Akuntansi dan Dia yang Manja
***
"Kamu ngapain?" Tanya Fathan saat ia keluar kamar mandi melihat Nania yang memejamkan mata sambil merapalkan sesuatu di kursi belajarnya. Fathan memang meminta Pak Mar memindahkan meja belajar yang disimpan digudang ke kamar mereka agar Nania bisa menyimpan bukunya dengan rapi dan mudah jika belajar.
"Belajar." Jawab Nania tanpa menoleh.
"Belajar apa?" Tanya Fathan seraya mendekati Nania.
"Akuntansi. Biar lusa ngga salah masukin akun." Jawab Nania panjang berharap Fathan tidak bertanya lagi.
Nania dan Fathan memang sepakat untuk merubah panggilan dari saya-kamu menjadi aku-kamu, meskipun awalnya Nania harus dipaksa oleh Fathan. Apalagi panggilan yang diberikan Nania padanya, memangnya dia setua itu sehingga dipanggil 'om' oleh anak seumuran Nania.
"Ohh..." Fathan bersandar di sisi meja sebelah kiri Nania. "Ngga belajar yang lain?"
Nania diam. Ia malas menanggapi Fathan. Setelah menikah Fathan menjadi cerewet dan manja padanya. Yah meskipun baru kenal benerapa hari, ia tahu sikap Fathan makin manja padanya semenjak mereka hanya tinggal berdua.
"Nania?"
"..."
"Sayang"
"..."
Cup
Nania membuka matanya, menatap tajam Fathan yang tengah tersenyun setelah mencium pipinya. Membuat pipinya memanas. Fathan tidak tau saja kalau perbuatannya itu membuat jantung Nania berdetak tidak normal.
"Nah, gitu dong. Kamu sih ngga nyaut dari tadi." Nania cemberut mendengar Fathan. Ini juga menjadi kebiasaan baru Fathan yang menjengkelkan baginya. Fathan seenak jidat menciumnya, baik di pipi maupun di kening.
"Apaan sih? Ganggu aja!" Ketus Nania berusaha menetralkan kegugupannya.
"Kamu sih, sibuk sama buku. Suaminya ngga diperhatiin." Fathan mulai merajuk.
"Aku kan lagi belajar." Jawabnya malas.
"Aku kan laper, Yang." Nania menghela napas. Nania melihat jam yang ada di meja belajarnya. Pukul 4 sore. Nania dan Fathan memang selalu makan malam sebelum maghrib. Kalaupun setelah maghrib mereka lapar biasanya Nania akan makan buah sedangkan Fathan akan merengek minta makanan berat.
"Yaudah, aku masak dulu. Kamu tunggu di ruang tengah aja."
Nania pun segera berlalu ke dapur menyiapkan makan malan. Sedangkan Fathan bukannya duduk di ruang tengah, tapi malah mengikuti Nania ke dapur dan duduk di kursi bar dapur meperhatikan istrinya.
Nania mencepol asal rambutnya agar tak mengganggu lalu ia fokus pada sayuran yang ada di hadapannya. Ia menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam untuk memasak. Ia hanya memasak tumis brokoli-wortel, tumis jamur dan menggoreng tempe.
Fathan bertopang dagu memperhatikan Nania yang begitu cekatan memasak. Nania begitu telaten mengolah bahan makanan. Bini gue ada disukai temennya enggak ya?
"Ngapain melamun?" Tanya Nania saat ia menata makanan di meja makan, membuat Fathan tersadar dari lamunannya kemudian menatap Nania.
"Enggak ada. Udah selesai?" Pertanyaan Fathan dijawab anggukan oleh Nania. Kemudian Fathan duduk kursi kepala keluarga dan Nania duduk di kursi sebelah kirinya.
Nania dan Fathan memulai makan mereka setelah berdo'a yang dipimpin oleh Fathan. Acara makan berlangsung dengan obrolan kecil mengenai sekolah Nania dan beberapa hal di tempat konstruksi Fathan.
***
Hari Rabu ini adalah tanggal 17, sehingga sekolah Nania melaksanakan apel pagi, mengingat tanggal 17 adalah tanggal kemerdekaan Indonesia dan sesuai peraturan pemerintah tanggal 17 harus diadakan upacara atau apel pagi.
Pagi itu Nania berangkat sedikit lebih pagi, padahal masuk sekolah lebih siang dan sekolahpun tidak ada pelajaran karena guru-guru ada penyuluhan dari MGMP. Sesampainya di kelas, Nania mendapati Mita sedang duduk sendiri di kursinya. Mita memang anak yang rajin, bahkan jam 6 pagi dia sudah sampai disekolah.
"Hai, Mit!" Sapa Nania riang saat berjalan ke tempat duduknya.
"Hai! Tumben berangkat pagi?" Tanya Mita heran.
"Pengen aja gitu jadi anak yang keliatan rajin." Nania terkikik seraya menaruh tasnya di tempat duduknya, kemudian duduk di kursi samping Mita yang masih kosong.
"Lo kenapa deh, Mit? Aura lo kayak gloomy gitu." Tanya Nania heran karena Mita sedari tadi seperti sedang berpikir keras.
"Ada masalah aja dikit." Jawaban Mita tidak membuat Nania puas.
"Masalah apa, siah? Ngga biasanya lo sampe sebegitunya." Kata Nania.
"Ini masalah ulangan akuntansi besok itu."
"Kenape sih?" Nania makin penasaran.
"Kan gue di minta Bu Hilma bikin itu soal, tapi soalnya bocor." Kata Mita menatap Nania.
Nania sudah tahu tentang gosip ini sejak kemarin. Namun ia tak menyangka kalau gosip itu benar, karna biasanya juga akan ada bocoran soal dari kelas sebelah kalau akan ulangan.
Mita memang anak yang disegani guru, sehingga ia bisa mendapat kepercayaan yang tinggi dari para guru, apalagi guru ekonominya, bu Hilma. Dan disini, Clarissa--salah seorang teman sekelasnya yang cukup nyentrik, dianggap orang yang mengambil soal buatan Mita yang ada di laci mejanya. Mita dan Clarissa memang kelihatan tidak terlalu dekat, sehingga banyak yang menganggap Clarissa adalah tersangkanya.
Gosip itu sudah menyebar sejak sehari sebelumnya, bahkan Nania baru tahu tentang itu setelah solat dzuhur. Kemudian dia baru memberitahu Gina tentang gosip itu setelah sahabatnya kembali dari toilet.
"Bocor? Jadi yang diomongin anak-anak tentang Rissa kemaren bener?" Mita hanya menjawab dengan anggukan.
"Tau dari mana sih?" Tanya Nania lagi.
"Kemaren Lia tanya ke Ana darimana dia dapet soal itu waktu dia ngembaliin soal ke meja gue, terus dia bilang dari Rissa harus dikasih ke meja gue katanya. Pas gue dikasih tau Ana gue langsung liat soalnya, ternyata itu soal bikinan gue yang buat ulangan!" Jelas Mita, sedangkan Nania membeo. Saat itu ada berapa anak yang sudah berangkat dan ikut nimbrung dengan Mita dan Nania.
Nania sudah tidak ingin melanjutkan obrolan ini sehingga ia mengajak Saras, anak rohis di kelasnya untuk menemaninya ke kantin karena haus.
Selama dikantin, Nania bertanya pada Saras mengenai pasangan yang baik dalam Islam, dan tentang pernikahan. Sambil menyelam minum air, pikir Nania.
Setelah dari kantin Nania dan Saras segera kembali ke kelas, mengingat mereka tidak membawa topi upacara saat ke kantin. Sesampainya di kelas, Nania mendapati hampir semua murid dikelasnya sudah datang. Ia mencari Gina, namun pandangannya mendapati Rissa yang sedang menatap tajam ke arahnya yang berjalan mendekati meja Mita yang dikerubungi anak perempuan.
Dan yang selanjutnya terjadi adalah teman sekelasnya menatap tak percaya pada Rissa dan Nania.
"Heh! Lo yang udah nyebarin gosip nggak bener tentang gue kan?!"
***
Nah lho kenapa itu?
Oh iya, sekalian aku mau bilang kalo cerita ini bukan cuma tentang kisah cinta tentang Fathan dan Nania aja yaa...
Ini juga mengisahkan kehidupan anak sekolah, anak sma tepatnya, karena aku juga masih sma. Hihihi 😂😂
Ada yang pernah ngalamin engga nih masalah sama temen sekelas?Keep VoMent ya...
LafU all 😘😘😘

KAMU SEDANG MEMBACA
2U (To YOU) (ON HOLD)
RomanceAnak terakhir itu tidak selalu dimanja seperti dalam cerita. Anak terakhir itu juga harus bisa mandiri dan bisa mengalah. Seperti Nania. Dia adalah anak terakhir dari tiga bersaudara, dimana kedua kakaknya sangat disayangi oleh kedua orangtuanya, ti...