15. Ada apa dengan Guntur?

8.2K 1.3K 16
                                        

"Ini pacarnya Tia ya?"

Aduh! Bu Laras pakai nanya kayak gitu lagi, desis Tia dalam hati. Tia bingung gimana harus menjawabnya. Kalau dia terang-terangan bilang bukan, takut melukai perasaan Tio. Tapi kalau dia diam saja, nanti disangka mengiyakan dan memberi harapan palsu untuk Tio. Mereka kan memang gak ada status apa-apa untuk saat ini.

"Bukan, saya temannya Tia." Seolah mengerti Tia yang terlalu lama berpikir untuk menjawab pertanyaan sederhana itu, Tio memutuskan mengambil alih untuk menjawab.

"TTD ya? Temen Tapi Demen?" Kali ini Panji yang angkat suara seolah tak mau ketinggalan untuk menggoda Tia. Aduh mimpi apa Tia semalem sampai bisa ketemu para atasannya ini pas-pasan banget lagi jalan berdua sama Tio.

"Guntur diem aja lo, kaget ya ketemu saingan?" Panji menyenggol siku Guntur usil. Guntur yang lagi melihat-lihat buku menu pun hanya menyunggingkan sedikit senyumnya.

Diam-diam Tia melirik ke arah Guntur. Sejak Guntur yang ngasih Tia cemilan itu  udah lama banget Guntur gak pernah ngegodain Tia lagi. Boro-boro ngegodain, ketemu tatap muka aja jarang. Tia merasa tentram dan damai sih di kantor karena gak perlu ngeladenin mulut-mulut jahil yang biasa godain dia, tapi rasa penasaran juga tak bisa Tia pungkiri. Apa Guntur sedang menjalin hubungan dengan orang lain?

"Oi, Guntur, diem aja dah lu. Disilent?" Panji masih tetap memancing Guntur untuk bicara.

"Flight mode," jawab Guntur singkat. Ia kemudian mengangkat sebelah tangannya untuk memanggil pelayan. "Gue mau mesen, kalian pesan sekarang ga?" tanya Guntur.

Entah hanya perasaan Tia saja yang terlalu sensitif atau bagaimana, Guntur terlihat seperti enggan untuk menatap wajah Tia.

"Gue mau spicy beef ramen deh, Gun. Minumnya ice coffee yaa," pesan Laras. Ia kemudian mengalihkan kembali pandangannya pada Tio. Membiarkan giliran Panji yang memesan makan. "Eh kita belom kenalan ya? Namamu siapa?" Laras mengulurkan tangannya untuk menyalami Tio, dan Tio pun menyambutnya dengan sopan.

"Tio, Mbak," ujarnya memperkenalkan diri.

"Ih, lucu. Tia sama Tio kayak kembar. Jodoh nih jangan-jangan hahaha." Tia dan Tio hanya tersenyum canggung menanggapinya.

"Habis ada rapat, Bu?" Tia mencoba mengganti topik, gak enak juga sama Guntur yang daritadi diam aja.

"Engga. Iseng aja abis ikut Guntur nengokin panti asuhannya."

Pak Guntur punya panti asuhan? tanya Tia dalam hati. Dia pikir Guntur bukan tipikal orang yang berjiwa sosial. Secara tiap hari kelakuannya kalau gak pamer harta, ya godain Tia. Udah gitu isi sosmednya juga ya cuma foto selfie sama foto-foto kendaraan bermotor miliknya. Even akhir-akhir ini Guntur udah gak pernah aneh-aneh sih di kantor, tempo hari di grup kantor juga sempet heboh gara-gara instagram Guntur deactive dan akun linenya ganti.

"Pak Guntur punya panti asuhan?" Tia benar-benar bertanya pada Guntur namun yang menjawabnya justru malah Panji.

"Kirain kamu dia punyanya panti pijat 'plus-plus' ya?"

"Yakali dah, enggak kok, Pak," jawab Tia sambil ketawa-tawa.

"Saya isya dulu." Guntur tiba-tiba bangkit dan berpamitan. Gak bisa dibilang pamitan juga sih orang dia ngomongnya sambil ngeloyor.

Panji melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan jam 9 malam rupanya dan mereka memang belum sempat menunaikan sholat isya karena perjalanan yang panjang dan macet. Ia pun juga begegas untuk menunaikan ibadah wajibnya. "Saya juga nyusul Guntur ya. Tio, kamu juga sholat gak?" tanyanya dan Tio pun mengangguk mengiyakan. Sementara Tia dan Laras menunggu di restaurant saja. Kebetulan Tia juga sedang halangan sedangkan Laras non muslim.

"Tiaa. Tio beneran bukan pacar kamu? Ih gak apa loh kalau pacaran juga gak usah malu-malu gitu." Laras membuka obrolan selepas ketiga pria itu pergi. Cewek kalau gak gossip rasanya mulut gatel.

"Hahaha bukan, Bu. Masih temenan aja."

"Ohh masih temenan... berarti akan ada jenjang-jenjang selanjutnya yaa? Hahaha."

"Ah Ibu bisa saja." Tia tersenyum simpul. Dia belum kepikiran sampai kesitu sih. "Bu, itu Pak Guntur beneran?" tanya Tia kemudian. Dia masih penasaran sama hal itu.

"Apa? Panti asuhan?" tanya Laras dan Tia mengangguk. "Iya, bener. Bukan di Jakarta tapi tempatnya di daerah Pandeglang. Ada pondok pesantren juga."

"Punya Pak Guntur?"

"Iya, dia yang bangun. Bareng sama sahabatnya sih dulu tapi sahabatnya itu udah meninggal karena sakit setahun yang lalu."

Ini Tia beneran kaget. Dia gak nyangka seorang Guntur bisa membangun semua itu. Dia pikir Guntur tipe orang yang hanya memikirkan dunia semata.

"Tia, kamu ngerasa gak sih Guntur akhir-akhir ini tuh berubah drastis?" tanya Laras dan dengan hati-hati Tia mengiyakan. Tia pikir cuma dia yang merasa Guntur berubah. Ternyata sampai ke Laras juga.

"Percaya gak kamu kalau saya bilang sifat asli Guntur itu justru adalah yang dia tampakkan akhir-akhir ini?"

Hah?!!

***

To be continue

OJEK-ZONETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang