Kali ini dia merasa senang. Kali ini.
...
Tetesan air jatuh seperti hujan ke arah bunga mawar yang di tata apik di perkarangan. Oma meletakan gembor di bawah setelah merasa air untuk bunga-bunganya cukup. Ia ambil beberapa bagian daun yang tampak layu, lalu membuangnya.
Wanita ini memang sangat senang menanam. Maka tak jarang perkarangan beliau selalu asri dan segar.
Tersenyum tipis dan menarik napas perlahan, kegiatan pagi yang selalu menyenangkan oma selalu merasa sehat dengan melihat bunganya mekar setiap hari.
Mengedarkan pandangan renta, tiba-tiba suara motor berhenti di depan pagar rumahnya. Mata oma yang memang sudah rabun, membuat nenek itu menyipitkan pandangan berusaha mengecap siapa sosok bermotor tersebut.
Hingga Aksal berjalan dengan senyum ramahnya, masuk membuka pagar. Cowok itu mendekat ke arah oma yang menatap.
"Selamat pagi oma.." sapanya ingin menyalami. Bukan dapat sambutan menyenangkan, Aksal malah mendapat jeweran di telinganya. Cowok itu mengadu kecil.
"Aduhh, oma!" Ujarnya memegang telinga.
"Mau jadi apa kamu.. senyam-senyum datang ke sini pagi-pagi. Enggak sekolah bangga sekali" oceh oma dapat cengiran dari Aksal. Cowok itu menggaruk tengkuknya, sudah dia terka sebelumnya oma pasti akan mengoceh jika dia datang pagi begini di hari sekolah.
"Oma mau makan gado-gado di depan ngak? Aksal traktir kita sarapan bareng" ajak Aksal mengubah topik pembicaraan cowok itu berusaha menarik hati si oma Nita.
Oma diam sesaat, berpikir "oma gak cukup hanya di sogok gado-gado loh" usik oma.
Aksal mencibir pelan "plus jalan pagi, gimana mau?"
...
Dinginya angin pagi ternyata tidak membuat oma mengaduh. Malah wanita itu bersemangat menikmati kesegeran. Masih memegang erat pinggang Aksal yang menggocengnya, oma melihat keseliling jalan.
Aksal tersenyum tipis menahan tawa ketika ia pandangan wajah oma di kaca spion. Dengan setelan helm, jaket kulit yang sedikit nyentrik membuat oma terlihat lucu. Dari sisi ini oma Nita terlihat seperti nenek-nenek gaul jaman sekarang.
"Senang'kan oma? Aksal sudah layak ni jadi cucu menantu oma" ucapnya.
"Enak aja, cucu menantu oma gak ada yang bolos kayak kamu" jawab oma dapat tawa pelan Aksal.
"Tapi cuman aku yang mau ngajak oma jalan-jalan'kan?" Senyum kemenangan merekah di bibir Aksal, ia tatap ekspresi wajah oma yang tersenyum tipis.
Kembali, Aksal memenangkan lagi dan lagi hati oma Nita.
....
Menyandarkan kaki motor, Aksal mematikan mesin motornya. Menunggu oma turun perlahan, setelah yakin oma sudah turun Aksal mengikuti. Cowok itu melepas helm di kepalanya, lalu menerima helm yang di berikan oma. Ia letakan kedua helm itu di tempat duduk.
Oma sudah berjalan terlebih dahulu ke arah warung yang menjual makanan. Nasi lemak, gado-gado, dan sayur lontong tertera dengan tulisan berwarna hitam pekat di sana.
"Bu, gado-gadonya dua. Gak usah pakek cabe. Soalnya saya udah bawa cabe-cabean" ujar Aksal santai membuat oma memukul pelan bahu Aksal karena malu sebab ibu penjual tu sudah tertawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aksadara √
Fiksi RemajaAksal tidak tahu bentuk apa yang dapat ia jelaskan untuk Dara. Yang Aksal tahu pernah mengenal Dara adalah anugrah terindah. Mereka telah melalui banyak fase dimana harus berhujanan di kelopak mata dan bermain di taman es krim yang siap meleleh kapa...
