9. Do It

369 39 8
                                    

"Oh my God, Kayreen! Apa yang terjadi padamu sampai kau kemarin tidak masuk?! Kau sakit?" tanya Emily bertubi-tubi saat Kayreen menemui Emily di cafetaria.

"Bisakah kau memelankan suaramu? Kau benar-benar berisik. Tak bisakah kau lihat bahwa Kayreen sudah baik-baik saja?" protes Richard. Emily benar-benar berlebihan. Dan bagaimana bisa ia berteman dengan gadis secerewet Emily?

"Kau memang teman yang tidak tahu diri. Kau seharusnya mengkhawatirkan Kayreen juga, sama sepertiku," cerocos Emily tak kunjung berhenti.

"Aku tidak apa-apa. Hanya demam biasa." Kayreen tersenyum menatap Emily yang terlihat amat khawatir. Kayreen tak menyangka akan mendapatkan respon yang sampai seperti ini, mengingat baru dua hari yang lalu ia bertemu dengan Emily. Bila seperti ini, ia jadi teringat dengan Gloria. Bicara tentang Gloria, sudah berapa lama dia tidak menghubungi Kayreen? Ah sudahlah mungkin gadis itu masih sibuk dengan pekerjaannya.

"Kau dengar? Kayreen baik-baik saja. Kau saja yang terlalu berlebihan. Sekarang, kembali ke ruanganmu. Bukankah kau akan ikut Mr. Bieber ke Italy besuk?" Emily mengangguk sekali, membenarkan apa yang Richard katakan. Ia memang akan mendampingi bosnya selama satu minggu di Italy dalam rangka pengawasan cabang perusahaan di sana.

"Kau benar. Baiklah, aku akan pergi. bye!" Emily melambaikan tangannya seraya melangkah menjauhi Kayreen dan Richard.

Sepeninggalan Emily, keduanya dihinggapi keheningan sampai kemudian suara Richard menginterupsi. "Kenapa kau bisa demam?" tanyanya yang sedikit membuat Kayreen kebingungan. Pasalnya tadi Richard amat biasa saja mengenai keadaannya saat ada emily. Namun lihatlah sekarang, Richard terlihat sangat peduli.

"Mm, itu karena aku tercebur ke kolam renang," jawab Kayreen dengan sedikit bumbu kebohongan. Tak mungkin bukan, kalau ia mengatakan diceburkan ke kolam oleh Justin dan akhirnya bermain-main air sampai lupa waktu?

"Itu konyol." Richard sedikit terkekeh di sela-sela perkataannya. "Apakah kau--"

"Permisi." Kayreen dan Richard sama-sama menoleh ke arah seorang wanita yang tiba-tiba saja mendekati meja keduanya.

"Ya?" tanya Kayreen.

"Mr. Bieber memanggilmu untuk segera ke ruangannya," ucap wanita itu seraya tersenyum ke arah Kayreen.

Kayreen mengangguk sekali. "Baiklah, aku segera ke sana. Terima kasih," ucapnya yang langsung membuat wanita tadi melangkah pergi.

"Mm, Richard, aku harus segera pergi." Richard mengangguk dengan sedikit senyum.

"Ya," kata pria itu sekaligus membuat Kayreen bangkit berdiri dan melangkah menjauhinya. Richard memandang punggung Kayreen dengan tatapan yang benar-benar sulit diartikan. Dan mungkin bila ada seseorang yang mencoba menerka arti tatapan Richard, maka orang itu akan menganggap Richard sedang merencanakan sesuatu. Mengenai kebenaranya? Hanya Richard yang tahu.

🔫🔫🔫

"Dia Richard yang kau maksud?" 

Kayreen tersentak saat mendengar perkataan Justin tepat saat ia membuka pintu ruangan Justin. Kayreen mendengus sekali. "Apa urusanmu?"

Justin berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah gadis itu. Justin meraih bahu Kayreen lantas menatap kedua mata kebiruan itu lekat. "Kau adalah milikku dan tak ada pria lain yang boleh berdekatan denganmu," ancam Justin yang langsung membuat Kayreen tertawa sinis.

"Milikmu? Aku bukan milik siapapun jika kau ingin tahu," kata Kayreen yang sontak membuat Justin terkejut.

"Apa yang terjadi padamu? Bukankah kemarin kau baik-baik saja? Apa yang membuatmu seperti ini? Kau--"

CHANGEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang