Chapter Three

45.6K 1.1K 23
                                    

"Semua sudah kau selesaikan?" tanya Richard ketika ia baru saja turun dari lantai dua dimana kamarnya berada. Apartement pria itu memang memiliki dua lantai. Dan lantai dua adalah lantai privacy miliknya. Semua kepunyaan pribadinya ada disana. Karena lantai satu hanya ia gunakan untuk menikmati masakan Philip, koki wanita kepercayaannya.

"Sudah, tapi aku terlambat beberapa menit hingga ada terjadi sedikit kerusakan." Jelas Alex seperti biasa.

Richard menyecahkan tubuhnya pada sofa berukuran L disana, "Kau sudah memperbaikinya?" tanyanya lagi.

"Aku sudah memesan semua peralatan untuk rumah itu dan sedikit mengisinya dengan beberapa hal yang menurutku penting." Alex menyerahkan PC tablet yang sedari tadi ia bawa pada Richard.

Pria itu tampak mencermati hasil yang telah Alex dapatkan. Kepalanya tampak mengangguk puas dengan gumaman kecil. Wajahnya masih begitu tenang tanpa ekspresi, "Ya, kurasa ini sudah cukup. Tapi mungkin setelah ini akan ada permintaan lain." Ujar Richard dan kembali mengembalikan benda itu.

"Tuan, apa tidak apa-apa kita melakukan hal ini?" tanya Alex hati-hati. Pria ini memang selalu memiliki pemikiran jauh kedepan atas keuntungan dan kerugian Richard di kemudian hari. Hal itu selalu menguntungkan richard dalam masalah bisnis ataupun kehidupannya.

"Maksudmu?"

"Kita belum mencapai kesepakatan dengannya. Dan jika dia menolak, bukankah itu sedikit mempersulitmu."

Sudut bibir Richard berkedut meski ia tetap tidak menunjukkan senyumnya, "Kita sudah menanam keuntungan dimuka, Alex. Dia tidak akan menolak. Dan jika dia melakukannya maka dialah yang akan mendapatkan kerugian besar." Jelasnya.

Bibir Alex kembali terkatup sebelum mengutarakan pendapatnya saat suara Philip menginterupsi.

"Mr. William, dia sudah bangun."

Mata tajam Richard bergerak keatas menatap ujung tangga, "Apa dia sudah cukup kuat untuk berjalan?" tanya Richard yang telah kembali melemparkan pandangannya pada Philip.

"Menurutku sudah. Ia bahkan sudah tidak sabar untuk turun dan mencari tahu siapa pemilik rumah ini."

"Bawa dia kemari."

Philip mengangguk dan segera beranjak kembali keatas.

Richard masih duduk tenang di tempatnya meski kali ini, jemarinya saling bertemu dan seperti merangkai sebuah piramid. Kedua kakinya saling terbuka lebar hingga siku-sikunya bertumpu diatas paha, menjatuhkan pandangannya kebawah. Ia memang akan melakukan hal itu ketika gugup akan sesuatu.

"Apa yang membuatmu membawaku kesini?"

Suara pelan Olivia membuat Richard sontak mengangkat wajahnya. Menemukan Olivia dengan dress tidur yang telah Philip gantikan dikamar tidurnya. Rambut wanita itu tampak sedikit berantakan meski wajah sendunya begitu memukau.

Richard bangkit dari tempatnya lalu menenggelamkan kedua tangannya dalam saku celana, namun kedua matanya tak lepas dari Olivia, "Philip, terima kasih atas bantuanmu. Kau boleh pergi sekarang." Perintahnya pada Philip dengan tatapan yang masih melekat pada wajah Olivia.

Diam-diam Olivia meneguk ludah beratnya. Tatapan mata Ricahard benar-benar mengatakan jika pria itu haus akan dirinya. Tapi jika hal itu benar, maka Olivia siap untuk menolak sekaligus menghajarnya. Karena hanya karena itu, ia tidak tahu entah apa yang terjadi pada keluarganya saat ini.

"Ya, Mr. Willam. Saya mohon pamit."

Suasana masih terasa sepi setelah Philip pergi meninggalkan mereka bertiga. Ketika suara deheman Alex terdengar, barulah Richard mengubah fokus pandangnya dan beralih pada Alex.

MistressesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang