Aksadara 18

2K 174 1
                                        

Terkadang aku berpikir apakah takdir
memang mengatakan kita harus berakhir

....

Perlahan lutut kakinya jatuh ke tanah, tanganya mengulur pelan menyentuh. Sorot tajam meneduh, memberi sirat penyesal. Aksal mengepal tanganya kuat, dia sekarang sedang tersungkur di depan makam oma.

Cowok itu baru berani menapakan kakinya disini, setelah tiga hari berlalu.

Ia pandang papan nama oma, lalu ia menunduk malu. Aksal menyesal pernah menolak ajakan Dara waktu itu, tapi Aksal bersumpah dia punya alasan. Alasan yang tidak bisa Aksal ganggu, alasan yang tidak mampu membuat Aksal memilih.

Dia tidak bisa memilih.

Membuang napasnya perlahan Aksal tersenyum gentir "assalamualaikum oma.. maaf Aksal baru bisa datang sekarang" Aksal letakan setangkai mawar putih di atas gundukan tanah itu.

Ia masih tersenyum sampai dirinya gagal menahan sesak dadanya. Lengkungan di bibirnya perlahan sirna, berganti dengan gigitan kecil penahan tangis "ada banyak hal yang terjadi, aku gak bisa menanganinya seperti aku biasanya" cerita Aksal, cowok itu mengusap nisan oma.

"Aku juga jadi sangat pengecut. Aku juga gagal menjaga Dara. Aku juga tidak ada di samping dia, di saat dia terpuruk. Aku bukan Aksal yang oma harapkan. Maaf" lirih Aksal semakin kuat mengunci bibirnya dengan gigitan. Ia remas tanah berusaha memberi sinyal kepada dataran, bila takdir sudah sangat berhasil memberinya duka.

Aksal ingin berbagi dan bilang jika dia perlu pertolongan.

"Aku sayang Dara oma, sangat sayang kepada cucu oma. Tapi...." Aksal tarik napasnya panjang, tiba-tiba perasaan tidak enak mendesir begitu saja "aku sadar, bahwa rasa sayang sebesar apapun tidak akan mengubah keadaan. Keadaan, yang bilang jika aku tidak pantas untuk dia" setetes air mata Aksal perlahan jatuh tepat mendarat di tanah.

Cowok itu menggelengkan kepalanya, menarik napas berusaha menetralkan emosinya "maaf oma, aku tidak bisa. Maaf jika nanti aku melepaskan dia. Maaf jika itu memang menyulitkan, maaf aku tidak berjuang kembali... maaf...maaf" kata itu berulang kali di lontarkan Aksal. Ia menyesal, sangat.

"Maaf, karena aku mencintai dia oma.." dan habislah sudah segala rasa yang ingin Aksal sampaikan kepada oma untuk terakhir kalinya. Aksal sudah memilih dan pelihanya jatuh pada masa yang paling sulit.

Yaitu, masa melepaskan.

..

..

..

Dara mendongak, memandang gerbang tinggi yang menjulang gagah di depanya. Ia melihat ke dalam, ke arah pekarangan rumah besar.

"Loh, neng Dara.. malam-malam datang mau ketemu Aksal?"  pak Surni satpam yang berkerja di rumah Aksal mendekat ke arah Dara. Bapak itu lalu membuka pintu gerbang, mempersilakan Dara masuk ke dalam.

"Iya, Pak. Aksal nya ada?" tanya Dara.

Pak Surni mengangguk "ada neng di dalam rumah" tunjuk pak Surni ke arah pintu putih yang berjarak tak jauh dari gerbang.

Dara tersenyum dan berterimakasih sebelum kembali melangkah menuju pintu utama.

Setelah menunggu dengan waktu yang cukup lama. Akhirnya, Dara putuskan mendatangi rumah Aksal. Dia tidak bisa hanya berdiam diri, menunggu Aksal di ujung telpon sana. Sedangkan yang di tunggu tak pernah terdengar kabar sama sekali.

Dara akan memperbaiki hubungan mereka yang tiba-tiba merenggang. Veron bilang, Aksal merasa bersalah karena sudah menolak ajakan menjenguk Dara. Maka dari itu, Aksal belum berani menapakan dirinya di depan Dara.

Aksadara √Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang