Mungkin karena efek tamu bulanan yang sedang dialami oleh Kayreen, ditambah dengan insiden permen karet yang entah dari mana bisa menempel di pantatnya, gadis itu sekarang memasang wajah datar layaknya papan karambol. Justin yang sedang memeriksa beberapa berkas pun nampak tak tenang melihat kekasihnya. Namun Justin berpikir, bila ia melakukan sesuatu pasti hanya akan memperburuk suasana.
Mata Justin teralihkan dari berkas di depannya ke tempat di mana Kayreen duduk. Gadis itu nampak serius dengan game yang sedang ia mainkan. Gadis itu sesekali berdecak, dan Justin yakin itu pasti karena tulisan game over terpampang di layar ponselnya. Justin terkekeh geli melihatnya. Bayangkan saja, beberapa menit yang lalu kekasihnya memasang wajah datar lalu sekarang tiba-tiba memasang wajah kesal.
"Kenapa tertawa?!"
Justin menghentikan kekehannya tepat saat suara itu menyeruak masuk ke telinganya. Bukannya takut akan gertakan Kayreen, Justin malah melanjutkan tawanya. Alhasil Kayreen pun mengerucutkan bibirnya sembari membanting ponselnya. Justin hendak kembali tertawa, akan tetapi suara telepon menginterupsi.
Kayreen yang sadar bahwa fase sibuk Justin akan dimulai hanya terdiam sembari mengamati pria itu yang nampak mengangguk-angguk beberapa kali dan mengucapkan beberapa patah kata yang tak bisa Kayreen dengar sebab terlalu pelan.
"Babe, aku akan ke ruang meeting terlebih dahulu. Seseorang menungguku," ucap Justin. Mengecup pipi Kayreen sekali, Justin kemudian berjalan keluar dari ruangannya. Kayreen menatap kepergian kekasihnya dengan tatapan datar, sebelum kemudian ia merintih merasakan sakit pada perutnya. Batinnya menggerutu, menyalahkan sikap Justin yang sedikit tidak memahaminya. Sekarang hampir jam untuk pulang, namun Justin malah kembali melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk bak gunung es. Benar-benar menyebalkan!
Merasa bosan karena tak ada lagi pekerjaan yang dpat ia lakukan, gadis berambut cokelat itu akhirnya memutuskan untuk pergi mengelilingi ruangan-ruangan di perusahaan milik kekasihnya. Pikirannya seketika melayang pada rak buku di ruangannya waktu itu--sebelum kemudian ia dipindahkan ke ruangan Justin karena terlalu sering bolak-balik ke ruangan Justin.
Melangkahkan kakinya masuk ke ruangannya, gadis itu membongkar-bongkar isi rak buku guna mencari buku bacaan yang sekiranya dapat mengurangi perasaan jenuhnya. Memutuskan mengambil sebuah buku, ia kemudian mendudukkan bokongnya di salah satu kursi sofa yang tak jauh dari rak itu berada.
Waktu kian berjalan, hingga tanpa sadar 1/5 dari bagian buku telah ia baca. Namun tatkala gadis itu hendak membuka lembar selanjutnya, gadis itu mendapati sebuah kartu nama. Dibacanya perlahan, Kayreen lantas mengernyitkan dahinya. Emily Blunt? Kenapa kartu nama Emily bisa di sini?
Tak ingin memikirkannya lebih jauh, gadis itu kemudian mengantongi kartu nama Emily dan melanjutkan untuk membaca. Namun layaknya manusia, sifat penasaran merasuki pikiran gadis itu. Kayreen lantas membaca perlahan semua data diri yang ada di kartu nama Emily. Setelah beberapa saat, gadis itu berdiri dan melangkahkan kakinya ke ruangan Emily. Gadis itu mendesah kesal ketika tak menemukan Emily di tempatnya. Namun kemudian sayup-sayup terdengar suara dari ruang meeting. Ah, bagaimana Kayreen bisa sebodoh ini? Emily tidak ada di ruangannya pasti karena ikut meeting dengan Jutin. Tapi, kenapa dirinya tidak ikut? Atau, kenapa Justin tidak memerintahkannya untuk ikut?
Kayreen duduk di kursi milik Emily, kemudian mengarahkan indra penglihatannya ke ruang meeting. Gadis itu mengamati saat pintu terbuka, kemudian menampakkan dua orang laki-laki dan satu orang perempuan. Kayreen tahu, satu dari dua orang laki-laki itu adalah Justin. Samar-samar Kayreen mendengar pembicaraan di antara mereka bertiga.
"Terima kasih telah kembali bekerja sama dengan kami, Mr. Blake."
"Tentu, Mr. Bieber. Suatu kebanggaan bagiku dapat kembali bekerja sama dengan Anda."
KAMU SEDANG MEMBACA
CHANGED
FanfictionSemuanya tak akan tetap sama. [Sequel of Complicated] Baca Complicated dulu boleh Langsung baca Changed boleh
