja ogah."

Tia hanya bisa geleng-geleng kepala sambil ketawa. Malu tapi juga ngakak sih kalau rekan-rekannya udah mulai ngomongin Pak Guntur. Ya, salah Pak Guntur sendiri sih jadi orang gosip-able.

***

To be continue
9 Maret 2017

OJEK-ZONETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang