16:00 KST
"24 jam yang mengubah segalanya"
.
.
.
Suara ketukan kayu dan lantai terdengar dengan jelas, lelaki yang terikat erat itu mencoba menggeser kursi sekuat tenaga. Beruntung tak ada yang mendengarnya, entah kemana orang-orang yang menculiknya itu pergi.
Ia benar-benar harus pergi dari sini secepat mungkin, mencari bantuan dan segera pulang. Jimin belum ingin hidupnya berakhir apalagi dengan cara yang amat sangat tak diharapkan seperti ini.
Jimin menarik napas dalam, ia kemudian menatap Jiyeon yang berada tak begitu jauh darinya. Gadis itu masih tak sadarkan diri, entah sudah berapa lama. Jimin mengalihkan pandangannya ke salah satu sudut ruangan, terlihat jelas pecahan beling di sana. Lelaki itu sekali lagi menarik napas dalam lalu kembali menggerakkan kursi itu sedikit demi sedikit.
"Aku bisa gila begini terus!" rutuknya dalam hati.
Ia tak mengerti mengapa dirinya bisa sangat sial terjebak dalam situasi yang sangat tidak menyenangkan. Ia hanya terus berharap agar ada orang yang menyelamatkannya secepat mungkin dari tempat ini.
Jimin menghela pelan saat dirinya sudah tak begitu jauh dari pecahan kaca, lelaki itu tentu tak bisa meraih benda tajam itu dengan mudah. Jimin mulai mendorong tubuhnya ke samping, mencoba untuk menjatuhkan dirinya. Cukup dua kali dorongan, kursi itu terjatuh meninggalkan suara berdebum.
Jimin meringis kesakitan akibat tubuhnya yang menghantam lantai dengan cukup keras, ia tak peduli apakah itu akan meninggalkan luka lebam di tubuhnya. Hal yang terpenting saat ini adalah, dirinya bisa melepas ikatan ini sesegera mungkin. Pergelangan lelaki yang terikat itu mencoba mencari pecahan kaca di belakangnya, ia merabanya dan butuh beberapa waktu untuk menemukannya.
Ia kembali menarik napas dalam, menggenggam benda tajam itu, berusaha dengan keras memotong tali yang mengikatnya. Sesekali Jimin meringis ketika pecahan kaca melukai kulitnya.
"HHHMMPPPTTT," Jimin menghentikan gerakannya, ia mengangkat kepalanya hingga tatapannya bertabrakan dengan gadis yang kini memberontak berusaha terlepas dari ikatannya.
Jimin kembali berusaha dengan keras untuk memotong tali itu, entah sudah berapa banyak tetes darah yang keluar dari tangannya. Ia merasa perih yang teramat, terlebih peluhnya mengaliri luka yang semakin menyakitkan.
Jiyeon sendiri menatap lelaki itu penuh khawatir, ia tak tahu apa yang lelaki itu lakukan karena tangan Jimin yang terhalang oleh tubuhnya.
"Gadis ini sungguh mengesalkan. Tidak bisakah kita membunuhnya sekarang?"
"Lakukan saja itu dan kau akan digantung oleh bos. Dia ingin menghabisi gadis ini dengan tangannya sendiri!"
Jiyeon sontak mengingat ucapan para penculik itu. Ia menggeleng keras, matanya berkaca-kaca dan ia merasa sangat ketakutan. Apakah dirinya akan benar-benar dibunuh lalu mayatnya akan dibuang dan akhirnya tak ditemukan? Jiyeon kembali menggeleng takut.
Sedang Jimin masih melakukan usaha melepaskan diri hingga beberapa saat setelahnya, tali itu sukses terputus. Ia menggerakkan kedua tangannya tak searah dan perlahan lilitan tali itu mengendur dan akhirnya terlepas.
Jimin menghela napas pelan, ia menarik tangannya ke depan dan dengan segera melepas lakban yang menutup mulutnya.
"Akh," ringisnya kecil.
Lelaki itu menarik napas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya kasar, ia dengan segera melepas ikatan tali di tubuh dan kakinya. Setelah semuanya terlepas, ia beranjak berdiri lalu melangkah mendekati Jiyeon.
Tatapan mereka saling bertemu, "Semuanya akan baik-baik saja!" ujar Jimin lalu melepas ikatan tangan Jiyeon. Saat tangannya terlepas, Jiyeon membuka lakban yang menutup mulutnya dan Jimin membuka ikatan di kaki Jiyeon.
"Kau terluka!"
Jimin hanya tersenyum tipis, "Tak usah hiraukan aku! Kita pergi dari sini, oke?"
Jiyeon meneteskan airmatanya, "Tapi kau terluka parah!"
"Kita pergi dari sini dulu lalu mengobati lukaku!"
Jiyeon mengangguk, ia beranjak berdiri lalu mengaitkan tangannya pada lengan Jimin. Kedua sosok itu melangkah perlahan.
"Kemana penculik brengsek itu?" gumamnya pelan. Ia merasa sangat aneh karena tak terlihat satu pun dari tiga orang itu di sini.
Jimin memegang kenop lalu dengan perlahan memutarnya, ia mengintip keluar dan sekali lagi tak ada siapa pun bahkan suara apapun di sini. Jiyeon mengeratkan pegangannya mengikuti Jimin.
"Darahmu terus menetes!" bisik Jiyeon. Jimin menunduk menatap telapaknya yang terluka, terasa amat perih tapi ia mencoba untuk menahannya. Lelaki itu mengelap darah itu di kaos putihnya, meninggalkan noda darah yang terlihat mengerikan.
Mereka kembali melangkah dan membuka satu-satunya pintu yang mereka yakini jalan keluar dari sini.
Jimin kembali mengintip keluar dan saat itu sebuah pemandangan dengan hutan lebat menyambut mereka. Kedua orang itu berjalan keluar, pandangan mereka mengitari sekitar dan hanya ada rumah ini dan hutan yang sangat mencekam, jauh lebih menyeramkan dari hutan yang sebelumnya.
"Di mana kita?"
"Aku tak tahu, yang jelas kita pergi dari sini. Setidaknya kita berusaha untuk selamat dibanding mati konyol di dalam."
Jiyeon mengangguk dan hanya mengikuti Jimin yang entah mengarah ke tempat mana. Hal yang sudah jelas adalah mereka berdua tak tahu berada di mana, harus ke mana dan bagaimana nasib mereka selanjutnya.
"Maafkan aku!" cicit Jiyeon.
Jimin berbalik dan tersenyum tipis, "Kau tak bersalah... penculik itu yang membuat kita seperti ini, tapi setidaknya mulai saat ini, bisakah kau berhenti membuatku kesal?"
Jiyeon mengangguk semangat, "Tapi, Jimin-ssi! Kita akan selamat 'kan?"
"Kita hanya harus percaya itu walaupun sulit!"
To Be Continue
A/N : Rank #17 dalam kategori Adventure. Thanks!
KAMU SEDANG MEMBACA
24 Hours ✅
Fanfiction[ROMANCE ADVENTURE FANFICTION] Park Jimin, seorang idol dari grup papan atas BTS tanpa sengaja bertemu dengan Kim Jiyeon, antifans dari grup yang ia naungi. Dua sosok yang tentunya saling bertolak belakang. Satu sosok dibenci dan satu sosok membenci...
