“Kelak jika semuanya memang seperti ini, biarlah aku menyimpan beribu kenangan sampai aku dapat menceritakan kepada setiap orang yang pernah aku temui, bahwa aku bangga pernah menyukaimu walaupun hanya dalam diam.”
.
.
SENJA POV
Aku tau ini sakit, apalagi disaat aku harus bertingkah selayaknya tidak ada yang terjadi diantara kita.
Aku tau perasaan ini, perasaan yang aku rasakan sendirian. Perasaan yang sampai saat ini bahkan tidak kamu ketahui.
Namun aku tau, aku tidak bisa terus menerus munafik untuk terlihat baik-baik saja di hadapanmu.
Aku manusia, spesifiknya wanita.
Aku wanita yang berusaha keras untuk membangun dinding kokoh dan bersikap biasa saja saat bersama mu.
Tetapi bodohnya aku, pertahanan itu seketika runtuh saat aku memandang mu.
Namun kali ini aku lagi-lagi tidak bisa berkata apa-apa selain ikut bahagia mendengar kabar tersebut.
Itu terlihat jelas di mata mu bahwa saat ini kamu memang bahagia, aku tidak pernah melihat bagaimana binar mata mu terlihat sangat menggemaskaan ketika kamu berbicara mengenai hal-hal lain.
Namun kali ini hanya dengan satu nama yaitu dia, semua yang ada pada dirimu seakan-akan tersenyum bangga dan memperlihatkan betapa bahagia nya kamu menyukai seorang gadis seperti dia.
Lantas bagaimana dengan ku? Bagaimana dengan perasaan yang selama ini aku jaga dan pemilik perasaan itu masih tetap kamu?
Perasaan yang aku sembunyikan dan berharap suatu saat nanti kamu akan membalas perasaan itu.
Tapi nyata nya Tuhan berkehendak lain, kamu memilih pergi untuk memperjuangkan perasaan orang lain yang hati nya belum tentu untuk kamu.
Bahkan kamu pergi sebelum mengetahui bagaimana perasaan seseorang yang masih tetap memperhatikan mu dari kejauhan walaupun kamu malah berbalik memunggungi nya dan memilih untuk memperhatikan orang lain.
Bukankah ini tidak adil? Tapi aku bisa apa?
Mungkin ini resiko atas perasaan yang diam-diam aku pendam untukmu.
Aku tidak pernah menyesal atas perasaan ini, aku berfikir seharusnya aku bersyukur mempunyai perasaan ini.
Kamu mengajarkan aku bagaimana cara tetap bahagia terhadap perasaan yang aku simpan pada orang yang menyukai sahabatku sendiri.
AUTHOR POV
Sedari tadi Senja hanya diam sembari mendengarkan Langit yang asik bercerita mengenai sang Bintang.
Sesekali gadis itu tersenyum tipis atau mungkin itu hanya sekedar senyum yang di paksakan? Entahlah, hanya Senja yang mengerti bagaimana perasaannya saat ini.
Terkadang Langit bercerita sembari melemparkan cadaannya kepada Senja dan langsung di tanggapi tawa sumbang yang keluar dari bibir mungil gadis itu.
Di dalam sana, perasaan Senja berkecamuk. Pikirannya pun jadi tidak karuan karena memikirkan hal tersebut.
Pertanyaan yang selalu terngiang di kepala nya adalah dari sekian banyak wanita yang ada di muka bumi ini mengapa harus Bintang yang di sukai oleh sang Langit?
Senja tau ia tidak boleh egois untuk memaksakan perasaan seseorang, jika memang bahagia nya Langit adalah dengan tersenyum manis sembari menggenggam tangan Bintang, Senja bisa apa?
Tugas Senja hanya menjadi penikmat senyum nya bukan menjadi pemilik senyum tersebut apalagi penyebabnya.
****
Senja kembali memasang wajah ceria nya setelah beberapa saat yang lalu hati nya gelisah karena memikirkan hal yang baru saja di ungkapkan oleh Langit.
Adakah yang lebih sakit ketika mengetahui orang yang kamu sukai ternyata menyukai sahabat mu? Klise memang, tapi akan sangat sulit untuk di mengerti.
Setelah sekian lama diam dan hanya mendengar cerita-cerita Langit, akhirnya Senja buka mulut untuk memulai percakapan.
“Lo sejak kapan sih suka sama Bintang?” Tanya Senja sembari terkekeh pelan menahan sesak di hatinya.
Langit yang mendengar pertanyaan tersebut pun tersenyum tipis sebelum menjawabnya.
“Gue juga gak tau kenapa gue bisa suka sama dia, mungkin berawal dari rasa kagum gue terhadap pribadi nya yah you know what I mean sampai akhirnya gue ngerasa ada perasaan aneh yang gue rasain ketika dia ada di dekat gue.” Jawab Langit sembari menghela nafas lalu menatap Senja sejenak.
Senja kembali mematung ketika mata teduh itu menatap kearahnya, jantung nya kembali bereaksi bahkan hanya dengan tatapan itu.
Senja buru-buru menormalkan ekspresi wajah nya dan membiarkan detak jantung nya juga kembali normal.
“Widih, ajaib juga temen gue bisa bikin orang yang keras kepala kayak lo luluh bahkan tanpa alasan yang khusus.” Balas Senja sambil tertawa.
Langit hanya bisa mendengus kesal mendengar penuturan Senja.
“Gue gak tau yah kalo ternyata gue punya sahabat sekampret lo.” Ucap Langit sembari mencubit pipi Senja.
Senja mengaduh kesakitan, bukan hanya pipi nya yang merasakan sakit tetapi ada rasa sakit lain yang menjalar di hatinya ketika mendengar Langit mengatakan hal tersebut.
Senja tiba-tiba terdiam sembari menolehkan kepala nya kearah lain, ia tidak ingin Langit mengetahui perubahan yang terjadi padanya saat ini.
Untungnya Langit tidak bertanya mengapa Senja tiba-tiba diam, lelaki itu sekarang malah asik dengan game yang berada di ponselnya.
Senja kembali melihat kearah Langit yang sedang memainkkan ponselnya kemudian gadis itu menghembuskan nafas pelan.
“Langit.” Panggil Senja.
Langit langsung mengangkat wajahnya dari ponsel tersebut dan mata teduhnya bertubrukan dengan mata Senja.
“Kenapa?” Tanya Langit sembari menaikkan sebalah alisnya.
“Pengen pulang, udah mau gelap gini.” Rengek Senja dengan raut wajah yang menggemaskan.
Langit hanya bisa terkekeh pelan melihat tingkah sahabatnya itu kemudian lelaki itu mengulurkan tangannya untuk mengacak pelan rambut Senja.
“Yaudah ayo balik, gue anterin.” Ucap Langit sembari menghentikkan tangannya yang berada di puncak kepala Senja dan beralih untuk merangkul bahu gadis itu.
“Gak ah, gue masih bisa pulang sendiri.” Tolak Senja sambil berusaha menyingkirkan tangan Langit yang bertengger manis di pundaknya.
“Gak usah keras kepala, kalo gue bilang gue anter yaudah gue anter. Lo pikir gue bakal ngizinin lo pulang sendirian malem-malem gini? Jangan harap yah, gue cuma gak mau lo kenapa-kenapa.” Jawab Langit dengan sedikit nada penekanan di setiap katanya.
Senja hanya bisa mendengus pasrah mendengar perkataan Langit, karena ia tau Langit merupakan pribadi yang tidak bisa di bantah dan dengan terpaksa kali ini Senja akan mengikuti kemauan Langit.
Sikap Langit yang seperti ini yang terkadang membuat Senja berpikir bahwa Langit mempunyai perasaan lebih terhadapnya, tetapi semua itu hanya perasaan Senja saja yang terlalu berlebihan menanggapi sikap manis sang Langit.
Hari ini semua nya jelas, kepastian yang Langit berikan mampu menampar Senja kembali ke kenyataan.
Bahwa dirinya memang hanya menjadi pemeran pelengkap dari kisah Langit bersama orang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
It Hurts
Genç KurguSenja itu seperti pertemuan terang dan gelap. Saat senja tiba kita bisa melihat sisa cahaya dari matahari yang membaur dengan kegelapan malam yang mulai datang. Meraka menyatu dan membuat langit seakan-akan berwarna jingga dan sangat indah. Namun ba...
