Rumah.
Rumah, untuk gue, bisa berupa tempat atau seseorang.
Menurut gue, semua orang pasti punya rumahnya masing-masing. Rumah yang dimana mereka bisa istirahat secara fisik, dan mental.
Rumah yang dimana mereka nggak akan merasa sendirian, rumah yang dimana mereka akan merasa seperti dibutuhkan.
"Sya lo dimana? Gue ke rumah ya mau curhat."
Sebenci-bencinya gue dengerin Jaehyun curhat tentang Minkyung, sebagai sahabat, gue harus selalu siap telinga dengerin keluh kesah maupun pengalaman bahagianya.
Rumah yang dimana semuanya terasa benar. Rumah yang dimana semuanya baik-baik aja.
"Lo bakal baik-baik aja."
Jaehyun mengulurkan tangannya untuk mengelus pelan rambut hitam gue.
Saat itu kami berdua sedang berada di mazda hitam milik Jaehyun. Gue baru aja berkata kalau gue merasa sangat nervous untuk menghadapi hari pertama kuliah. Gimana kalau temen-temen gue ternyata nggak ada yang baik?
Rumah itu seperti kopi. It gives you warm and fuzzies.
"Makanya udah tau mau ke Puncak, malah pake baju tipis kaya gini!"
Jaehyun kemudian melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling punggung gue untuk menghentikan gue yang kedinginan hebat sehabis turun dari mobil. Kala itu gue pikir Puncak nggak bakal sedingin jaman dulu, ternyata enggak.
Dan yang terpenting, rumah adalah sesuatu yang mampu membuat lo nyaman dan merasa aman.
"Makasih," gue memberikan helm berwarna hitam charcoal itu kepada pemiliknya yang masih nyengir tanpa henti. Heran, nggak kering ya giginya?
"Sama-sama, Kak! Besok... mau pulang bareng lagi?" tanyanya tanpa rasa gentar sedikitpun, dan suaranya cukup untuk didengar oleh siapapun yang ada di teras rumah gue sekarang.
Gue, yang seharusnya udah berusaha untuk move on, yang seharusnya jantung gue balapan begitu mendengar Haknyeon ngomong seperti itu, anehnya, malah nggak ngerasain apa-apa.
Gue nggak mendengar deru jantung gue yang berdegup kencang seperti saat Jaehyun dengan santainya merangkul bahu gue, gue nggak nyaris gelagapan seperti saat Jaehyun mengajak gue pulang bareng tadi.
Gue nggak merasakan apa-apa.
"Hmm, nggak usah, dek. Nggak apa-apa." tolak gue.
Bisa gue lihat senyumnya agak luntur disitu, tapi sedetik kemudian berubah lagi menjadi cengiran khas seorang Joo Haknyeon yang emang dasar anaknya periang.
"Pokoknya, kalau gue liat lo, lo harus pulang sama gue, Kak!"
Terserah, yang pasti gue sekarang tahu jelas siapa rumah gue.
Dan siapa yang gue harapkan akan berbicara seperti itu.
Gue tersenyum tipis, dan berkata sekali lagi, "Makasih ya, Haknyeon." dan masuklah gue ke rumah tanpa ngeliat ke belakang lagi.
Rumah gue,
adalah Jaehyun.
"Akhirnya lo pulang juga, gue khawatir nungguinnya, tau?" ujar Jaehyun yang langsung memeluk gue begitu gue masuk ke dalam rumah.
