Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
➳ "Felix, buruan! Lama gue tinggal!"
"—sabar bangsat!"
Hyunjin terbahak ketika melihat sahabatnya itu tergopoh-gopoh menuruni tangga rumahnya kemudian berlari menyebrangi halaman rumahnya yang luas.
Felix masih ngos-ngosan setelah masuk ke mobil Hyunjin, sembari berusaha keras untuk memukul kepala Hyunjin yang tertawa-tawa. "Anjing lo!"
Hyunjin masih terbahak. "Lo seharusnya liat muka lo tadi, Lix. Lawak banget bangsat."
"Bacot." Felix bersidekap dan cemberut, mengalihkan pandangannya pada pemandangan di luar jendela. "Nyetir buruan. Gue gak mau telat masuk."
"Mau berapa menit? Lima belas? Sepuluh? Try me."
Felix mengeluarkan smartphonenya, menyalakan stopwatch. "Sembilan menit. Lebih dari itu traktir gue sebulan."
Hyunjin mengulum senyum miring, mulai menginjak gas. "Deal. Kurang dari itu kerjain pr gue buat sebulan."
.
[Candu]
.
"Berapa, sayang?"
Felix mendengus, melemparkan smartphonenya ke arah Hyunjin sebelum beranjak keluar dari mobil. "Tujuh menit dua puluh detik. Bangsat. Lampu merah semua lo terobos anjir!"
"Ya lagian, pembalap lo tantangin." Hyunjin ikut keluar, kemudian merangkul bahu Felix yang sedikit lebih pendek darinya itu. "Yes, tenang deh gue sebulan ini gak perlu ngerjain pr."
Felix bersidekap, kemudian berjalan dengan buru-buru meninggalkan Hyunjin.
"Eh, pirang! Tungguin gue—"
"Bodo!"
.
[Candu]
.
"Mari kita liat, pangeran Felix yang ganteng ini bakal dapet apa pagi ini."
Felix mendengus ketika Hyunjin tiba-tiba muncul saat ia hendak membuka loker. Pemuda itu dengan seenaknya memasukkan kunci kombinasi loker Felix —dia memang mengetahuinya— dan membuka loker itu. Tumpukan amplop dan kotak-kotak chocolate langsung berjatuhan.
"Widih," Hyunjin berjongkok untuk mengambil beberapa. Dia membuka sebungkus Toblerone yang ada kemudian memakannya sembari mengabsen satu persatu tulisan di amplop itu. "Jeon Somi kelas sebelas, Jinsoul kelas sepuluh, wow, sampai Samuel sama Guanlin juga ngirim surat cinta?"
"Rese lo!" Felix merebut amplop-amplop itu dari tangan Hyunjin, kemudian memeriksanya sekilas. "Ini yang dari Guanlin surat dispen dia di klub basket, bukan surat cinta, tolol. Lagian Guanlin udah punya Seonho." Selain amplop putih Guanlin, Felix merobek semua amplop itu dan membuangnya ke tempat sampah di ujung koridor.