20:00 KST

2K 381 105
                                        


20:00 KST

"24 jam yang mengubah segalanya"

.

.

.

Gadis itu masih terbatuk memegangi lehernya yang sakit dan dadanya yang terasa sesak, ia mencoba mengatur napasnya dan perlahan ia menolehkan kepalanya menatap Jimin. Matanya membulat melihat lelaki itu nampak tak sadarkan, Jiyeon beranjak berdiri dan tergesa-gesa mendekati Jimin. Ia segera memangku kepala Jimin dan menepuk pelan pipi lelaki itu, "Jimin-ssi, buka matamu!"

Airmatanya kembali menetes bahkan sampai terisak, ia menatap lelaki itu lamat sembari mengelus pipi Jimin, "Bangunlah! Ku mohon bertahanlah!"

Jiyeon mendongakkan kepalanya menatap empat lelaki berjas hitam yang ia kenali sebagai anak buah ayahnya, "Tolong Jimin! Aku mohon!"

Dan bersamaan dengan itu ada sebuah mobil lagi yang berhenti di dekat mereka, Jiyeon menoleh menatap dua orang yang baru saja keluar dari mobil itu.

"JIMIN?" teriak salah satu dari mereka lalu berjongkok di samping Jimin.

"Kau pasti Kim Jiyeon 'kan?"

Jiyeon mengangguk pelan terisak.

"Kami harus membawa Jimin ke rumah sakit!" salah satu dari mereka pun menggendong Jimin.

"Aku ikut!"

"Jangan! Kau ikutlah dengan anak buah ayahmu!"

Jiyeon menggeleng, "Pokoknya aku harus ikut!"

"Tidak, nona muda!" kedua lelaki itu segera membawa Jimin memasuki mobil meninggalkan Jiyeon yang menggigit bibirnya sesak. Gadis itu semakin terisak dan jatuh terduduk saat mobil yang membawa Jimin mulai menghilang dari pandangannya.

"Nona, mari kita pulang! Tuan besar menunggu nona."

Jiyeon tidak menjawab apapun, ia hanya pasrah saat anak buah ayahnya perlahan memapahnya memasuki mobil. Setelah terduduk di dalam mobil, gadis itu menyandarkan kepalanya masih terisak.

"Kami sudah menangkap pelakunya, tuan! Nona Jiyeon sepertinya mengalami shock, kami segera kembali."

.

.

.

Brangkar rumah sakit itu terus bergerak cepat dengan para dokter, perawat dan dua orang staff bighit yang mendorongnya. Alat bantu pernapasan terpasang pada mulut dan hidung lelaki yang terbaring tak berdaya di atasnya, darah terlihat di beberapa tubuhnya dan lebam yang cukup mengerikan. Hanya wajah lelaki itu yang terlihat tak begitu parah, nampaknya Jimin melindungi wajahnya dengan baik saat dipukuli.

Dua orang staff itu menghentikan langkahnya saat brangkar mulai memasuki UGD, keduanya menghela napas gusar. Salah satu dari mereka nampak mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.

"Kami ada di rumah sakit umum Gwangju. Jimin terluka dan tak sadarkan diri!"

"Kalian tangani Jimin dengan baik! Aku dan staff lain segera ke sana!"

"Baik, PD-nim!"

.

.

.

"Mobilmu sudah kembali ke basement!" ujar Sejin pada Yoongi.

"Bagaimana dengan Jimin? Di mana anak itu?" tanyanya masih dengan raut khawatir.

Sejin menarik napas dalam, "Aku baru saja mendapat telpon dari kantor. Jimin sudah ditemukan dan sekarang dia berada di rumah sakit."

"MWO?" keenam lelaki itu menampakkan wajah terkejutnya.

"Apa yang terjadi? Bagaimana keadaannya?" cerca Seokjin mendekati manajernya.

"Kami belum tahu, staff yang menemukannya mengatakan Jimin terluka dan tak sadarkan diri."

"Rumah sakit mana?" desak Namjoon.

"Kalian lebih baik tak ke sana sekarang!"

"Kenapa tidak?" Yoongi menatap Sejin tajam, "Beri tahu kami dimana Jimin saat ini!"

"Keadaan sedang tak stabil dan..."

Taehyung yang sedari tadi terduduk mulai berdiri, "Jika hyung tak mengatakan di mana Jimin dan melarang kami untuk tak menemuinya, aku akan keluar dari grup!"

"YAK!" Sejin tak terima dengan ucapan lelaki itu.

"Aku juga!" Jungkook menimpali.

"Kalian-"

"Beritahu kami! Dan bawa kami ke sana!"

Manajer mereka menghela napas gusar, "Pakai masker dan topi kalian!"

.

.

.

Kedua staff bighit masih menunggu pemeriksaan yang telah dilakukan hampir lima belas menit itu, hingga beberapa saat kemudian seorang lelaki berjas putih keluar dari sana.

"Dokter bagaimana keadaannya?"

"Terjadi pendarahan di usus, ini mungkin saja karena pukulan yang sangat keras di bagian perutnya. Selain itu ada retak di tulang betis, tapi kami memastikan bagian tubuh lainnya baik-baik saja. Kami ingin meminta persetujuan operasi untuk menghentikan pendarahannya di perut pasien. Di mana wali pasien?"

"Operasi?" tanya mereka terkejut.

"Bukan operasi besar, hanya berlangsung sekitar kurang dari sejam. Kami hanya perlu menjahit usus pasien dan mengeluarkan darahnya agar tidak terjadi penggumpalan."

"Baiklah lakukan saja operasinya! Walinya dalam perjalanan ke sini dan pasti akan menyetujuinya."

"Kalau begitu tolong lakukan administrasi untuk operasi ini."

"Baik dokter!"

.

.

.

Pintu mobil tersentak lebar, Jiyeon yang berada dalam sana menoleh terkejut dan menemukan sosok lelaki tua yang amat ia sayangi.

"Ayah!"

"Jiyeon-ah!" lelaki itu masuk dan langsung memeluk gadis bungsunya, hal itu sontak membuat Jiyeon menangis terisak.

"Kau memang benar sayang. Dia bukan wanita yang baik! Tenang saja, ayah akan menjebloskannya ke penjara."

Jiyeon mengangguk namun masih terisak dalam hangat dekapan ayahnya, "Ayah... Jimin."

Ryuwon melepas pelukannya menatap wajah anaknya yang penuh air mata, "Kenapa sayang?"

"Aku ingin melihatnya! Dia tadi dibawa ke rumah sakit, aku ingin melihatnya! Aku takut terjadi sesuatu padanya. Ayah... bawa aku kepadanya!"

Ryuwon menatap sendu anaknya, lalu mengelus pipi gadis itu.

"Dia sudah berkorban banyak. Kalau bukan Jimin aku mungkin sudah mati, dia terluka. Aku ingin bertemu dengannya ayah!"

Lelaki itu mengangguk, "Baiklah! Ayah akan membawamu ke sana."

"Jimin-ssi, ku mohon bertahanlah!"

To Be Continue

24 Hours ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang