BRAK!
"Lo ngapain sih pakai acara nge-labrak Emma?" tanya Anta dengan nada kesal setelah menggebrak meja yang ditempati Rani, membuat gadis itu terpekik kaget. Kedua mata biru Anta menatapnya dengan tajam.
Rani terdiam sejenak sebelum mengerutkan dahinya, "Gue nggak ngapa-ngapain Emma. Siapa juga tuh Emma? Nggak kenal." ia berbohong.
"Nggak usah bohong!" bentak Anta dengan kesal. "Lo pikir dengan cara kayak gitu gue bakal tertarik sama lo? Well, lo salah. Justru, gue malah paling benci sama orang yang suka menjatuhkan orang lain demi kepuasan dan kepentingannya sendiri. Egois."
Teman-teman sekelas Rani hanya bisa memandangi mereka dengan gugup. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani melawan Anta, bahkan murid yang laki-laki juga tidak berani. Rani mengalihkan pandangannya dari Anta. "T-Terus kalau gue nge-labrak Emma emangnya kenapa?" tanya Rani.
"Bisa-bisanya lo masih tanya kenapa." Anta menggeream, "Kalau sampai gue tahu lo nge-labrak Emma lagi, awas aja ya." Dengan marah, Anta mengancam Rani dan berjalan keluar dari kelasnya. Suasana dalam kelas mendadak menjadi hening, semua murid hanya bisa menatap Rani, membuat gadis itu malu dan terdiam di tempat duduknya.
Anta langsung berjalan menuju ke kelasnya yang terletak tidak jauh dari kelas Rani. Hari ini, ia tidak duduk bersama dengan Arya, melainkan dengan Nicko. Sedangkan Arya duduk bersama Dhanu. Bahkan sejak mereka berangkat dari rumah, Anta belum berinteraksi dengan kembarannya.
"Habis dari mana aja lo? Gue cariin di kantin nggak ada." Nicko menoleh ke arah Anta sambil memakan roti yang ia beli.
"Kelasnya Rani." jawab Anta singkat.
Loh, tunggu dulu. Anta ngapain ke kelasnya Rani? Apa dia udah tahu kalau Emma sering diancam sama tuh cewek? batin Nicko. Ia berdeham sebelum mulai berbicara, "Lo ngapain ke kelasnya si Rani?"
"Cuma tanya sesuatu."
"Lo udah tahu ya kalau Emma suka digangguin sama si Rani?" tanya Nicko untuk memastikan, namun Anta hanya terdiam untuk beberapa saat sebelum menatap Nicko tajam.
Dengan suara yang pelan namun terdengar mengancam, Anta akhirnya berbicara, "Kenapa lo nggak pernah ngasih tahu ke gue kalau selama ini Emma digangguin sama Rani? Pasti lo udah tahu sebelumnya, iya 'kan?"
Nicko menelan ludahnya dengan gugup, "Karena Emma bilang kalau gue dan Kristin nggak boleh ngasih tahu soal itu ke lo. Serius! Kalau dia bolehin, pasti gue udah bilang sama lo dari dulu!"
Anta menghela napas dan memijat dahinya. Haruskah ia menanyakan soal ini pada Emma? Dia tidak ingin mengingatkan gadis itu pada kata-kata menyakitkan yang telah dilontarkan oleh Rani kepadanya. Aaagh, ini semua gara-gara gue. Kalau udah begini, gue juga harus tanggung jawab untuk minta maaf ke Emma dan ngomong sama dia.
Gue harus ketemu Emma nanti.
***
Sepulang sekolah, Arya, Dhanu, dan Nicko langsung menuju ke ruang musik untuk bersiap-siap latihan band, kecuali Anta yang pergi untuk menemui Emma di kelasnya. Anta sudah memberi tahu Nicko bahwa ia akan menyusul mereka latihan setelah berbicara dengan Emma.
Seperti yang ia harapkan, Emma masih berada di dalam kelasnya. Kristin sedang tidak bersamanya, padahal mereka biasanya tidak bisa terpisahkan. Karena tidak ingin membuang waktu, Anta berjalan memasuki kelas dan berhenti tepat di depan tempat duduk Emma. Ia berdeham untuk menarik perhatian gadis itu.
Dehaman Anta berhasil membuat Emma menoleh ke arahnya dan tersenyum kecil, "Kak Anta ngapain disini?"
"Gue mau ngomong sama lo. Bentar aja kok." Anta duduk di bangku yang ada di sebelah Emma. "Lo nggak buru-buru, 'kan?" tanya Anta. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan menaruh kembali tas yang sebelumnya sudah ia ambil, di atas meja.

KAMU SEDANG MEMBACA
So, Which One? [COMPLETED]
Novela JuvenilSaudara laki-laki kembar yang mendapatkan gelar "Pangeran Sekolah" bernama Anta dan Arya, dipertemukan dengan adik kelas mereka yang bernama Emma. Apakah kedatangan Emma akan merusak tali persaudaraan mereka yang terjaga erat? Dan siapakah yang aka...