15. Motivasi

1.1K 68 0
                                    

Lita masih memandangi langit tanpa bintang bintang yang menghiasi malam.
Rasanya sudah lama sekali keluarganya tidak hangat seperti dulu.
Bahkan ia duduk di balkon kamarnya ini saja tidak menenangkan hatinya yang menangis.

Sejak kejadian tempo hari keluarganya semakin renggang, kabar mengenai keluarganya memang sudah menghilang tapi kebahagiaan dikeluarga ini juga ikut menghilang.

Dava dan Lita juga sudah mendengar seperti apa masalah orang tuanya.
Dari cerita papa dan Liana sangat berbeda, bukannya mereka tidak tahu kalau Liana hanya menginginkan uang, tapi permasalahannya adalah anak kecil yang di bawa Liana itu benar anak Dimas atau bukan?.
Jika benar Alya mama mereka akan menyuruh Dimas bertanggung jawab.
Dan jika salah wanita yang bernama Liana itu tentu saja akan tinggal di penjara karna sudah mencoreng nama baik Hydar.

Mama memang tidak pernah lagi meminta cerai tapi mama selalu menghindar dari papa.
Bahkan mama juga akan ikut turun tangan dalam penyelidikan ini, jangan remehkan Alya Hydar dia wanita cerdas dengan semua kebrillianannya apapun bisa ia lakukan.
Jika Liana ingin bermain licik Alya lebih licik.
Dan jika Liana ingin berbuat jahat terhadap keluarganya Alya bisa dengan kejinya melenyapkan wanita itu.

Ya, siang ketika Dava menyuruh wanita itu kembali dia memang benar kembali, Dava dan papa berusaha untuk memberi penjelasan pada Liana agar mengerti dan tidak melakukan hal yang diluar dugaan.
Bukan hanya mereka bahkan pengacara juga ikut turut bicara.
Dava juga sering mengajukan untuk tes DNA pada Geo untuk memastikan anak itu memang benar anak Dimas atau bukan.

Tapi Liana menolak usul itu mentah mentah, Dava sudah hampir turun tangan tapi papa bersi keras agar dia tidak ikut campur, alasan papa sederhana karna ini masalah orang tuanya dan itu berarti orang tuanya yang harus menyelesaikan.

Jika saja Dava diizinkan turun tangan dia akan dengan senang hati menyuruh sahabat dan teman temannya yang lain untuk melacak kebenaran ini, tidak sulit untuk seorang Dava melacak semua itu

Tapi sudahlah papa akan menemui Dava jika dia sudah tidak menemukan hasil apapun.
Dan jelas sisanya akan diurus Dava dengan sebaik baiknya.

"Hayoooo ngelamunin sapa?"

Lita tersentak, abangnya ini bisa bisanya membuat dirinya terkejut, menyebalkan

"Apaan sih bang" Lita kembali menatap langit yang tidak ada bintang sama sekali.

"Ngelamunin sapa ayoo? Sini cerita sama gue"

Lita hanya tersenyum tapi tidak menoleh pandangannya masih lurus kedepan. Senyum itu tidak bermakna.

"Jelaslah dia mikirin gue Dav"

Mereka menoleh ke arah sumber suara.
Ya tepat seperti itu mata Arka bertemu pandang dengan mata caramel Lita.

"Bang Dava bawa cowok stupid kesini? Ck,!" Lita menatap kesal kearah Dava lalu kembali melihat Arka.

"Apa lo? Mau geret gue kaya di cafe tadi? Emang gue boneka apa main di geret geret aja!"

Dava mengusap lembut ujung kepala Lita, bisa Arka perhatikan interaksi sahabatnya ini dengan adiknya, wajar saja kadang Dava overprotective terhadap Lita, karna Dava sangat menyayangi adik nya ini.

Dava berdiri dari duduknya dan berjalan sembari menepuk bahu Arka pelan seolah memberi support

Arka duduk ditempat yang diduduki Dava, ia kesini bukan tanpa alasan.

"Ngapa lo kesini?" Tanya Lita masih merengut kesal tapi tidak menoleh ke arah cowok disampingnya.

"Gak mau ngapa ngapain"
Arka meneliti dari atas sampai bawah.

Pelangi Untuk LitaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang