18. Not Alive

296 33 19
                                    

Beberapa waktu yang lalu....

"Berikan minuman ini untuk Justin, Sayang. Dia pasti haus setelah berenang bersamamu, tadi."

Rose mengangguk lantas mengambil gelas dari tangan ibunya. "Okay, Mom," jawabnya dengan senyuman lembut. Rose berbalik kemudian berjalan menuju tempat di mana Justin berada sambil berteriak; "Justin! Aku membawakan minuman untukmu."

🔫🔫🔫

Keheningan malam menjadi saksi dari kehancuran seorang Kayreen Willmort. Gadis itu meringkuk di atas tempat tidur dengan hanya separuh tubuh yang tertutupi selimut. Gadis itu bahkan tak lagi mempunyai kekuatan, bahkan untuk menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang terasa kotor. Lagipula, Kayreen sudah merasa tak lagi perlu untuk menutupi tubuhnya. Ia sudah tak seistimewa dulu. Ia tak lagi seorang Kayreen sejak satu jam yang lalu.

Selepas melakukan sesuatu yang benar-benar menyakiti Kayreen, Justin pergi entah kemana. Kayreen tak lagi peduli. Ia hanya membiarkan Justin keluar dari kamar setelah Justin mengucapkan kata 'sorry'. Kayreen tak yakin, namun ia melihat mata Justin berkilau seperti sedang menahan tangis. Lalu apa yang Justin tangisi? Bukankah yang seharusnya menangis adalah dirinya? Namun tidak, gadis itu tak lagi bisa menangis dan hanya menatap kosong ke sembarang arah.

Memantapkan hati dan menguatkan tubuhnya, Kayreen bangkit dari posisi tidurnya dan berjalan tertatih menuju kamar mandi dengan tubuh telanjang. Di dalam sana, Kayreen membasuh tubuhnya dengan air dingin, mengusapnya kasar hingga timbul guratan-guratan kemerahan di mana-mana. Gadis itu sesekali terhuyung tatkala menggerakkan kakinya untuk keluar dari kamar mandi. Ia mengambil beberapa lembar pakaian untuk kemudian dipakainya, memungut ponselnya, lantas keluar dari kamarnya.

Kayreen berjalan menuruni tangga dengan tatapan kosong dan bertelanjang kaki. Tanpa memedulikan dinginnya udara dan gelapnya malam, gadis itu menelusuri jalanan kota. Kayreen tak mempunyai tujuan kemana ia akan pergi, dan ia tak lagi peduli bila ia akan mati di tengah jalan. Ia benar-benar tak peduli. Lagipula, mungkin sudah tak ada siapapun yang akan peduli padanya di dunia ini, bahkan kakaknya sekalipun.

Gadis itu menyebrang jalan dengan langkah pelan, membuat sebuah mobil yang tengah melaju terpaksa membunyikan klakson berkali-kali. Namun sayangnya gadis yang seperti sudah tak bernyawa itu tak mendengar apapun di telinganya, selain umpatan-umpatan kasar Justin dan kesakitan di seluruh bagian tubuhnya.

"Hei!" pekik orang yang hampir saja menabrak Kayreen dan sekarang tengah berjalan cepat menuju tempat berdirinya Kayreen.

"Apa yang--Kay?" Orang itu menunda kemarahannya tatkala meyadari ia mengenali seseorang yang hampir ditabraknya. "Apa yang kau lakukan di jalanan? Kau tahu ini hampir pagi, bukan?" tanya orang itu lagi. Namun bukan jawaban yang ia dapat, orang itu malah mendapati setitik air mata turun dari mata Kayreen. Kemudian tanpa berlama-lama, orang itu membawa Kayreen menuju mobilnya.

Emily mungkin membenci Kayreen karena telah membuat Richard menjauh darinya. Namun sisi hatinya juga terketuk saat mendapati Kayreen seperti orang yang tak mempunyai nyawa dan berjalan sendirian di tengah jalan.

Ia juga seorang perempuan.

🔫🔫🔫

"Aku tak tahu apapun, Em. Aku terakhir kali bicara dengannya saat memberi tahu Kayreen bahwa kau dipecat Mr. Bieber," ujar Richard selepas menyesap minuman yang Emily sajikan.

Emily menghela napas khawatir. "Dia... seperti sudah meninggal. Pandangan kosong, air mata yang tiba-tiba keluar dari matanya tanpa henti, dan bahkan... dia menjambak rambutnya sendiri dan menutup telinganya. Aku benar-benar khawatir pada keadaan Kayreen." Gadis itu memberi jeda sejenak. "Aku memang pernah membencinya karena merebutmu dariku. Tapi aku juga tak tega melihatnya seperti ini. Kayreen temanku, dan aku seperti ikut merasakan kesakitannya."

CHANGEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang