Hujan turun di sertai angin kencang, gemerisik daun-daun yang tertiup terdengar lirih di jendela kaca kamar tidur Yusi. Gadis muda itu duduk termenung di atas tempat tidur seraya memandang hujan di luar.
Sudah tiga hari ini ia bertahan dalam diam, hanya turun ke bawah untuk makan dan menghabiskan waktu sendiri. Rambut panjangnya tergerai tak beraturan, wajahnya kusam dan sembab, entah sudah berapa kali ia menangis dalam dekapan bantal.
Bruuk!!
Terdengar suara sesuatu terjatuh di anak tangga. Yusi menoleh sesaat mendengarkan. Sunyi.
Braakk!!
"Apa sih!" Yusi turun dari tempat tidur, berjalan ke arah pintu dan melongokkan kepalanya melihat ke bawah. Nampak olehnya Rama yang terduduk di anak tangga, tubuhnya terlihat terkulai.
"Mas..?"
Hening.
"Mas..Mas ngapain di sana??!"Yusi berteriak kesal. Tetap tak ada jawaban.
Dengan rasa penasaran. Yusi turun, menepuk pundak Rama. Namun, alangkah kagetnya ia ketika melihat tubuh Rama yang terjatuh ke samping tak sadarkan diri.
Yusi menjerit, di lihatnya sudut bibir Rama yang pecah serta aroma alkohol yang menyeruak dari tubuh kakaknya itu.
"Mas...Mas Ramaa banguuunn!!!"
.
.
.
Bayu berdiri menatap rintik hujan yang mulai reda di dalam ruang tunggu rumah sakit. Di belakangnya Ria duduk memperhatikan, sesekali ia mengoyangkan sepatunya, bersenandung kecil.
"Pak saya sudah urus semuanya."Sonia datang dan memberikan beberapa lembar kertas pada Bayu.
"Terima kasih Sonia." Sonia mengangguk pelan, ia kemudian ikut duduk di sebelah Ria.
"Aku akan panggil taksi!" Bayu hendak melangkah keluar ketika tiba-tiba terdengar suara sirine ambulans memasuki halaman rumah sakit.
"Hikkss..hikkss...Mass...!!"terdengar suara tangisan seorang gadis yang masuk di ikuti beberapa petugas yang membopong seorang pemuda. Tubuhnya yang terbalut baju tidur panjang dengan rambut berantakan nampak lusuh.
Suara tangisannya mengema di dalam ruangan. Bayu hanya mengerutkan alis melihatnya.
"Looh itu Yusi!!" Ria yang berdiri di belakang Bayu, berlari menyongsong gadis muda yang masih terus menangis mengikuti perawat ke dalam ruangan. Bayu melongo sesaat.
"Apa?"
"Pak..itu Yusi..Benar pak itu Yusi..!!" Sonia ikut berlari mengejar Ria. Dada Bayu seketika terhentak kencang, ia tersadar dan berlari secepat mungkin ke dalam ruang ICU.
.
"Yusi..Yusiii...!!"
Ria berteriak memanggil Yusi. Yusi yang bingung membalikkan badannya, dalam kepanikan ia berusaha melihat lebih jelas.
"Ya Allah. Sayanggg kamu kenapa??" Ria memeluk tubuh Yusi yang bergetar hebat, mengusap air mata di pipi gadis itu dengan haru.
"Mbak..Mbak Ria??"
"Ya..ya sayang??"
Yusi berteriak histeris ketika melihat Ria. Di peluknya tubuh Ria erat.
"Yusi!!" Bayu meraih tubuh Yusi dari Ria, di tatapnya wajah adik perempuannya yang pucat pasi.
"Mas..Mas Bayu..Mas Ram-"Yusi mengacak rambutnya, merasa frustasi ,erasa pandangan matanya mengelap, telinganya berdenging hebat.
"Tidak, Yusi..Yusii!!" Bayu panik ketika tubuh Yusi merosot jatuh di pelukannya.
....
" Maaf pak, anda di larang masuk!!" Seorang perawat mencoba menghalangi langkah Bayu yang nekat masuk ke dalam ruang ICU.
"Suster..dia adik saya!!" Bayu menatap sedih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dream Note
DragosteTak selamanya, impian menjadi semangat untuk menjalani hidup, Bahkan, ketika kamu dan aku, tidak bisa saling melepaskan. Aku dan kamu yang di takdirkan hidup dengan keegoisan.
