Empat Puluh ; Ambisi (a)

11.1K 2.1K 153
                                        

Takahiro-sama?

Chi yang baru selesai mencuci dan hendak kembali ke kamar Takahiro menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah perkebunan di belakang kuil, ada seseorang yang berdiri beberapa meter darinya. Rambut sepinggangnya dibiarkan tergerai, pria itu berdiri sambil mendongak, tampak tidak menyadari keberadaan Chinatsu.

Walau wajahnya ditutupi topeng rubah, tapi Chi tidak akan melupakan siluet pria yang menghabiskan waktu siang-malam dengannya. Chi mendekat saat mendengar guntur. Tidak lama lagi akan turun hujan. Sebaiknya Takahiro segera kembali ke kamar. Takahiro belum sepenuhnya pulih, jangan sampai dia diguyur hujan dan jatuh demam.

Takahiro-sama.

Sayang Chi masih belum bisa bicara. Tapi di luar dugaan, sosok yang berdiri menyamping itu menoleh, menatap Chi dari balik topeng rubahnya.

Chi mengukir senyuman kecil, dia membuka mulut melakukan gerakan makan. Makanan Takahiro sudah diantarakan Ai dan Hanabi ke kamarnya.

"Kau di sini, Chinatsu." Suara berat itu menyapa. Pria itu kembali meluruskan pandangan. "Kembali ke kamarmu. Tidak lama lagi akan turun hujan."

Chi menggenggam lengan kimono Takahiro mengajaknya ikut pergi, "Begitu juga dengan Anda, Takahiro-sama."

"Aku sedang mendinginkan kepalaku."

"Kalau Anda terkena hujan, Anda bisa sakit."

"Aku tidak mungkin jatuh sakit hanya karena hal sesederhana itu."

Chi tertegun. Irisnya melebar. Ada hal yang baru dia sadari. Sejak tadi Takahiro menjawab suara hatinya. Apa itu artinya... Takahiro bisa mendengar semua yang Chi katakan?

"Tentu saja aku bisa mendengarnya. Untuk Dewa sepertiku, itu bukan hal yang sulit."

Takahiro sedikit membuka topengnya, melirik Chi dengan sorot humor. Chi membuka mulut terkejut saat mendapati iris merah yang terarah padanya.

"Shinigami-sama." Chi tersenyum lalu membungkuk memberi hormat. "Saya senang bisa bicara lagi dengan Anda."

Benarkah?

Takahiro kembali menutup seluruh wajahnya. Tidak ada sepatah kata pun yang dia ucapkan. Chi bersabar berdiri di tempat, sama sekali tidak terlihat hendak beranjak.

"Kau tahu, Chinatsu?" Takahiro kembali bersuara. "Bersama denganku, kau seperti menggenggam mata pedang dengan tangan kosong. Perlahan tapi pasti, aku akan semakin melukaimu, sampai akhirnya suatu saat nanti kau mati di kedua tanganku."

"Jika itu nasib saya, dengan senang hati saya akan menerimanya."

Pria itu terkekeh. Memang jawaban apa yang dia harap dengar dari seorang gadis yang sedang dimabuk cinta pada tubuh yang saat ini menjadi wadahnya? Chi tidak akan lari darinya. Walau dia menghunuskan sebuah katana ke arahnya, Chi tidak akan pernah mau pergi dari sampingnya.

Gerimis mulai turun, perhatian Chi teralihkan. Chi mendongak, menatap langit gelap yang lagi-lagi tidak bersahabat. Dia sedikit panik, mempertipis jaraknya dengan Takahiro, berusaha berjinjit sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, ingin melindungi sang Tuan dari guyuran hujan.

"Shinigami-sama, sebaiknya kita kembali. Walau Anda tidak akan sakit, tapi tubuh Takahiro-sama masih tubuh manusia biasa. Apalagi kondisi beliau saat ini masih lemah tidak memungkinkan beliau terlalu lelah."

"Denganmu aku mulai merasa kehilangan identitasku." Takahiro menggumam. "Menghabiskan banyak waktu bersamamu, menjadi hari-hari berkesan yang tidak bisa kulupakan."

Yami No TenshiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang