14. Bukan Mainan

22 4 2
                                    

"Karena perasaan bukan mainan"

"Auk ah.. Pokoknya gue nggak mau!!!" Tegas Camellya. "Please Yya.. Gue cinta sama Mella, gue gak mau kehilangan dia," Mohon Dhito pada Camellya.

"Gue cuma minta lo jadian sama kak Dimas bentar aja," Pinta Dhito dengan puppy eyesnya.

"Tto! Perasaan itu gak bisa dimainin! Gue nggak sejahat itu Tto!" Tegas Camellya sekali lagi. Camellya terus berjalan cepat menyusuri koridor sekolah tanpa arah, disusul Dhito yang mengejarnya.

Sebelum Camellya semakin cepat, Dhito menahan pergelangan tangan Camellya. Refleks Camellya berhenti di tempat.

"Yya.. Gue nggak tau harus pake cara apa lagi," Ucap Dhito pada gadis bermata hazel di depannya dengan tatapan sendu. Suara Dhito lirih, menampakkan kesenduannya saat ini.

"Tapi gue gak suka sama Kak Dimas," Kata Camellya menatap mata Dhito lekat.

"Yya.. Lo tau kan? Mella mulai suka Kak Dimas? Gue nggak mau kehilangan dia. Dengan cara ini, Mella pasti gak bakal deket Kak Dimas lagi," Pinta Dhito tak menyerah.

"Tto.. Gue sama aja mainin perasaan Kak Dimas! Bukan Kak Dimas aja, tapi juga perasaan gue! Lo nggak boleh egois dan gue nggak mau," Tolak Camellya.

"Tapi Kak Dimas suka lo, dia gak bakalan nyakitin perasaan lo. Dan lama-lam lo pasti bisa terima dia. Emang lo suka sama seseorang?" Tanya Dhito. Ralat. Tepatnya memaksa dengan pertanyaan.

"Iya Tto.. Gue suka sama seseorang dan itu lo!" Batin Camellya.

"G-gue? Ya nggak lah.. Nggak penting suka sama orang. Toh, aku di sini niatnya sekolah," Alibinya.

"Tuh kan.. Lo aja nggak suka siapa-siapa, mungkin lo bisa belajar suka Kak Dimas," Dhito memaksa, lagi dan lagi.

"Lo goblok atau apa sih.. Namanya cinta itu nggak bisa dipaksain. Lagian orang yang gue cari dan gue suka itu lo! Emang lo tega Tto? Ngorbanin perasaan sahabat lo demi ambisi lo? Gue nggak nyangka.. Lo beda dari yang dulu," Naluri Camellya berbisik dan terus berbisik.

"Ya udah ah.. Bacot lo ah.. Gue mau jadian sama Kak Dimas. Tapi gak mungkin kan perempuan yang nembak duluan?!" Putus Camellya setelah lama berpikir.

Dhito kegirangan refleks memeluk Camellya. "Eh anjirr.. Lo mau mainin perasaan gue lagi hah? Dengan cara bikin gue baper?!" Gerutu Camellya dalam hati. Camellya hanya diam dipeluk Dhito, sambil menutupi pipinya yang merona merah.

"Ok Yya.. Makasih.. Gue sayang lo.. Maafin gue egois, trus gue bakalan bikin Kak Dimas nembak lo. Santai aja,"

"Ya udah.. Gue balik ke kelas dulu," Ucap Camellya pergi dengan bibir mengerucut.

"Jangan ngambek ah.. Lo jelek goblok!" Ejek Dhito. Camellya menoleh membalas perkataan Dhito "Sadar diri goblok."

"Vendi.." Ujar Dhito menjulurkan lidahnya. "Apa lo bilang? Oh.. Langit!!" Balas Camellya dengan berlari, karena Dhito pasti melemparnya pakai sepatu jika orang tuanya disebut.

Dhito masih diam termenung di tempat. Memandang punggung Camellya yang mulai hilang menjauh. "Sorry Yya.. Gue egois. Tapi ini yang terakhir kali!" Yakinnya dalam hati.

***

Pelajaran tengah berlangsung. Camellya sangat fokus pada pelajarannya saat ini. Fisika. Pelajaran yang sangat Camellya sukai.

"Yya.. Serius amat.. Nggak kayak biasanya. Ya walaupun nggak serius nilai lo tetep tertinggi.. Gue iri tau!!" Entah disebut apa kata-kata Aprilya barusan. Bertanya? Memuji? Atau curhat? Bodo amatlah pastinya bagi Camellya.

"Eh anjir.. Gue dikacangin. Dengerin gue goblok!" Ucap Aprilya sambil menggoyangkan bahu Camellya.

"Lo apaan sih? Aprilya sayang.. Lo tau kan gue suka fisika? Jadi please diem waktu pelajaran fisika!" Omel Camellya. "Tanya berkali-kali. Sekali dikasih jawaban bukannya jawaban. Tapi omelan. Parah lo ah!" Seru Aprilya.

"Persetan sama Aprilya," Kata Camellya kesal. Dia lagi pms, maklum. Ditambah tadi pagi Dhito ngerusak moodnya. Dan satu-satunya pelampiasan selain membaca novel adalah mengerjakan fisika.

"Iya.. iya.. sorry.." Maaf Aprilya yang tentunya tidak ikhlas. "Ga usah minta maaf kalo gak mau," Jawab Camellya dingin.

"Mau coba ikut-ikut gaya gue nih anak. Mentang-mentang gue pernah dingin sama dia. Mau balas dendam sekarang," Batin Aprilya.

"Gue nggak ikut-ikut lo goblok.. Gue lagi bad mood aja!" Kata Camellya tiba-tiba seakan membaca batin Aprilya.

"Auk ah lo!" Aprilya menyerah dan melanjutkan tugasnya.

***

Camellya suka menulis puisi dan merupakan hobinya. Camellya hobi menulis, membaca, berpuisi, memasak (terutama kue), dan merajut. Dan untuk mengisi jam kosongnya. Dia lebih memilih di kelas sambil menulis daripada keluar kelas dengan temannya. Termasuk Aprilya yang pergi ke kantin.

"Hujan"

Berhembus kencangnya angin membuat nyaman
Tak terasa berlalu membawa rintik air
Perlahan dengan perlahan menjatuhkan air dari langit mebasahi tanah
Semakin cepat semakin deras
Semakin keras angin membantai
Jatuh terus dan terus
Memberikan guntur yang menyambar
Redupnya mentari
Gelapnya hari
Menghancurkan sebuah mimpi
Namun hujan tetaplah hujan
Yang memberikan pelangi setelahnya walau terkadang

-Hujan tak tau ia jatuh
untuk apa. Tapi air    
mata tau, ia terjatuh 
   untuk siapa.     

"Cie.. Lagi buat puisi," Goda seseorang tiba-tiba. Refleks Camellya mendongak dan mendapati seseorang berdiri memandangnya.

"Kak Dimas??!!" Camellya terkejut. Sedangkan Dimas tersenyum penuh arti.

***

A

uthor :


"Jahat amat dah.. Vommentnya dong.. jangan pelit-pelit. Rencananya nunggu sampe 50 vote sih. Tapi tangan dah gatel mau publis. Jadi ya gitu.. Auk ah.. Aku ngambek!"

"See you next time! And have fun ♡"          
   

             

Would You Be Mine?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang