Sembilan ; Tetap Peduli

16.6K 2.6K 123
                                        

1500 word (21/12/2016)

***

Kesal.

Chi sangat-sangat kesal. Hinaan Takahiro tadi memang sudah keterlaluan. Sampai hati mengatai payudara Chi hanya sebesar biji semangka. Lagipula, usianya masih tiga belas. Dia dalam masa pertumbuhan. Chi yakin suatu hari nanti payudaranya akan sebesar milik para wanita dewasa kebanyakan.

Lagipula~ Chi menyentuh dadanya sendiri.

"Menurutku ini masih lebih besar dari milik Tachibana-Hime. Aku setiap hari makan keju dan minum susu. Yang Mulia Ratu bilang, itu baik untuk masa pertumbuhanku." Chi merutuk.

"Chi~chan?"

Mengalihkan atensi. Chi membulatkan matanya saat seorang pemuda turun dari kuda. Mendekat, lalu duduk di teras Yoshikawa satu meter di sisinya. Pemuda itu tidak berkedip, lagipula untuk apa tadi Chi menyentuh dadanya sendiri?

"Ryuu-kun! Sedang apa di sini?" Chi bersemangat. Walau begitu, manik bulat itu tetap terlihat meredup. Penghinaan sang tuan terlalu membekas. Dia memeluk lutut.

"Di perjalanan pulang ke Negara Langit, aku lupa memberikan pemberian Ratu dan Fuyu-Hime padamu. Juga titipan lain untuk Takahiro-sama. Oh iya, Heika mengirimkan pasukan bantuan. Tampaknya beliau tahu kalau kalian akan pergi ke sini –Yoshikawa." Ryuu mengulum senyum. Diam beberapa saat, dia memuji, "pagi ini kau cantik sekali. Aku nyaris tidak mengenalimu."

Matahari memang sudah terbit memamerkan biasnya yang hangat. Menyinari bumi menggantikan sang rembulan yang mulai terlelap. Wajah Chi terlihat lebih memesona, pancaran matanya yang berkilau amat memukau. Gadis itu terkekeh geli.

"Ryuu-kun, apa di matamu aku itu masih anak-anak?"

"Usia kita hanya selisih dua tahun. Di mataku kau sudah sempurna untuk jadi calon pengantinku di masa depan nanti." Ryuu tertawa –menghibur. Dia mulai paham arah pembicaraan mereka. Chi cemberut pasti berselisih paham dengan sang Tuan. "Takahiro-sama?"

"Dia bilang aku bayi." Gadis itu mengepalkan kedua tangan. "Dia bahkan berteriak akan menyusuiku. Kejam sekali."

Ryuu terbahak-bahak. Ekspresi Chi saat bercerita masih saja menghibur.

"Takahiro-sama sudah berusia dua empat. Wajar kalau di matanya kau masih anak-anak. Dua tahun lagi, mungkin dia akan melihatmu sebagai wanita dewasa, dan bisa saja~ dia terpesona padamu lalu menikahimu."

"Benarkah?!"

"Mungkin."

"Ryuu-kun jahat."

Lagi-lagi pemuda yang menggodanya tertawa renyah. Sudah lama tidak bertemu dengan Chi, dia tidak bisa menepis kalau merasa lega setelah melepas rindu seperti ini.

"Aku ingin cepat dewasa." Chi mengeluh. Dia menunduk kemudian tersenyum getir. "Aku ingin Takahiro-sama menganggapku sebagai wanita."

Ryuu menahan napas. Dia lebih mendekat kemudian menepuki puncak kepala Chinatsu. Merogoh sesuatu dari balik pakaiannya, sebuah kerang kecil berwarna putih dia berikan. Chi kebingungan, namun dia mau menerima dan membukanya.

"Gincu?"

"Ya." Ryuu mengangguk. "Kalau ingin dilihat sudah dewasa, setidaknya mulai hari ini kau harus pakai gincu. Ibuku dulu pernah berkata seperti itu pada adikku."

"Ryuu-kun arigatou. Aku senang sekali. Kau memang orang paling baik kedua di dunia setelah Takahiro-sama."

Ryuu lagi-lagi tergelak. Hanya sebentar bertemu Chinatsu, dan dia merasa sangat bahagia tidak lagi terkenang masa lalu.

Yami No TenshiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang