Kali ini Ken menurut, diletakkannya surat itu lagi. Namun ia menatap Daffa lirih, tatapan matanya seperti bertanya apa maksud semua ini.
Daffa menghela nafas mengerti. Kali ini tak ada yang bisa dipungkiri, semua seperti sudah penuh di hati dan kepala Daffa.Keduanya terdiam. Diluar hujan lebat, mengisi kesunyian.
"Lo mau minuman hangat?" Tanya Daffa mencoba mengalihkan.
Ken hanya diam menatap ke luar jendela, menandakan ia tak suka Daffa membicarakan hal lain.
Lagi-lagi Daffa hanya menarik nafas panjang, usahanya mengalihkan tak berhasil.
Kali ini Daffa angkat bicara, mungkin semuanya sudah cukup.
"Gue suka sama lo" ucapnya lirih, ia menatap mata Ken lamat-lamat seperti ada harapan yang ia titipkan ke pelupuk mata Ken.
Bagi Ken ini semua lucu. Baru kemaren rasanya ia menjatuhkan hatinya pada seseorang, dan baru kemaren rasanya ia mengubur rasanya pada seseorang yang menyatakan perasaan kepadanya. Ini terlalu rumit, bagaimana mungkin ia menggali semuanya kembali.
Ken tak menoleh sedikitpun. Pendengarannya sudah cukup untuk mengolah kalimat yang terlontar dari orang yang berdiri terpaku di sebelah ranjangnya.
"Sejak kita pertama ketemu. Lo itu beda Ken, sorry gue udah ngancurin pertemanan kita, tapi gue gabisa bohongin perasaan gue." TambahnyaDaffa memutar badannya membelakangi wanita yang tak berkutip sama sekali.
"Sebenernya gue yang nyuruh Dev buat deketin lo, gue mau lo berubah. Karena gue ga berhasil sebagai temen lo." Kali ini ia juga menatap hujan diluar sana.Mata Ken terbelalak tak percaya.
"Maafin gue, gue malah ngancurin semuanya. Lo suka sama Dev kan? Gue tau, karena itu gue suruh Dev buat berhenti karena gue takut. Dan lagi-lagi gue ngancurin semuanya."Kali ini Ken mulai bersuara.
"Gue juga pernah suka sama lo dulu, tapi entahlah gue gasuka aja sama gitu-gituan. Jadi gue ngerasa itu ga penting, walaupun sebenernya itu wajar buat remaja smp waktu itu tapi ya gue gasuka aja. Akhirnya gue mutusin buat buang hal kaya gituan. Sampai akhirnya Dev" Ken diam sejenak.
"Tapi malah kaya gini. Gue tau lagian setelah beberapa hari ini Dev udah ngilang gatau kemana. Gue ga terlalu mikirin hal gituan. Gue capek." Sambungnya.
Keduanya diam, lagi-lagi hanya hujan yang menemani da sunyi dikamar rumah sakit ini."Gue gamau mikirin ini itu cinta-cintaan. Nanti-nanti aja, sorry Daffa" tambahnya mengisi kekosongan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Chocolate
Teen Fiction"ini keputusan aku gak ada yang bisa merubah sedikitpun" - ------ -aroma tubuh dari jiwa yang rapuh melebihi rindu melampaui waktu. Berpelukan, untuk itulah kita dipertemukan-