Chapter 13: Almost is Never Enough

637 30 1
                                        

"UGH! I hate my life. Serba salah.." seruku sambil menendang bebatuan.

Aku menyusuri jalan sembari terus berfikir.

"Kalau begini caranya berarti Dylan hanya pelarian! Untuk apa mencintai orang yang tidak kau cintai?"

"Akankah aku menelepon Dylan nanti? Ia baru saja memberiku nomor hp-nya."

"You're so dumb , Layla"

"Jika kau tidak bijaksana dalam memilih sesuatu, hatimu akan sakit juga."

"Dylan yang terbaik, Layla."

"No, Greyson. Pilih dia walau dia menyakitimu"

"Don't fall in love, it keeps you away from your own best friend!"

"Mengapa sekarang Laura jadi terlupakan?"

" Don't ever fall in love."

"You don't understand what love is.."

ARGHH! Semuanya tersirat di otakku. Otakku bukan buku harian!

Greyson, mengapa kau telat sekali? Andai aku tau kau menginginkanku...

Kita tidak akan seperti ini sekarang..

Mungkin kita sudah saling menyayangi satu sama lain..

Why Greyson..

.

.

Why?

.

.

Aku sampai di rumah.

..

"Layla! You're home!" seru ibu menyambutku.

Aku tidak menjawab.

"Hunny?" .

Aku mendesah.

"Are you okay?" tanya ibuku.

"Yes mom, I'm just.. Tired." jawabku..

Aku mencium pipi ibuku, kemudian aku menghampiri ayah yang saat itu sedang libur bekerja.

"Hai, yah." ujarku. Ia mengecup keningku.

Aku segera pergi ke kamarku dan menutup pintu rapat-rapat. Elle belum pulang dari sekolahnya..

Aku mengambil secarik kertas dan kutulis semua yang sedang kurasakan Di sana..

"Layla, Layla, Layla. Kau terlalu bodoh untuk mencintai. You don't know what love is.. Mengapa kau harus terjebak di dalam perangkap ini?

Cinta memang indah..

Tapi secara bersamaan, ia membunuhmu. Membuatmu sakit, dan kau tak bisa memilih..

Sekarang kau sedang berada di masa-masa sulitmu. Ingatkan prinsipmu? Hidup itu layaknya sebuah piano.

Biarkanlah Layla, ini cobaan. Ada saatnya kau senang nanti, tuhan tau segalanya. Ada hitam Dan ada putih. Ada susah Dan ada senang. Di mana jika dimainkan bersamaan, akan terdengar indah. Bukan begitu? There will be no rainbow without any rain."

Aku menuangkan segala hal yang dapat menenangkanku.

Drrrtt!!

Hp-ku bergetar.

Sepertinya seseorang meneleponku.

.

.

"Halo?" ujarku.

"Hey, Layla.." suaranya familiar.

"Ohhh.. Heyy Dylan."

"Kau sedang apa?" .

Piano Love~ Greyson Chance love story [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang