Di tengah guyuran butiran salju dan dinginnya cuaca, tak membuat sepasang manusia yang tengah menikmati mimpinya masing-masing itu terusik. Namun salah satu dari mereka, merasa terusik dengan bulu mata mereka yang sesekali bersentuhan.
Gadis bermata biru laut itu membuka kelopak matanya dan menemukan suaminya tengah tertidur pulas. Napas teratur pria itu berhembus menerpa wajah si gadis, membuatnya tersenyum manis. Di saat seperti inilah ia belajar untuk bersyukur. Di tengah semua cobaan yang ia hadapi, kini kebahagiaan kian memeluknya erat dan enggan melepaskan.
Kayreen mengangkat tangannya, lantas menyapukan telapak tangannya pada rambut cokelat keemasan Justin. Halus yang dirasakannya membuatnya menurunkan sentuhannya pada dahi, kemudian pipi pria itu. Seketikan Kayreen terpaku pada bibir merah muda yang nampak sedikit kering milik Justin. Gadis itu tiba-tiba menggelengkan kepalanya dengan pipi merona saat menyadari kemana pikirannya membawanya.
Kayreen memajukan wajahnya, kemudian mengecup bibir Justin dengan lembut beberapa kali dengan mata terpejam. Dalam pejaman matanya, ia tahu bahwa laki-laki di depannya akan selalu mencintainya, akan selalu melindunginya, dan akan selalu bersamanya tanpa ia pinta. Namun satu yang tak ia ketahui; pria itu telah terbangun sedari tadi. Lalu pada kecupan yang entah keberapa, pria itu menangkap bibir gadis itu dengan bibirnya, lantas dilumatnya dengan lembut dan penuh perasaan. Gadis itu seketika membuka matanya dan membalas ciuman Justin sebisanya. Setelah beberapa detik kemudian, Justin melepas ciumannya dan memandang istrinya penuh kasih.
"Morning, Princess," ucap pria itu.
"Morning," sahut gadis itu ditengah usahanya mengatur napasnya, "you, shooked me!" lanjutnya dengan memukul dada Justin pelan, membuat Justin terkekeh.
"Ow, really? Bukankah kau suka saat aku menciummu, eh?" goda Justin yang seketika membuat Kayreen menyembunyikan wajahnya di dada Justin. Justin tertawa melihat tingkah Kayreen, sedangkan Kayreen menggigit dada Justin karena merasa sebal.
Dan pagi itu, semuanya tampak baik-baik saja, lebih tepatnya sangat baik. Untuk apapun yang akan terjadi ke depan, mereka saling berjanji akan selalu ada satu sama lain, tak peduli seberapa berat yang akan mereka lalui.
🔫🔫🔫
Kayreen meniti setiap lekuk wajah pucatnya dengan jantung berdebar. Sungguh, ia menyumpah serapahi dirinya yang tiba-tiba sakit di saat yang amat penting seperti ini. Gadis itu membasuh wajahnya dengan air lantas mengeringkannya, kemudian membubuhkan faoundation, terutama di bawah matanya dan make-up lainnya untuk menutupi kepucatannya. Sebagai sentuhan akhir, ia mengoleskan lipstik merah muda pada bibir pucatnya. Sempurna. Sekarang gadis itu sama sekali tidak terlihat pucat.
"Sayang, kau baik-baik saja di dalam?"
Itu Justin. Dan Kayreen tahu bahwa Justin tengah diliputi kekhawatiran, terlihat dari suara pria itu. Kayreen berniat untuk segera keluar, namun entah pada langkah keberapa, tangannya tiba-tiba saja menjatuhkan tasnya dan membuat semua isi tas itu berceceran di lantai.
"Sayang?! Buka pintunya!" teriak Justin setelah mendengar kegaduhan dari dalam toilet.
"Aku baik-baik saja, Justin," sahut Kayreen dari dalam, enggan membuat pria yang dicintainya khawatir.
Namun pada kenyataannya, gadis itu jauh dari kata baik-baik saja. Tangannya memunguti barang-barangnya dengan tangah gemetar, sedang sebelah tangannya memegang pelipis kepalanya yang tiba-tiba saja terasa pening. Selama beberapa saat, gadis itu berhenti memperkerjakan tangannya dan sibuk mengatur napas dan juga rasa peningnya. Setelah dirasa sedikit mereda, gadis itu kembali memunguti barang-barangnya dan bangkit berdiri. Ia keluar dengan senyum yang terukir di wajahnya, membuat kepanikan Justin mereda.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHANGED
FanfictionSemuanya tak akan tetap sama. [Sequel of Complicated] Baca Complicated dulu boleh Langsung baca Changed boleh
