"Tak perlu kesan yang baik untuk menjadikannya sebagai teman, karena teman tak hanya memberi kebahagiaan, namun juga kesedihan"
__________
🍁🍁🍁
"Fira ayo duduk sini, kenalan dulu sama Keira. " Dewi mengajak Fira agar ia duduk di sebelah Keira.
Entah kenapa Fira merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Bundanya, ia sudah berusaha berbaik sangka, namun tetap saja pikiran yang tidak baik selalu berputar di kepala dan pikirannya.
Dengan langkah gontai, dan sedikit berjalan malas ia pun mendekati Keira, sebisa mungkin Fira memberikan senyum termanisnya kepada semua orang.
"Fira belum kenal ya sama anak Ibu? " ternyata itu Bu Nurul yang bertanya kepada Fira, tapi sepertinya Fira tak berniat untuk menjawab pertanyaan itu.
Azka yang memperhatikan kelakuan adiknya mulai gelisah, Azka tau jika adiknya tidak ingin untuk menjadikan Keira sebagai teman barunya, namun sifat Fira begitu terlihat jika ia tidak suka, dan hal itu membuat Azka harus mengambil alih agar Fira tidak terlalu kelihatan jika ia tidak suka dengan Keira.
"Kalau Fira sepertinya belum kenal Bu. Tapi Azka kenal kok, Keira ini anak kecil yang selalu memakai bando kan?" entah keberanian dari mana yang mendorong Azka untuk menjawab pertanyaan Nurul yang di tujukan untuk Fira.
Semua hampir terkejut, Keira yang diam dan menunduk tiba-tiba saja dapat merasakan aura panas di pipinya, ia menjadi gugup dengan jawaban Azka.
Fira menatap Azka dengan heran, kenapa ia tidak tau dengan Keira? Padahal dulu saat kecil ia selalu lengket dengan Azka, dimana ada Azka di situ pasti ada Fira, tidak mungkin kan Azka bertemu dengan Keira itu saat Fira masih bayi? Itu tidak mungkin karena di lihat perbedaan umur Azka dan Fira hanya berjarak 1 tahun.
"Wah iya kamu masih ingat ya, itu sudah lama sekali, waktu itu Keira belum makai jilbab, dan waktu itu Keira juga belum sekolah. " balas Nurul dengan senyum yang mengembang ia jadi ingat saat Keira dan Azka waktu kecil.
Sekali lagi Fira menatap heran, ia diam saja tapi matanya terus melirik si Keira yang diam-diam terlihat jika pipinya merah merona karena malu.
"Keira rencananya mau kuliah di mana Bu? " Azka bertanya seolah hal yang biasa, ia sangat lancar bertanya dan mengeluarkan suara.
"Rencananya mau kuliah di Bandung. Tapi belum tau di universitas mana " Nurul menjawab dengan tatapan sendunya ia berharap agar Azka membantu Keira untuk mencari universitasnya.
Azka tidak lagi membalas ucapan Nurul, ia memilih untuk diam dan tersenyum seramah mungkin.
"Jadi, kamu benar-benar pindah ke Bandung Nur? " Dewi bertanya yang sebenarnya, ia ingin memastikan jika teman lamanya ini menetap di kota yang sama dengannya.
"Iya, Mas Rayhan bilang gitu. Biar kita jadi lebih akrab. Ya kan Mas?" tatapan Nurul berhenti pada Rayhan suaminya, dan hal itu di balas oleh Rayhan dengan senyuman.
"Ya sudah kalau gitu kita langsung ke intinya saja ya. " potong Ahmad saat di sela pembicaraan, ia merasa kedua anaknya sudah menatap bingung ke arah topik pembicaraan mereka.
"Azka, Ayah rasa kamu sudah bisa membimbing suatu keluarga. " Ahmad masih berbicara dengan lembut, ia berhati-hati dalam membicarakan hal inti ini, karena ia sangat berharap Azka mau mendengarkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Assalamu'alaikum Ukhti
SpiritualMaut, rezeki, dan jodoh. Semua telah di atur oleh Nya, maka percayalah dan serahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Yakinlah Allah selalu bersama dengan hamba-hamba Nya.
