Empat

4.9K 101 1
                                        

"Harry" panggil Bilqis nyaring dari arah dapur sambil menaruh secangkir kopi dan juga roti panggang di atas meja makan. Dengan rambut hitam kelamnya yang tergelung rapi Bilqis mencoba meraih sebuah botol selai stroberi dari lemari penyimpanan yang cukup jauh dari jangkauannya. Ia berjinjit setinggi yang ia mampu dan hampir saja menyentuh botol kaca itu dengan susah payah.

Harry yang baru saja muncul dengan setelan jas yang siap untuk berangkat ke kantor, tak henti-hentinya terus tersenyum di setiap langkahnya. Ia sempat terhenti dan bersandar pada kusen pintu dapur saat memperhatikan Bilqis yang tengah berusaha meraih botol selai.

Pakaian yang Bilqis kenakan sebenarnya cukup sopan untuk orang yang tengah berada di dalam rumah. Ia mengenakan baju rajutan berwarna putih dengan lengan panjang dan juga jeans biru tua yang tidak terlalu ketat. Tapi entah kenapa setiap hal yang terdapat pada Bilqis membangkitkan nafsu asrama Harry yang berapi-api.

Harry menundukkan kepalanya dan menggeleng pelan mencoba untuk menstabilkan detak jantungnya yang terus memompa dengan keras.

Padahal sudah semalaman ia melakukan hal yang begitu menggairahkan bersama Bilqis. Bahkan pagi ini ia juga melakukan hal yang sama sebagai sepasangan pengantin. Tapi entah mengapa Harry terus menerus memikirkan kejadian itu berulang-ulang dikepalanya hingga ia hanya dapat menatap datar bagian selangkangan celananya dengan khawatir.

"Harry" panggil Bilqis yang mulai tertatih-tatih karena sudah lama ia berusaha dengan keras untuk meraih botol selai yang jauh dari jangkauannya.

Harry yang sempat mengkhayal lebih dulu kini tampak kembali terfokus untuk membantu istrinya. Ia melangkahkan kakinya berlahan ke belakang Bilqis dan meraih botol selai dengan mudah.

Bilqis berbalik dan menatap Harry yang sudah lebih dulu duduk di kursi meja makan dengan tenang sambil mengayun-ayunkan botol selai dengan santai.

"Kenapa lama sekali?" tanya Bilqis bertolak pinggang dan kening berkerut melangkah ke samping Harry.

Harry hanya tersenyum tipis melihat Bilqis yang lembut tampak cemberut dihadapannya. Setelah Bilqis duduk dengan tenang pada kursinya. Harry membuka tutup botol selai dengan mudah dan menyodorkannya ke arah Bilqis yang masih dengan kesal memandangi meja makan.

Bilqis melumuri bagian atas roti panggangnya dengan selai stroberi hingga rata, ia sempat melirik sesekali ke arah Harry yang masih memandanginya dengan senyumannya yang tak kunjung luntur barang sedikitpun. Bilqis yang merasa risih dengan hal tersebut hanya dapat berdeham ke arah Harry.

"Apa ada yang salah?" tanya Bilqis keheranan menatap Harry yang masih saja tersenyum kepadanya.

Harry yang mendengar pertanyaan itu hanya dapat menarik garis senyumannya semakin dalam dan mengangkat bahunya sebagai jawaban. Ia terkekeh berlahan dan meraih roti yang telah dilumuri selai oleh Bilqis dari tangannya segera.

Bilqis hendak protes akan Harry yang merampas rotinya, tapi ia hanya diam saja melihat Harry melahap roti itu dengan semangat.

"Bukankah kau tidak suka stroberi?" tanya Bilqis keheranan mendekatkan wajahnya pada Harry yang masih mengunyah roti panggangnya sambil menyeruput kopi berlahan.

Harry dengan acuh hanya melirik Bilqis sekilas yang memandanginya dengan bingung.

"Kau bohong padaku. Jikalau kau tidak menyukai stroberi?" tanya Bilqis yang memangku tangannya memandangi Harry.

"Aku memang tidak suka stroberi." Jawab Harry setelah selesai menyeruput kopinya dan setengah dari roti panggang yang telah dikunyahnya ia letakkan kembali di atas piring Bilqis yang kosong.

"Lalu.." ucap Bilqis mengambil nada panjang memandangi Harry dengan mata bulatnya.

Harry terkekeh melihat Bilqis yang begitu penasaran akan hal itu. Tapi ia mendekatkan wajahnya dengan cepat ke arah Bilqis dan mencium bibir itu dengan segera.

Bride & Groom (Bilqis & Harry Tales Series)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang