Aksadara 02

3.3K 271 4
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

...

Sekarang aku mengerti mengapa banyak orang mengeluh soal hati

...


Kekacauan beberapa menit lalu berhasil membuat lingkaran tanpa komando tercipta. Kantin sekolah yang awalnya hanya terasa memusingkan karena berisiknya obrolan, berubah menjadi teriakan. Dara menginjitkan kakinya berusaha melihat dengan jelas wajah Aksal di sana, cowok itu di sana di dalam lingkaran yang menjadi pusat perhatian.

Aksal memang suka seperti ini, cowok itu terlalu kasar terkadang terhadap sesuatu. Ia semacam punya jadwal pribadi untuk melakukan pertunjukan setiap jam istirahat atau jam kosong.

Memejamkan mata dan menarik napas panjang, Dara mulai memasuki kerumunan berdiri di barisan paling depan. Ia melihat Aksal yang sedang di tahan bahunya oleh Veron dan Fikri sedangkan cowok yang menjadi lawanya yaitu Gibran memegang rahang bawahnya.

"suka gak lo? Jadi pusat, di perhatiin" Gibran tersenyum di akhir kalimatnya, cowok itu mendekat ke arah Aksal yang mulai melepas pegangan Veron dan Fikri di bahunya. Aksal menatap Gibran geram, entah kenapa Aksal benci cowok bacot semacam Gibran. Sok di segala hal.

"mau lo apa, bedebah?" Aksal mengepal tanganya ketika mendapat respon angkuh dari Gibran. Ia dan Gibran tidak punya dendam pribadi, tapi Aksal tidak mengerti mengapa cowok satu ini selalu merecoki kehidupanya di sekolah. Selalu sibuk tentang urusanya.

Aksal tahu dia populer, banyak yang iri namun jangan juga sampai segininya.

Dara yang berada di barisan penonton, mulai mendongak. Ia ingin ada guru yang menengahi mereka, namun Dara tidak mau Aksal dapat masalah lagi. Cowok itu sudah berada di batas kesabaran sekolah.

"gue mau makan" ucap Gibran tepat di hadapan Aksal "mikir gak lo" tunjuk Gibran ke kepala Aksal. Aksal menggeram dan memejamkan matanya menahan kesal. Aksal harus sabar, orang sabar di sayang Tuhan.

Membuang pandangan, Aksal tersenyum ke arah Gibran "antri. Mikir " ucapnya dan menunjuk ke arah kepalanya. Meledek gerakan Gibran semula.

"gue gak mau'' Gibran tersenyum remeh, semakin mendekatkan dirinya ke arah Aksal. Cowok itu berbisik pelan "bukanya kita spesial, keluarga kita donatur" setelah itu Gibran menjauhkan dirinya, melihat respon Aksal yang diam.

Merasa muak, Aksal mecengkram kerah baju Gibran. Membuat sebagian siswi yang melihat memekik kecil. Aksal tahu Gibran itu kaya, orang tuanya berpengaruh disini. Lantas, apa itu alasan yang membuat cowok seperti dia bisa berlaku sesukanya, menyerobot dan menghina orang. Mereka itu pecundang yang sembunyi di balik kekuasaan. Gibran itu memalukan, hanya seorang anak yang mengandalkan kekuasaan orang tua. Aksal benci orang-orang seperti itu.

"Gue gak suka alasan lo" Aksal menggeleng masih mencengkram erat kerah itu. Mendapat perilaku seperti ini, Gibran menaikan sebelah alisnya. Ia paham maksud Aksal.

"jangan lupa Sal, lo dan gue itu sama aja. Tanpa alasan itu lo gak mungkin bertahan disini sampai detik ini'' ucapan Gibran membuat Aksal hampir melayangkan pukulanya. Namun cowok itu manahan, Aksal lupa fakta itu, dengan berat hati ia lepas cengkraman di kerah Gibran.

Gibran tersenyum tipis, membenarkan bajunya dan menatap sekitar "kita berdua mendapat perhatian dengan cara ini. Jangan pernah bosan buat pertunjukan" ia tepuk bahu Aksal pelan sebelum berlalu tepat di saat seorang guru datang memecah kerumunan.

....

Aksal mengacak rambutnya gusar, merunduk ke bawah. Setelah kejadian bodoh tadi, pak Rudi menyuruh semuanya untuk bubar termaksuk Aksal. Aksal masih beruntung kala itu, dia masih di beri kesempatan.

Ahh, Aksal lupa. Dia memang selalu di beri kesempatan. Gibran benar tentang alasannya.

"Hey..."

Aksal mendongak mellihat Dara berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Cewek itu menyodorkan sebotol minuman kaleng dan Aksal menerimanya dengan senyum tipis.

Lalu keduanya diam membungkam. Menikmati kesunyian duduk di tangga menuju atap sekolah. Jika ditanya, bagaimana Dara tahu Aksal disini maka pertanyaan yang tepat adalah kemana Aksal akan pergi untuk sembunyi. Tentu jawabanya hanya tempat ini, tempat dimana ia bisa melepas semuanya.

Dara melirik Aksal yang sekarang memainkan minumnan kaleng yang ia berikan. Pikirianya kosong.

"Makasih Dar..." Aksal berujar pelan menoleh ke arah Dara. Ia pandang manik coklat itu dalam, berusaha mencari ketenangan. Lalu cowok itu tersenyum singkat.

"Gue denger ada perlombaan, gimana udah ada pilihan?" Aksal tahu perlombaan ini dari Dean. Cowok itu yang memberi informasi ini secara percuma, awalnya Aksal tidak mengerti apa tujuan Dean karena ia tahu di lain sisinya. Namun untuk ink Aksal paham apa tujuan cowok itu sebenarnya.

Dara berpikir sejenak dan menggeleng pelan, ia sipitkan matanya lalu menopang dagu menatap Aksal selidik "tumben sekali cowok ini perduli" senyum Dara di akhir kalimatnya.

Mendengar itu Aksal tersenyum miring, ia topang juga dagunya dengan tangan. Mengikis jarak "jadi makin sayangkan" Aksal mengedip sebelah matanya membuat Dara menutup mata Aksal dengan tangan. Ia jauhkan wajahnya dari posisi semula.

"lo harus di foto dan di laporkan" ujar Dara mulai mengusik kamera yang menggantung di leher. ia arahkan kamera itu ke Aksal, bukanya malu Aksal malah semakin mendekatkan wajah ke kamera dan tersenyum bangga. Mendapati respon Aksal seperti ini Dara berdecak kecil, lalu memfoto cowok itu.

"karena lo gak memberontak gue kasih hadiah" ia rogoh saku bajunya, mengambil plaster luka bergambar mickey. Membuka dan menempelkan plaster itu di tangan Aksal yang sedikit tergores dan berdarah.

Dara tersenyum mengusap luka itu pelan dan Aksal hanya bisa diam. Memperhatikan kembali Dara yang memfoto tanganya, melihat gadis itu tersenyum karena senang akan hasil potretanya. Aksal ingin bilang Dara mengagumkan.

"Dara.." panggilan itu terdengar manis di telinga, Dara menoleh menatap manik kelam Aksal. Jeda sejenak sampai Aksal mengukir senyum kecilnya, Dara itu istimewa bagi Aksal. Terlampau istimewa jika kalian ingin tahu.

"mau cari inspirasi foto sama gue?" pertanyaan itu bagaikan keajaiban bagi Dara. Maka pula respon pertama yang dapat ia berikan hanya sebuah keterkejutan. Ajakan itu terdengar seperti kencan dan Aksal tidak pernah sebelumnya seperti ini.

Dara mengulum senyumnya dan membenarkan rambut. Ia tatap kamera di tangan sebentar sebelum kembali melihat Aksal "gue boleh bilang ini kencan, Aksal?"

Aksal mengedihkan bahunya "gak ada yang tahu" ujarnya bangkit dari duduk, menyulurkan tangan ke arah Dara. Dengan senang hati Dara menerima uluran tangan itu "kalau gitu boleh di coba"

"oke, dan yah.. lo harus kembali ke kelas karena---" suara bel bertanda istirahat usai berdering kencang, Dara melepas peganganya di tangan Aksal "kita berdua Sal, bukan hanya gue" jelas Dara memperhatikan cowok itu seksama. Dara sudah paham betul ingin kemana cowok ini.

Aksal mengulum bibir nya penuh, seolah berpikir sebentar lalu cowok itu naik satu tangga "maaf, gue kali ini lebih memilih rooftop dari lo Dar" ucap Aksal memberikan cengiran khas cowok itu sebelum berlari menaiki tangga menuju atas.

Dara hanya dapat menghela napas, itu dia Aksal cowok yang selalu bolos pelajaran.

-Aksadara-

a/n : Oke oke. Haiii, selamat datang 2019. Kayaknya aku bakalan up 5 part deh. Cerita ini gak bakalan slow, sepertinya. Ide aku ngalir mulu di sini. Jadi yah, kenapa enggak?

Aksadara √Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang