....
Kepalan di tangan itu mengeras, ketika matanya menatap tawa seseorang. Senyum sinis itu muncul, dia masih bisa tersenyum setelah berhasil membuat tangis pecah. Cih, dasar manusia sampah.
Dengan gerakan cepat, ia berjalan ke arah sekumpulan orang yang sedang bergurau di bengkel. Dean menarik jaket Aksal dari belakang tiba-tiba. Membuat tubuh cowok itu hampir terjungkal ke belakang.
Mendapat serangan tiba-tiba teman-teman yang lain hendak bangkit. Namun, Ardi menahan mereka. Meminta untuk tidak ikut camput, karena Ardi sadar seragam yang di kenakan cowok itu seragam sekolah Aksal.
"Biarin mereka.. jangan ada yang ikut campur" pinta Ardi, lalu sebagian temanya mulai melepas kepalan tangan mereka.
Aksal yang di tarik tiba-tiba. Menatap Dean heran, kenapa cowok ini datang dengan beringas terutama di tengan jam sekolah. Ini bukan gaya Dean.
"Santai, kenapa lo?" Aksal membenarkan jaketnya. Ia mendekat ke arah Dean yang masih menatapnya tajam.
Tepat saat Aksal mendekat, Dean menonjok wajah Aksal kuat. Membuat teman-teman yang lain mengumpat.
"Gue gak papa, dia teman gue" Aksal memegang bekas tinjuan Dean dan memberi isyarat jika dia baik-baik saja.
Aksal masih tidak mengerti kenapa Dean datang dengan emosi seperti ini. Seingat Aksal dia tidak punya masalah dengan Dean, mereka juga terkadang main bersama.
"Bangsat lo Sal!" Dean mendekat ke arah Aksal, menarik kerah baju cowok itu "kemana lo anjing, kenapa lo gak dateng?!"
Mengernyitkan dahi Aksal membiarkan Dean menarik kerahnya. Ia biarkan semua kekesalan cowok itu, lagipula jika Aksal ikutan menonjok. Wajah Aksal bisa tambah rusak, saat ini Dean dalam keadaan tidak punya belas kasihan. Aksal bisa mampus jika melawan.
"Lo tau dia nunggu lo, dia nunggu dengan ketidakpastian lo!" Dean menunjuk Aksal, membuat kernyitan di dahi cowok itu semakin ketara. Siapa sebenarnya yang menunggu dan di tunggu.
Aksal memang tidak paham.
"Tunggu De, lo bahas siapa?" Pertanyaan Aksal membuat tawa Dean mekar. Ia tatap Aksal tidak percaya. Cowok satu ini.
"Cih, sampah. Lo masih tanya? Lo pikir untuk siapa gue datang kesini, untuk SIAPA!" Dean melepas cengkramanya dan menjulak cowok itu. Aksal terjatuh dan membeku. Masih ia pandang wajah marah Dean.
Lo pikir untuk siapa gue datang kesini.
Untuk siapa?
Telah sadar atas apa yang di katakan Dean. Tubuh Aksal bergetar. Dengan cepat cowok itu bangkit dan ia tarik seragam Dean erat "dia kenapa?? Jawab gue. Dia kenapa?" Aksal mulai histeris. Ketika tahu ini semua tentang gadis itu. Gadisnya.
Dara.
Melihat respon Aksal Dean tersenyum remeh, ini lelaki yang selalu Dara utamakan. Yang selalu Dara maafkan dan yang selalu Dara cintai.
"lo tu gak pantes sama dia" ucap Dean penuh penekanan di setiap kata. Ia biarkan Aksal mengerti perasaanya saat ini.
"Dia terlalu baik Sal"
KAMU SEDANG MEMBACA
Aksadara √
Teen FictionAksal tidak tahu bentuk apa yang dapat ia jelaskan untuk Dara. Yang Aksal tahu pernah mengenal Dara adalah anugrah terindah. Mereka telah melalui banyak fase dimana harus berhujanan di kelopak mata dan bermain di taman es krim yang siap meleleh kapa...
