6. New Friends

382 36 11
                                    

"Apa-apaan ini!"

Kayreen menghentak-hentakkan kakinya di atas lantai ruangannya dengan kesal. Tangannya melambai-lambai dengan cepat dan teratur pada lehernya, sedang matanya berkeliaran mencari sesuatu yang bisa ia jadikan kipas.

"Perusahaan sebesar ini tak bisa memperbaiki AC? Yang benar saja!" gerutu Kayreen sambil lalu. Gadis itu kemudian bangkit dari kursinya dan duduk di salah satu sofa yang memang tersedia di ruangannya. Tangannya membolak-balik sebuah buku tata tertib yang berisi hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan di perusahaan ini.

Memangnya harus setebal ini? Kesal Kayreen dalam hati. Bahkan selama bekerja dengan Mr. Nick saja ia tak pernah mendapat buku setebal ini hanya untuk mengatur setiap model.

Tubuh ramping itu bangkit berdiri dan melangkah menjelajahi ruangannya, sedang tangannya bergerak membuka dua kancing atas kemejanya. Pandangannya terpaku pada sebuah rak buku yang tampak tertata apik pada sudut ruangan. Sebuah senyuman terbit pada wajahnya yang cantik. Dengan penuh semangat, gadis itu berjalan mendekati rak dan melarikan tangannya untuk mengambil beberapa buku.

Ini impian Kayreen sejak dulu. Bisa mempunyai ruang kerja dengan tumpukan buku-buku pada salah satu sudut ruangannya. Kemana saja dia sedari tadi. Sampai-sampai tidak melihat rak putih yang begitu elegan ini.

"Oh my God!" seru Kayreen saat menyadari bahwa dari sekian banyak buku yang ada, ia menemukan salah satu buku dari penulis yang amat ia kagumi.

Hendak terkagum lebih dalam, tiba-tiba sebuah buku membuat gadis itu mengernyit. Buku itu tampak berbeda dari buku yang lain. Bahkan buku itu tak nampak seperti buku bacaan, namun lebih terlihat seperti diary. Namun siapa yang mau menaruh buku diarynya dalam rak buku secara sembarangan seperti ini? Pikir Kayreen terheran. Meski perasaan heran masih menyelimutinya, Kayreen tetap mengambil diary itu dan membukanya.

R.

Hanya ada satu huruf pada halaman pertama. Sebenarnya mata Kayreen dapat melihat ada beberapa kata yang tertulis sebelum huruf R itu. Namun entah sudah terhapus atau apapun itu, Kayreen menjadi kesulitan membacanya.

"Her eyes?" ucap Kayreen terheran membaca judul pada halaman kedua dari diary itu.

"Aku tak me--"

Brak!

Kayreen tersentak mendengar bunyi memekakkan dari arah pintu ruangannya itu. Tubuhnya sontak berbalik dan tanpa sengaja menjatuhkan diary yang belum selesai dibacanya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Justin seraya melangkah mendekati Kayreen yang masih mematung di tempatnya.

"A-aku hanya ... membaca beberapa buku. Ya, membaca," ucap Kayreen terbata. Justin mengernyit terheran, menatap Kayreen penuh kecurigaan. "Ta-tapi aku hampir selesai membaca buku tata tertib yang kau berikan. Aku akan membacanya sampai akhir. Aku berjanji," lanjut Kayreen seraya mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.

Justin hendak menjawab perkataan Kayreen saat matanya tiba-tiba menyadari bahwa kancing kemeja Kayreen kembali terbuka seperti yang dilihatnya tadi pagi. Justin memasang wajah datarnya lantas maju beberapa langkah mendekati Kayreen.

"A-aku benar-benar berjanji akan membacanya nanti, Justin."

Kayreen menggigit bibirnya, menyadari bahwa ini pertama kalinya ia memanggil nama Justin kembali setelah sekian lama. Belum selesai dengan keterkejutannya, Kayreen kembali dikejutkan dengan posisi tubuh Justin yang telah menghimpit tubuhnya, sedang tangan Justin bergerak mengancingkan kancing kemeja Kayreen seperti tadi pagi.

"Baca peraturan nomor 56. Dan aku akan mengecek apakah besuk kau sudah hapal peraturan itu atau belum. Ini perusahaan bukan klub malam. Bila kau ingin memamerkan tubuhmu, kau berada di tempat yang salah. Ingat itu."

CHANGEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang