28 Arka Prasaja 3

907 49 8
                                    

Sudah 4 jam berlalu. tapi ruang oprasi masih belum terbuka. Betapa cemasnya mereka berlima menunggu dokter yang keluar.
Bahkan ayah Arka juga datang ke rumah sakit. Ia mendapat telpon dari polisi bahwa anaknya Arka kecelakaan. Betapa terkejutnya ia mendengar kabar itu. Rapat yang dihadirinya pun ditinggalkannya. Persetan dengan rapat yang terpenting ia bisa tahu kondisi anaknya sekarang.
Kalau perlu dia akan mencari dokter terbaik di Indonesia atau di luar negri sekalipun.

Lita masih tetap setia menunggu didepan pintu. Sudah beberapa kali Dava menyuruh Lita untuk duduk tapi Lita hanya diam.
Dalam diam ia menangisi keadaan Arka sekarang.

Benar! Kecelakaan lalu lintas yang baru saja di laluinya ketika pulang tadi adalah kecelakaan yang di alami Arka.
Bodoh! Seharusnya ia dapat mengenali motor Arka yang rusak parah itu. Lita merasa dia sama sekali tidak berguna

Benarkah yang dikatakan Raya tentang dirinya? Apa karna Arka didekat Lita yang menyebabkan dia kecelakaan? Dan lagi kenapa juga Arka ingin membeli buket untuknya?
Pikiran itu terus berputar dikepalanya. Air matanya kembali jatuh melintasi pipinya. Buru buru ia menyeka air matanya

Dava juga sudah menjelaskan sebelum Arka pulang sekolah ia sudah meminta izin membelikan bunga untuk Lita tapi ternyata sesudah itu Arka kecelakaan.
Dan itu justru semakin mengguncang Lita

Lampu oprasi yang berwarna merah berganti warna hijau. Tanda oprasi sudah selesai.

Aji dan Reza yang sudah sampai terlebih dulu dirumah sakit memang langsung mengizinkan dokter mengoprasi Arka. Aji juga sudah terlebih dulu menelpon ayah Arka. Ayah Arka juga menyetujui. Reza yang mewakili ayah Arka menanda tangani surat surat yang harus dilengkapi pasien sebelum oprasi.
Sebenarnya mereka ingin menunggu Dava dan ayahnya Arka tapi itu terlalu lama. Dalam keadaan genting seperti ini waktu sedetik saja sangat berharga.

Mereka semua langsung bangkit dari duduk menanti dokter yang akan keluar.

Dokter keluar. Yang diikuti para suster dibelakangnya. Mereka semua segera menghampiri dokter.

"Siapa orang tua pasien? Atau keluarganya?" Tanya sang dokter.

"Saya keluarganya" ucap Aji Dava dan Reza serempak.

Prasaja tersenyum sejenak mendapati betapa pedulinya sahabat sahabatnya pada anaknya Arka.

"Saya orang tuanya" kata Prasaja.

"Pasien sudah melewati masa kritisnya. Tapi pasien belum sadarkan diri. Pendarahan dikepalanya tidak terlalu serius jadi tidak perlu dikhawatirkan"

Mereka semua bernapas lega.
"Alhamdulillah"

"Syukurlah kalo begitu"

"Hanya saja pasien mengalami patah tulang dibagian lengan kiri. kami juga sudah mengobatinya " jelas dokter

"Kapan anak saya sadarkan diri dok?" Tanya Prasaja.

"Saya belum bisa memastikan"

Prasaja mengangguk lemah.

"Makasih dokter. Tolong berikan perawatan terbaik dirumah sakit ini. Saya akan bayar berapa pun" Prasaja takut ia akan kehilangan anak semata wayangnya seperti kehilangan istrinya dulu.

Dasar anak bodoh! Bukan ini yang ayah maksud.

"Kami akan melakukan yang terbaik tapi semuanya ditangan tuhan"

"Pasien juga sudah boleh dijenguk tapi harus satu satu tidak boleh bersamaan karna akan mengganggu pasien" ucap Dokter lalu pergi bersama stapnya.

Akhirnya Lita bisa bernapas lega setelah empat jam menunggu. Lututnya serasa lemas. Ia juga baru sadar ini  sudah hampir jam 8 malam dan ia belum makan apapun sejak siang tadi.

Pelangi Untuk LitaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang