Aksadara 21

2K 176 7
                                        

Mungkin aku sudah terlalu lama berekspetasi tentang kamu yang mencintaiku atau aku yang mencintai kamu. Hingga aku lupa tentang dunia, sebuah realita yang menggambarkan bahwa kita tak akan lagi bersama.

...

Sejak awal Dara sudah akui tidak ada satupun orang yang mengenal Aksal. Sedekat apapun kita dengan Aksal, cowok itu masih sulit tetebak.

Bahkan setelah mendengar semua tutur kata Vira, Dara tak dapat percaya bila yang sedang di ceritakan Vira dan dia tatapnya sekarang adalah Aksal.

Vira benar, Aksal ialah sosok yang berbeda sekarang. Terlihat sangat jelas keletihan di mata dan punggung tubuh membawa beban. Aksal tertatih meminta pertolongan dalam bisunya.

Ia dekatkan langkah kakinya. Dara berdiri tepat di depan Aksal yang duduk di bangku tunggu. Cowok itu menunduk, mengepalkan kedua tanganya menjadi satu .

Dalam kondisi seperti ini, tidak ada yang bisa Dara lakukan. Selama ini Dara pikir dirinyalah yang hanya terluka, hanya dia yang mengalami banyak cobaan. Ternyata salah, orang yang selama ini Dara pikir hidupnya bebas jauh menyimpan luka.

Aksalnya selama ini menderita.

"Kenapa gak bilang, kenapa gak bilang urusannya ini? Kenapa harus diam Sal?" Dara tarik napasnya dia berusaha menjaga nada suara agar tidak bergetar.

Faktanya adalah di waktu Dara memaksa Aksal untuk datang menjenguk oma, cowok itu juga sedang dalam keadaan susah. Hari dimana oma di bawa ke rumah sakit menjadi hari dimana Riana mengalami kecelakaan. Semuanya terjadi dalam waktu yang bersamaan.

Aksal tidak dapat memilih salah satu dari keduanya, karena mereka semua penting.

Dia tidak bisa selalu di beri pilihan sulit.

Aksal diam enggan menjawab, dia tidak tahu harus merespon seperti apa sejak Dara sudah melihat segala keruntuhanya.

Aksal malu jika terlihat lemah seperti ini.

"Jika aja elo bilang, kita bisa saling menguatkan. Gak gini akhirnya, gak retak begini... " manik coklat itu sejak tadi bicara tanpa melihat sosoknya, Dara hanya memandang lurus ke dinding putih. Dia memandang kabur benda mati itu.

Jika ditanya apakah Dara kecewa, tentu saja dia kecewa. Tapi, ada perasaan lain yang lebih memukulnya yaitu rasa bersalah.

Mengingat keegoisanya kemarin, itu sama saja menambah beban Aksal. Karena Dara meminta cowok itu memilih, Dara memaksa kehendaknya. Dia buruk.

"Kenapa..." Aksal pandang Dara yang juga memandang dirinya, ia lihat hidung Dara yang sudah memerah. Aksal tahu Dara kesal "...kenapa harus lo yang lihat ini"

Aksal tersenyum remeh dan kembali menunduk "gue buruk banget"

"Aksal...--" "lo gak harusnya kesini"

"Semua yang di bilang Vira itu bohong. Gue ngelakuin itu semua yah emang karena... karena gue muak. Gue muak sama lo" lanjut Aksal ia pandang Dara dengan senyum miringnya.

Senyum yang menggoreskan hati Dara. Dara kepal tanganya kuat, Aksal itu berengsek memang. Tapi, seburuk apapun cowok ini dia tetaplah Aksal. Cowok yang rapuh.

Aksadara √Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang