Prang!
Suara memekakkan itu mengisi seluruh kamar Justin.
Kayreen turun dari atas tubuh Justin, lantas berlari ke sudut ruangan. Tangannya menangkup wajahnya yang sudah berlinang air mata. Meskipun otaknya sangat berkeinginan untuk membunuh Justin, namun nyatanya jauh di dalam hatinya, Kayreen tak mampu bahkan untuk melihat luka-luka di leher Justin akibat perbuatannya sendiri.
"Hey," bisik Justin lembut seraya memeluk Kayreen. Menyadari akan hal itu, Kayreen mencoba melepaskan diri dari pelukan Justin yang terasa amat hangat. Tidak, ia tak pantas mendapat pelukan ini. Ia harus mengingat beberapa menit yang lalu saat dirinya bahkan tanpa berperasaan menggores leher Justin dengan pisau yang amat tajam.
"Pergi! Jangan dekati aku!" sentak Kayreen sembari tetap mencoba melepaskan diri dari pelukan Justin. Namun nyatanya, Justin tak sedikitpun melonggarkan pelukannya. Bahkan pria itu sempat beberapa kali mengecup pelipis Kayreen dengan lembut. Tidakkah Justin marah padanya? Pikir gadis itu.
"No, I won't. I love you," bisik Justin tepat di sebelah telinga Kayreen.
"Pergilah! Aku tak pantas mendapatkan cintamu. Aku ... bahkan berniat membunuhmu." Isak tangis Kayreen tumpah sedang tubuhnya terasa lemas saat itu juga. Kayreen tak merasakan apapun selain kehampaan yang seakan meremas hatinya.
"Tapi lihat, kau tak benar-benar membunuhku, bukan?" tanya Justin. Pria itu kemudian menangkup sebelah pipi Kayreen yang telah basah oleh air mata. "Itu karena kau mecintaiku dan akan selalu seperti itu."
🔫🔫🔫
Dengan sesekali meneteskan air mata, Kayreen membersihkan luka di leher Justin. Ia juga beberapa kali menggigit bibirnya saat merasakan Justin menegang karena kapas yang dipegangnya terlalu keras menekan luka pria itu.
"Katakan kalau memang sakit, Justin," pinta Kayreen untuk yang ketiga kalinya. Kayreen tahu luka di leher Justin amat sakit, terbukti dari beberapa kali pejaman mata Justin. Namun entah kenapa, Justin tetap saja mengatakan bahwa lukanya tidak terasa sakit.
"Tidak sakit." Senyum Justin perlahan mengembang. Oh lihatlah itu. Bahkan setelah semua yang Kayreen lakukan, Justin masih berusaha menjaga perasaan gadisnya.
"Bohong! Katakan kalau luka di lehermu sakit, Justin," lirih Kayreen lagi. Ia tahu apa yang Justin katakan hanya sebatas untuk membuatnya tetap tenang. Namun Justin salah, sebab pada kenyataannya apa yang Justin lakukan malah membuat Kayreen merasa amat bersalah.
"Tidak, Sayang." Justin meraih tangan Kayreen dan mencium buku-buku jemari Kayreen lama. "I love you," bisiknya amat pelan.
"I'm so sorry, Justin. Aku tahu aku tak bisa dimaafkan, tapi ... aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Aku hanya merasa ... amat benci padamu, sampai-sampai aku ingin sekali--membunuhmu." Kayreen memelankan suaranya tepat pada akhir kalimatnya. Ia merasa amat kotor sekarang. Bisa-bisanya ia mencoba untuk membunuh Justin? Pria yang bahkan amat mencintainya?
"Kau tak bersalah. Aku tahu apa yang kau rasakan dan aku tak akan membuatmu merasa bersalah. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah melupakan segalanya dan memulainya dari awal ... kau mau?"
Mendapati Kayreen yang terdiam, Justin lantas mengecup bibir Kayreen sekali. "Cium aku jika kau mencintaiku dan kita akan kembali seperti dulu lagi," ucap Justin yang seperti sebuah permintaan. Justin menatap mata Kayreen lekat, seakan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan betapa bahagianya Justin, tatkala ia mendapati Kayreen memajukan wajahnya dan mengecup bibirnya selama beberapa detik.
"I love you."
"I love you."
🔫🔫🔫

KAMU SEDANG MEMBACA
CHANGED
FanfictionSemuanya tak akan tetap sama. [Sequel of Complicated] Baca Complicated dulu boleh Langsung baca Changed boleh