11:00 KST
"24 jam yang mengubah segalanya"
.
.
.
Gadis itu tersenyum melihat hasil masakannya –sejujurnya ia hanya membantu sedikit-. Tidak mewah namun dari baunya terasa nikmat, terlebih menu daging rusa yang ternyata sudah dimasak sebelum ia terbangun tadi. Hanya daging rusa rebus dengan bumbu yang sederhana. Ia tak pernah memakan daging rusa sebelumnya, tapi kata Youngja itu sangatlah lezat. Mereka pun menyajikan makanan-makanan itu ke dipan kayu depan rumah.
"Bangunkan suamimu!" ucap Youngja.
Jiyeon sedikit kikuk mendengarnya namun dengan segera ia berjalan masuk ke kamar yang sebelumnya ia tempati, matanya melihat Jimin masih terlelap dengan nyaman, sepertinya lelaki itu benar-benar kelelahan.
Ia melangkahkan kaki lalu terduduk di tepi ranjang, matanya menatap sosok itu kemudian terkekeh pelan. Wajah lelaki itu tampak polos dan sungguh menggemaskan, namun tiba-tiba Jiyeon menggelengkan kepalanya saat sadar ia baru saja memikirkan sesuatu yang ia anggap aneh. Polos dan menggemaskan? Mengapa dia harus berpikir seperti itu? Dia 'kan benci dengan grupnya!
Jiyeon menarik napas pelan, lalu menepuk lengan lelaki itu, "Park Jimin, bangunlah!"
Lelaki itu hanya menggumam dan mengganti posisi tidurnya membuat Jiyeon berdecak kesal.
"JIMIN BANGUN!"
Jimin mengabaikan teriakan itu masih mencari posisi nyaman untuk tidur kembali, hingga dengan gerakan cepat Jiyeon mencubit perut lelaki itu membuat Jimin sontak terbangun.
"Apa yang kau lakukan?" gerutu Jimin.
"Membangunkanmu!" jawabnya polos.
"Apa mencubit dengan keras itu cara membangunkan dengan baik, aku bahkan tadi membangunkanmu dengan lembut!" Jimin berdesis, namun gadis itu tak merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan.
"Kalau tidak begitu, kapan kau akan bangun? Sedari tadi aku sudah bersikap lembut."
"Gadis ini benar-benar pintar membuatku naik darah."
Jiyeon tak menjawab tapi menatap Jimin dengan jail.
"Mwo?"
Jiyeon melingkarkan tangannya pada lengan Jimin membuat lelaki itu mengernyit heran, 'apa gadis ini tak waras?'
"Ayo kita makan suamiku!"
Jimin bergidik lalu melepaskan tangan Jiyeon darinya, "Menjijikan!"
Jiyeon malah tertawa melihat ekspresi Jimin, "Waktunya makan siang! Aku tahu kau lapar. Ayo!"
.
.
.
Jimin tampak takjub, ia sangat merindukan makanan semacam ini. Makanan yang terkesan rumahan, akhir-akhir ini ia lebih sering makan sesuatu yang dipesan karena jadwal yang sangat padat.
"Istrimu banyak membantuku memasak tadi!" ujar Youngja.
"Kau sangat beruntung memiliki istri sepertinya," Kiwoo menambahkan dan ucapan kedua pasangan suami istri itu membuat mereka berdua hanya bisa tersenyum canggung.
"Makanlah yang banyak!" Youngja mempersilahkan.
Jiyeon dan Jimin tiba-tiba saja menutup mata sembari menautkan tangan berdoa, apa yang mereka lakukan membuat kedua orang tua itu tersenyum walaupun sebenarnya mereka tak sadar memiliki kebiasaan yang sama.
"Selamat makan!" ujar mereka kompak sesaat setelah membuka.
Mereka mulai menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya, "Ini benar-benar sangat lezat," ucap Jimin dengan mata yang berbinar bahagia.
"Siapa dulu yang masak?" Jiyeon tampak membanggakan diri membuat Jimin berdecih.
"Aku yakin 100% bukan kau yang memasaknya," ucapan Jimin membuat Jiyeon mencebik kesal.
"Aku sudah belajar membuatnya, nanti aku pasti bisa memasaknya! Lihat saja nanti!"
Youngja tersenyum, "Lain kali kau harus memasaknya untuk suamimu! Kau sudah belajar dengan baik hari ini!"
Jiyeon dan Jimin hanya tersenyum canggung.
"Ne! Aku akan membuatkannya lain kali!" ia menoleh ke arah Jimin, "Dan kau harus mencari daging rusanya untukku!"
Jimin hanya mengangguk pasrah melanjutkan makanannya, lagipula gadis itu tak akan memasakkannya nanti dan ia tak perlu mencari daging rusa, mereka 'kan bukan suami istri.
.
.
.
Kaki itu melangkah keluar dari mobil dan ia kemudian berjalan dengan tegas tak mempedulikan puluhan reporter yang ternyata menunggu di gedung agensy musik itu. Ia memasuki gedung itu dengan mudah karena pengawalan ketat dari bawahannya dan tentu saja petugas keamanan gedung yang langsung mempersilahkannya masuk.
Ia masih berjalan hingga lelaki berperawakan gemuk serta beberapa orang staff di samping lelaki itu menghentikan langkahnya.
"Saya sudah tahu bahwa Anda akan datang ke tempat ini, Sajang-nim!"
Lelaki itu mengangguk, "Ada beberapa yang perlu kita bicarakan tentunya, Bang Sihyuk PD-nim!"
"Silahkan ke ruangan saya."
Mereka pun berjalan bersama ke sana.
"Kami tahu Anda ingin menanyakan perihal hubungan Jimin dan anak Anda, serta mendiskusikan klarifikasi yang harus kita lakukan," ujar Bang Sihyuk setelah mereka duduk.
Lelaki itu menggeleng, "Ini bukan masalah klarifikasi! Ini tentang keselamatan anak saya. Anak saya diculik dan sa-"
"Saya yakin Jimin tidak menculik anak Anda."
"Bukan lelaki bernama Park Jimin itu yang menculiknya! Orang lain yang menculiknya dan sepertinya Jimin berusaha menyelamatkan anak saya. Bawahan saya mendapatkan CCTV peristiwa yang terjadi di jembatan itu."
Bang PD-nim membulatkan matanya, "Apa maksud Anda?"
Lelaki itu menghela napas gusar, "Kemungkinan mereka dalam bahaya."
To Be Continue
A/N : 24 Hours sekarang di rank #24 dalam kategori adventure. Angka yang cantik 'kan?
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK!
KAMU SEDANG MEMBACA
24 Hours ✅
Fanfiction[ROMANCE ADVENTURE FANFICTION] Park Jimin, seorang idol dari grup papan atas BTS tanpa sengaja bertemu dengan Kim Jiyeon, antifans dari grup yang ia naungi. Dua sosok yang tentunya saling bertolak belakang. Satu sosok dibenci dan satu sosok membenci...
