BAB 20

91 12 2
                                    

       

Seperti biasanya, Anta selalu berdiam diri di rooftop apartemen tempat tinggalnya seorang diri. Entah itu memandangi kota, membaca buku, atau sekedar minum kopi kesuakaanya di luar ruangannya. Terlebih lagi, Anta menyukai udara dingin yang akan menyambutnya di luar ruangan. Di saat orang-orang ingin mengubur dirinya dalam tumpukan selimut, Anta malah ingin berdiam diri di luar dengan udara bersuhu di bawah nol derajat selsius.

Anta mempererat jaket tebal yang ia pakai untuk memeluk badannya, sebenarnya ia mulai merasa kedinginan, tapi biarlah, ia suka berada di rooftop. Setiap kali Anta berada disitu, walaupun tidak ada orang lain, ia tidak merasa kesepian.

Orang-orang yang semula berada di rooftop bersamanya mulai pergi meninggalkannya sendiri. Sekarang, Anta berdiri disana sendirian, hanya dia dan isi pikirannya.

Sempat terlintas di benaknya tentang keluarga Anta yang berada jauh di Indonesia. Namun, Anta membuang pikiran itu jauh-jauh, seharusnya ia sudah tidak memikirkan keluarganya. Tujuannya pergi dari rumah adalah untuk menjauh dari mereka, bukannya semakin memikirkan mereka.

Anta membuang napas panjang sambil mengamati lampu-lampu dari gedung lain dan juga kendaraan yang melintasi jalanan di bawah sana. Sempat ia mendengar suara langkah kaki orang menaiki tangga menuju ke rooftop secara samar-samar, tapi ia abaikan. Paling ya hanya orang lain yang ingin bergabung dengannya.

"Kak Anta!"

Suara yang tidak asing itu sontak saja mengejutkan Anta dan membuatnya berbalik badan ke arah sumber suara. Seperti yang ia pikirkan, namun tidak ia duga-duga, disana berdirilah gadis yang selama ini masih menghantui pikirannya. Gadis yang selalu ia khawatirkan tiap malam. Gadis yang masih ia cintai.

Gadis itu adalah Emma.

"Lo..?" panggil Anta pelan sambil mencoba mendekati Emma. Ia masih ragu dengan apa yang ada di hadapannya. "Bukannya lo ada di Indonesia? Kenapa lo bisa ada disini?"

"Emma nggak nyangka kalau Kak Anta aka nada disini..!" ucap Emma dengan nada bahagia, "Semua orang lagi nyariin kakak, dan.. Emma senang banget bisa ketemu kakak disini."

Anta mengerutkan dahinya, "Nggak, Emma.. nggak mungkin semua orang nyariin gue. Apa peduli mereka kalau gue hilang? Toh sekarang mereka baik-baik aja gue tinggal. Lagian, ini udah pilihan gue, udah waktunya gue hidup mandiri. Gue mau tinggal disini, Emma. Please, respect my choice."

"T-Tapi, kak.. semuanya beneran khawatir.. bahkan Kak Arya."

Ucapan Emma hanya membuat Anta terkekeh pahit, seakan tidak percaya. "Sudahlah, Emma.. gue nggak peduli dengan itu lagi. Ini lagi berusaha gue lupain."

"Kak Anta juga belum dengar jawaban dari Emma.. jawaban untuk pertanyaan yang kakak kasih ke Emma waktu acara pentas seni sekolah dulu. Sekarang Emma sudah siap jawab, Kak! Tolong dengerin Emma satu kali ini aja!"

"Emma.. gue tahu lo pasti merasa bersalah. Tapi, percaya sama gue, ini semua bukan salah lo. Gue nggak pergi karena lo, gue pergi karena ini pilihan gue sendiri. Dan masalah jawaban dari lo, udah, lupain aja. Itu nggak penting." Anta tersenyum kecil pada Emma seraya mengeluarkan semua isi hatinya.

Emma menggelengkan kepalanya berkali-kali dan menggenggam tangan Anta tanpa seizin laki-laki itu. Ia menarik napas panjang sebelum mulai berbicara.

"Emma nggak bisa dengan mudah ngelupain pertanyaan itu, kak.. ini udah bener-bener mengganggu pikiran Emma setiap hari. Mikirin kalau semua ini terjadi hanya karena Emma nggak bisa menjawab pertanyaan Kak Anta saat itu.. semua orang khawatir dan sedih karena Kak Anta hilang, dan sekolah suasananya menjadi beda setelah Kak Anta menghilang.. Kak Arya juga jadi sering membolos sekolah untuk mencari Kak Anta.. please, Kak.. biarin Emma jawab pertanyaan itu, siapa tahu dengan itu Kak Anta bisa pulang ke Indonesia atau sekedar ngabarin keluarga kakak."

So, Which One? [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang