Tale Fourteen
"Hiduplah seolah-olah setiap hari adalah hari terakhirmu. Maka kamu akan menghargai setiap waktu yang tersisa dalam hidup."
–49 Days–
Samudera membawa Ayya menjauh dari taman yang sudah tidak aman lagi untuk mereka. Kalau bukan karena menunggu ingatan Ayya kembali, terkadang Samudera enggan untuk pergi ke sana. Tempat itu tidak baik saat malam hari.
Ayya terus-terusan memandangi Samudera; takut cowok itu pergi atau menghilang dari hadapannya karena dia sudah memperlakukan Samudera dengan sangat buruk. Bahkan saat Samudera bersikap sangat baik dengan menolong dan sebagainya, dia tetap memperlakukan Samudera dengan sangat buruknya
Di sampingnya Samudera tersenyum sangat lebar. "Ayolah, jangan pasang muka kayak gitu. Aku nggak bakalan pergi, kok. Kamunya aja megang tangan aku erat begini," tunjuknya, mengangkat tangan yang digenggam oleh Ayya dengan eratnya.
Cewek itu berubah jauh dengan biasanya. Jika biasanya Ayya selalu memaki Samudera dan mengusirnya, Ayya malah terus menempel pada Samudera. Cowok itu sama sekali tidak keberatan, dia senang-senang saja, kapan lagi dia bisa merasakan kehangatan ini lagi.
"Kita di mana?" tanya Ayya, baru tersadar kalau mereka bukan lagi di taman. Ahh saking fokusnya melihat wajah Samudera, pikiran Ayya jadi kacau balau.
Samudera tersenyum. Tak memungkiri kalau dia juga sangat senang ingatan Ayya tentang dirinya kembali. Rasanya sunggun menakjubkan sekaligus, sedikit menyakitkan.
"Di apartemenku. Ini sudah malam. Aku juga udah telepon ayah ibu kamu, mereka nggak keberatan."
Ayya mencebik. "Nanti kita dikira ada apa-apa lagi. Nggak ada tempat lain apa."
Dengan polosnya Samudera menggelengkan kepalanya. "Nggak, memangnya kamu pikir ada tempat yang aman buka tengah malam?"
Ayya hanya nyengir, tak heran juga saat Samudera bilang kalau orangtuanya mengizinkannya nginap di apartemen Samudera. Setahunya selama Samudera sangat dekat dengan ayah dan ibunya, bahkan dulu mereka lebih perhatian sama Samudera dibandingkan pada dirinya yang notabenenya adalah anak kandung mereka.
Namun yang diherankannya, jika memang selama ini Samudera dan orangtuanya saling berhubungan lantas kenapa mereka tidak langsung katakan saja kalau Samudera itu teman baiknya. Bukannya merahasiakannya.
"Ya udah deh," kata Ayya pada akhirnya. "Ehh, tapi sejak kapan kamu tinggal di apartemen? Om Henry sama Tante Hania gimana? Mereka nggak marah gitu waktu kamu pindah gitu aja ke sini."
Samudera memberikan secangkir susu cokelat instan yang disediakan oleh Dino dan bu Fatma. "Dua taun yang lalu, Papa nggak keberatan. Tapi Mama pesan buat selalu makan."
Ayya mengangguk mengerti. "Oh, bagus deh. Tapi, Sam, kenapa kamu nggak ngasih tau aja dari awal kalau kamu sahabatku, aku 'kan jadinya nggak bakalan salah paham."
Cowok itu duduk di samping Ayya sambil tersenyum separo. "Kamu pasti bakalan nggak percaya kalau aku bilang langsung sama kamu kalau kita sahabatan. Waktu aku nanya kamu ingat aku nggak kamu malah bilang kalau aku dulu sering ngebully kamu."
"Ya ... itu 'kan karena aku nggak tau apa-apa. Coba kalau lebih jelasin kalau kamu sahabatmu. Nggak bakalan gitu juga." Ayya benar-benar malu saat ini, padahal biasanya dulu dia sering blak-blakkan mengenai perasaannya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
If I Could
Novela JuvenilAyya adalah siswa baru di SMA Century, sekolah yang paling dibenci oleh Ayya karena di sana dia selalu dibully oleh semua orang. Dan yang lebih parah lagi adalah Samudera, cowok aneh yang selalu mengikuti Ayya membuat cewek itu kesal setengah mati...
