16. Rajada Raymond

950 55 0
                                        

Rajada duduk terpaku sambil memikirkan kejadian tawurannya sore tadi, bukan tawurannya tapi seorang cewek yang bersama musuh bebuyutannya.Arka.

"Astagaa... kenapa kalian punya selera yang sama sih? Arrrrggghh..." teriak Rajada setengah frustasi.

Ya tuhan sepupunya itu benar benar bodoh!
Kenapa harus cewek itu sih? Kenapa gak cewek yang lain aja?

Sepupunya itu mempunyai selera yang sama dengan musuhnya, dari hobby sampai jenis motor mereka satu selera.
Yang gak habis pikir Rajada adalah cewek pun mereka satu selera?
Astaga yang benar saja.

Rajada mengambil foto yang tertera manis di samping tempat duduknya.
Meskipun Rajada selalu beda pendapat dengan sepupunya ini tapi sungguh, Rajada sangat menyayangi sepupunya itu.

Sepupunya itu kadang bisa menjadi seorang sahabat yang baik, atau musuh yang sangat menyebalkan, atau juga seorang adik yang susah di atur tapi dibalik itu semua mereka saling menyayangi dan memahami.

Tapi yang tidak Rajada habis pikir ialah kenapa harus cewek yang sama? Astaga apa mungkin Arka juga sudah sama gilanya seperti sepupunya itu? Ahh.. terserahlah pokoknya dia harus merebut kembali belahan hati sepupunya itu.
Cewek itu harus tetap milik sepupunya. Selamanya.

"Hei Darwin gimana kabar lo disana? Gue ketemu cewek lo dar, gue ngeliat dia secara langsung tanpa foto yang sering lo tunjukin ke gue, jadi benar dia adik Dava?"

Rajada bicara lirih pada foto di genggaman tangannya.

"Dia cantik, imut Dar, dia juga galak banget, gue sempat liat dia adu mulut di cafe sama mantan kawan lo."

Rajada menghela nafas, perihal kematian Darwin sepupunya yang tragis itu sangat mengguncangnya.
Mati dalam keadaan overdosis itu konyol.
Bahkan dia sendiri tidak tahu Darwin pecandu, entah kenapa sepupunya itu bisa seperti itu, ia juga tidak memahaminya.

"Gue bakal ambil kembali cewek lo Dar, gak bakal gue biarin Arka ngerebut cewek lo, lo yang tenang ya disana"

Rajada meletakkan kembali foto itu keatas meja.
Ia berdiri dan berjalan keluar kamarnya, gerah sekali rasanya didalam kamar meskipun Ac sudah hampir full.

Ia ingat Darwin selalu memamerkan foto fotonya bersama Lita, tapi Darwin selalu menolak jika Rajada meminta ingin bertemu dengan ceweknya.

"Gak, lo gak boleh ketemu sama cewek gue, entar kalo dia jadinya suka sama lo gimana? Patah hati dong gue"

Rajada memutar bola matanya bosan, sepupunya ini kalau sudah menyangkut masalah ceweknya selalu saja Over.

"Artinya karisma gue lebih kuat dari lo bego, lo tu ya oon nya gak ngilang ngilang, udah kelas sebelas ini,masa masih bloon sih? Payah"

Darwin tersenyum.

"Lo gak pernah ngerasain namanya jatuh cinta, makanya lo ngatain gue oon, padahal kan lo lebih oon dari gue" Darwin tertawa ngakak.

Rajada hanya garuk garuk kepalanya yang tidak gatal, emang bener ya kalo udah jatuh cinta, tai kucing aja rasa coklat, ckckck ampun den gue.

"Tapi itu cewek masih Smp pea, lo beneran suka sama anak bau kencur gitu?"

"Cinta itu gak mandang usia cunguk, makanya cepetan cari pacar jangan tawuran mulu kerjaan lo."

"Heh gila, lo juga tawuran, tiap kali tawuran kita ketemu bego, dasar gila"

Darwin hanya senyum senyum melihat berbagai koleksi fotonya bersama Lita di hp nya.

"Ck, et dah senyum senyum sendiri dia, kesambet nyaho lu" Rajada geleng geleng kepala sendiri dibuatnya.

"Dia cantik ja" sahut Darwin masih dengan senyumnya.

"Bener ya kata orang orang kalo udah jatuh cinta itu gila, tai kucing aja nyampe dibilang rasa coklat, terus tai kebo dibilang rasa apa dar?"

"Rasa....rasa kasih sayang ku padanya"

Rajada sontak berlagak muntah muntah di hadapan Darwin. Tapi detik berikutnya mereka tertawa terpingkal pingkal.

Rajada tersenyum mengingat pembicaraannya sewaktu baru kelas sebelas dengan Darwin.
Dan sekarang ia sudah kelas dua belas, sudah satu tahun kepergian Darwin.
Keputusannya sudah bulat, ia akan menghidupkan Darwin kembali.

Bukan, bukan Darwin tapi kenangan.
Ya, kenangan Darwin akan segera dipersembahkannya pada cewek kebanggaan Darwin.
Dan itu sudah jelas akan membuat Arka menyadari dimana posisinya sekarang ini.
Berani beraninya Arka bersama cewek sepupunya.
Liat saja besok.

Rajada tersenyum licik, besok akan dipastikannya Arka Prasaja terpaku ditempat.

Pintu utama terbuka.
"Kak Rajadaaaa...." teriak anak kecil yang berlari lari kearah Rajada.

Rajada merentangkan tangannya lebar lebar.
"Ya ampuunnn.. Geo dari mana? Kok lama banget?"

Pandangan Rajada beradu pandang dengan tatapan seorang wanita yang datang bersama Geo.

"Udah? Kenapa balik ? Udah habis tu urat malunya ngeganggu rumah tangga orang?" Tanya Rajada ketus.

Liana hanya menatap Rajada tajam, mulut anaknya ini memang benar benar tidak bisa ditata rupanya.
Rajada hanya menyunggingkan senyum miris.

"Kasihan" hanya dengan satu kata itu Rajada berhasil membuat wanita didepannya menjadi kaku seperti robot.

"Ka Raja.... Geo laper kaaa.. belom makan.." ucap Geo merangkul tangan Rajada.

Rajada kembali tersenyum dan mengusap pucuk kepala Geo lembut.
"Laper ya? Yuk kita ke ruang makan, bi ijah udah nyiapin makanan enak."

Rajada dan Geo pergi ke dapur, sejenak Rajada berhenti sambil mengepalkan tangan kirinya yang tidak memegang tangan Geo.

"Ayah cari kamu" lagi lagi ia harus menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
Menyebalkan.

Rajada meneruskan langkahnya ke ruang makan bersama Geo, ya, hanya bersama Geo lah ia makan.
Geo adalah adik kesayangannya, dia berani bertaruh nyawanya sekalipun demi sang adik.

Geo makan dengan lahap didepannya, sungguh menggemaskan sekali kelakuan adiknya ini.
Rajada kembali berpikir bagaimana ia bisa mendapatkan cewek Darwin kembali?
Apa harus pakai kekerasan? Atau cara lembut? Tapi...
Ah, jika ia pakai cara kekerasan pasti Darwin tidak suka karna itu ceweknya.
Oh tuhaaaann... haruskah ia memakai cara lembut?
Biarlah! Yang terpenting cewek itu kembali.

Rajada mengeluarkan hp nya dari saku celana, tangannya nampak lincah menekan nekan keyboard.
Tanpa menunggu nada sambung kedua telpon diangkat.

"Bin, cari tau nomor atau id line atau pin cewek kemaren"

"Lo naksir Ja? Sius neh? Akhirnya lo naksir juga ama cewek ya"

"Heh bego lo kira gue gak waras apa? Cepetan cari"

"Dia adiknya Dava bro, lo nyakin nih?"

"Iya bawel lo ah"

Telpon berakhir, sebenarnya Rajada awalnya tidak tahu jika cewek itu adiknya Dava tapi menurut informasi dari Arbin sohibnya cewek itu beneran adiknya Dava.

Yasudahlah, lagian cewek itu cantik juga, jadi kalo entar Rajada yang jatuh cinta gak masalah.
Toh ceweknya cantik gitu.

Eh? Rajada jatuh cinta? No dia hanya ingin mengembalikan kenangan Darwin kembali.
Jangan ngaco kamu Rajada. Sial!!

------------------------------------------------
-----------------------------------------------ih si Rajada berani banget sih itu kalo di amuk Dava sama Arka beneran gepeng lho 😠

Part ini kusuh buat abang Rajada nih hehehe selamat membaca yaa

Jangan lupa tinggalkan jejak yuuu😉

Pelangi Untuk LitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang