"Dan sesungguhnya hanya Dia, Allah, yang dapat membuat seseorang tertawa atau menangis."
🍁🍁🍁
"Aku tau apa yang terjadi Nis. Dan semua itu karena ada sesuatu di antara kalian berdua. "
"Tolong kamu jauhin dia! "
"Aku mau kamu jauhin dia, Nisa! "
Kata-kata itu terus berputar di kepala Caca. Ia tak menyangka jika orang yang ia percayai akan berkata seperti itu padanya. Bahkan semua pertemanan yang sudah mereka jalin pun sudah hancur tak bersisa.
Malam ini ia harus tidur dengan terpakasa, berulang kali matanya selalu saja terbuka dan tak mau menutup. Tanpa sadar pikirannya terus berputar, hingga akhirnya awan gelap itu pun datang membuat Caca memasuki alam tidurnya.
Mentari pagi bersinar terang menembus celah jendela kamar milik Caca. Pagi ini ia masih berada di atas kasurnya yang empuk tanpa mau sedikitpun membuka mata dan mengabaikan sinar matahari yang seolah menyuruhnya untuk bergegas dari tidur panjanganya.
"Caca? Kamu tidur lagi? " Hana mengetuk pintu kamar Caca yang sengaja di kunci dari dalam.
Suara lembut Hana membuat Caca mulai sadar dari mimpinya. Namun ia masih belum membuka mata, suara Umminya hanya bayang-bayang saja di dalam tidur Caca. Ia merasa lelah dan badannya seperti panas dingin.
"Sebentar lagi Ummi. " Caca berusaha mengumpulkan kesadarannya. Setidaknya ia berusaha menjawab pertanyaan Umminya itu agar tidak khawatir dan cemas.
"Bangun Ca, udah siang. Nggak baik tidur di jam segini. " Hana terus membujuk Caca agar ia bangun. Ia heran mengapa putrinya itu susah sekali di bangunkan, tidak biasanya Caca seperti ini.
"Kenapa Ummi? " Fathur melangkah mendekati Umminya. Ia baru saja keluar dari kamarnya yang memang bersebelahan dengan kamar Caca.
"Ini Caca kok nggak mau bangun, Coba kamu bangunin Caca siapa tau dia mau. " Hana mulai terlihat cemas. Tapi segera ia tepis pemikiran buruknya itu, dan setelah itu ia pergi turun ke lantai bawah untuk kembali memasak lagi di dapur.
"Ca? "Fathur mengetuk pintu kamar adiknya. Ia masih terlihat tenang.
Tidak ada jawaban dari dalam sana. Ada apa dengan adiknya? Bukankah kemarin ia baik-baik saja mengingat setelah dari rumah Fira ia hanya tersenyum. Walaupun ia pulang dengan baju yang basah. Apa? Tunggu, bajunya basah?
"Caca buka pintunya!!! " Fathur sangat panik saat ia mengingat hari kemarin. Fathur belum menanyakan apa yang terjadi kepada adiknya, karena Caca bilang ia mengantuk dan ingin langsung istirahat.
Lagi-lagi tidak ada jawaban, baiklah Fathur rasa tidak ada salahnya pintu ini rusak. Semua demi kebaikan adiknya, semoga saja Caca baik-baik saja.
"Mas dobrak pintu kamar ini kalau kamu nggak jawab. Buka pintunya Ca! " masih sama tidak ada jawaban. Dalam hitungan ketiga Fathur mendobrak pintu kamar Caca dengan mudahnya, sehingga pintu kamar itu terbuka dengan sempurna. Rusak total!
Di sana terlihat Caca dengan wajah yang pucat, keringat yang membanjiri pelipisnya, dan matanya terlihat menutup seolah tak berniat lagi untuk membuka mata. Benarkan dugaan Fathur, adiknya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Caca? Bangun dek, Ya Allah. " Fathur segera mengambil ponselnya. Ia menghubungi dokter kepercayaannya agar segera memeriksa keadaan Caca.
Tak lama itu Hana datang dengan tergesa-gesa. Bahkan nafasnya tersengal. Ia sangat kaget saat mendengar teriakan Fathur, di tambah lagi Hana mendengar suara pintu yang sengaja di dobrak dengan kuat. Ia segera berlari menuju sumber suara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Assalamu'alaikum Ukhti
SpiritualMaut, rezeki, dan jodoh. Semua telah di atur oleh Nya, maka percayalah dan serahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Yakinlah Allah selalu bersama dengan hamba-hamba Nya.
