Tale Twenty Six
"Biarkan aku hidup untuk satu hari lagi."
–Samudera–
Citra mengerjap saat Samudera menatapnya dengan mata sayunya—yang malah mengingatkannya pada Nita sebelum wanita itu menutup matanya. Dia ingin ke luar tapi entah mengapa segala niatannya hilang dan malah kembali beranjak menghampiri Samudera.
"Apa?" sewotnya, entah mengapa tidak bisa bersikap sopan. "Lo mau panggilin dokter?"
Samudera tersenyum kecil, kepalanya menggeleng walau dengan susah payah. "Lo di sini nengok gue?"
Citra memutar bola matanya. "Gue ini lagi sedih. Saat gue liat lo yang lagi menderita banget kayak gini mendadak mood gue jadi makin baik."
Samudera tidak menggubris perkataan Citra, dia malah memejamkan matanya sesaat sebelum berbicara. "Gue ketemu sama kakak lo," gumamnya pelan.
Citra tertegun. Bagaimana bisa mereka bertemu.
"Dia bilang sama gue kalau dia pengen liat lo berubah."
Citra tersenyum miris. "Jangan ngaco deh lo, emangnya gue bakal percaya gitu aja! Ngomong aja kalau lo nggak mau gue hina."
"Dia nyuruh lo buat nggak berpura-pura lagi. Jangan nutupin kesedihan lo, kalau mau nangis ya nangis aja, kalau ketawa ketawa aja. Jangan nyiksa diri lo sendiri kalau akhirnya lo bakal nyiksa diri lo sendiri. Jangan ketus juga sama yang lainnya, dia nggak suka lo jadi orang yang songong. Dia pengen lo jadi anak yang baik, yang bisa buat bahagia ayah-ibu, atau orang-orang disekitar."
Meski wajahnya datar tapi air matanya mengalir begitu saja, yang dikatakan Samudera sama percis seperti yang dikatakan Kakaknya sebelum meninggal.
"Lo beneran ketemu sama kakak gue?"
"Dia cantik banget pake gaun putih, gue kirain bidadari yang nyasar ke mimpi gue," kekehnya.
Citra terdiam, kini dia tahu kenapa ada banyak orang yang suka sama Samudera. Cowok itu masih bisa tersenyum walau keadaannya sangat menyedihkan, Samudera masih bisa menghibur orang lain meski keadaannya sendiri sangat memprihatinkan. Dan Samudera tetap menolong orang-orang meski dirinya sendiri sangat membutuhkan pertolongan.
"Lo mau bantu gue nggak? Seenggaknya lo harus bales jasa gue yang udah nyampein pesan kakak lo. Katanya lo aja yang bayar."
Mau tak mau Citra tersenyum juga. "Emangnya lo mau gue bantu apa? Manggil dokter? Makan? Atau nyuruh trio cucunguk masuk?"
Samudera menggelengkan kepalanya. Dia menarik sesuatu dari bawah bantalnya dan memberikannya pada Citra, kemudian dia menyuruh Citra untuk mengambil ponselnya karena dia mau Citra melakukan sesuatu dengan ponselnya.
"Ribet banget ya permintaan lo," omel Citra kesal.
"Ka—lau ngg—ak ribet bu—kan gue."
Samudera batuk-batuk, Citra terkejut melihat darah dari mulut Samudera. Buru-buru dia memanggil dokter, namun Samudera memegang tangannya. Dengan wajahnya yang tidak karuan dia berbisik.
"To—long, katakan pada Papa-mama, gu—e sayang banget sama mereka. Sama sahabat gue juga, jangan nyerah gitu aja sa—ma mim—pi mereka. Dan tolong bilang sama Ayya, kalau gue—uhuk .." Samudera terengah, lagi-lagi batuknya mengeluarkan darah. "Kalau gue mutusin dia. Jangan terlalu mikirin gue."
Citra tidak mau lagi mendengar ucapan Samudera, cewek itu melepaskan tangan Samudera secara paksa dan berlari keluar.
Samudera tersenyum menatap langit-langit yang bewarna putih. "Aku ... Bahagia, aku sangat bahagia semua doa-doaku terkabul ..."
KAMU SEDANG MEMBACA
If I Could
Teen FictionAyya adalah siswa baru di SMA Century, sekolah yang paling dibenci oleh Ayya karena di sana dia selalu dibully oleh semua orang. Dan yang lebih parah lagi adalah Samudera, cowok aneh yang selalu mengikuti Ayya membuat cewek itu kesal setengah mati...
