2

3.1K 136 4
                                    

"Darimana aja lo?!" tanya ketua kelas yang sok ngatur.
Niken merenggut tasnya yang tersangkut di punggung kursinya.

"woi orang nanya jawab! " Hadi sedikit membentak, namun Niken tak menghiraukannya. Kini Dia sudah berhasil melesat melewati pintu.

"Tuh anak gapernah berubah ya" celetuk Hadi kepada siapa saja yang ikhlas mendengarkan.

Niken berjalan ke dikantin belakang, dimana dia biasa duduk atau sekedar menunggu Daffa.

"lo udah lama?" tanya Daffa datar.

"belom" jawabnya datar

"yuk. Lo mau pulang langsung apa gimana?" " Gua pulang langsung ajadeh"

"Yaudah yuk" Ajaknya lagi.

"Daf, gue gabawa duit" Niken sedikit merengek kali ini.

"lah, trus?" jawabnya sedikit cemooh seakan tahu maksud Niken.

"isiin bensin gue ya" kali ini Niken menampakkan senyumnya yang manis. Mungkin itu senyum pertamanya pagi ini.

"Yaudah lu bawa aja ni" Daffa meronggok saku celananya yang tersisa 30.000

"thanks ya" ucapnya seraya berlari ke arah mobilnya.

**
"kamu dari mana?!" tanya papa Niken dengan sedikit membentak. Tapi tak ada jawaban yang keluar dari mulut niken sedikitpun.

"jam segini kamu baru pulang?! Kamu kira rumah ini gak ada aturan?! " teriak nya lagi sambil berdiri dari kursi yang berada diruang tamu.

"aturan?! bawa perempuan ini anda bilang aturan?" kali ini niken angkat bicara.

Kemudian keduanya terdiam. Niken melesat menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Dari ekor matanya dia bisa melihat ayahnya yang tak lagi dikenalnya dihibur oleh wanita yang sering dibawanya kerumah ini.

ChocolateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang