Lita berjalan tanpa mengamati sekitarnya. Yang dibawanya hanya hati yang sedang gusar.
kakinya akan berhenti jika ingin berhenti.
Dan disinilah Lita sekarang. Pemakaman. Dia juga bingung kenapa kakinya sampai melangkah ke pemakaman.
Ia menatap makam yang ada didepannya tulisan di batu nisan itu mulai memudarLita bersimpuh disamping batu nisan itu, tapi hanya menatapnya.
Lita menunduk memejamkan matanya, kedua tangannya ditadahkannya untuk berdoa kepada sang ilahi.
Lita kembali membuka matanya perlahan, setetes butiran kristal melintas dipipinya.
Pertahanannya kembali runtuh.Lita menangis dalam diamnya.
Tidak ada yang mengetahui bagaimana keadaan hatinya sekarang. Ucapan Raya dua hari yang lalu masih terngiang didalam pikirannya.
Dan dalam dua hari ini dia juga tidak lagi menerima pesan line atau coklat dan juga surat dari Rajada.
Aneh tiba tiba saja cowok itu berhenti mengirimkan itu semua. Tapi itu lebih bagus.
Karna jujur saja jika ia mendapar semua itu ia selalu merasa bersama bayang bayang Darwin"Hai.." ucap Lita serak sambil menatap tulisan yang terpampang di batu nisan.
"Lo jahat!" Air matanya kembali melintas menyusuri pipinya.
"Lo jahat Dar. Lo ninggalin gue, lo pikir gue gak sayang apa sama lo. Gue sayang bego"
Derai air mulai turun dari langit. Rintikan hujan yang belum terlalu deras membasahi tubuhnya.
Seakan menjadi saksi bisu dalam kerinduan seseorang.
Rindu itu membahagiakan
Tapi rindu itu juga menyakitkan.
Lita menangis sejadi jadinya tertutupi oleh butiran hujan yang semakin deras."Gue.. sayang lo Dar.. terus kenapa lo ninggalin gue.. lo gak sayang sama gue? Lo tega Dar.. lo tega" ucap Lita sambil terisak.
"Gue selalu berharap gue bisa selamanya sama lo. Gue selalu berharap lo yang terakhir untuk gue. Gue juga selalu merasa bahagia sama lo. Gue juga selalu merasa nyaman sama lo. Dan setelah gue ngerasain dan berharap itu semua sama lo. apa yang lo lakuin?
"Lo ninggalin gue Dar.. Lo ninggalin gue dengan semua kenangan yang menyakitkan itu. Gue tersiksa, gue rapuh, gue hampir mati rasa karna lo. Lo tega ninggalin gue.."
Lita menutup mulutnya menahan tangis. Suaranya sudah tercekat sedari tadi.
Ia kesal pada Darwin. Lita benci Darwin.
Tapi Lita juga mencintai Darwin.
Jika saja Darwin tidak meninggalkannya ia tidak akan seperti ini.
Tubuhnya berguncang menahan suara tangis.
Seluruh tubuhnya sudah basah oleh deraian hujan sekarang.Ya allah..
"Lo tau gimana rasanya ditinggalin sama orang yang disayang? Lo tau gimana rasanya kehilangan orang yang lo cintai? Lo tau gak Dar.? Apa lo ngerasain itu semua hah?! Gak Dar.. Lo gak ngerasain itu semua... gue yang ngerasain itu Dar.. gue!
"Gue sakit.. lebih dari itu gue hancur"
Tidak ada lagi pertahanan Lita Didepan makam Darwin. Lita hancur.
Luluh lanta sudah semua pertahanan yang dibangunnya.
Semua yang ditahannya menguap begitu saja."Gue sendi.." perkataan Lita terhenti.
Tiba tiba saja hujan berhenti membasahi tubuhnya.
Lita menatap sekitarnya tercengang, didepannya masih turun hujan, tapi mengapa ia tidak lagi kehujanan?
Lita mendongak keatas.Senyum hangat itu menyelimuti hatinya yang retak. Membungkusnya secara rapat.
Arka! Sudah berapa lama dia tidak bertengkar dengan cowok yang memanyunginya ini heh?
Ah..rasanya begitu lama sekali.
Tanpa disadarinya sebersit perasaan mengendap dalam hatinya.
Perasaan yang tidak ingin dirasakannya lagi setelah kehilangan cinta pertamanya."Lo gak sendirian"
Arka berjongkok disamping Lita. Tangan kanannya masih memegang payung untuk melindungi Lita dan dirinya dari guyuran hujan.
Tangan kirinya menyeka air mata yang tak sengaja melintas dipipi Lita.

KAMU SEDANG MEMBACA
Pelangi Untuk Lita
Novela JuvenilApa jadinya seorang cewek tomboi ketemu sama prince charming sekolah yang sama sama keras kepala kaya lita? Terus gimana jadinya kalo lita yang gak bisa diatur ketemu sama cowok yang super duper gak bisa di bantah? Apalagi kalo cowok itu yang meorie...