12. Birthday

323 31 25
                                        

"Richard, hari ini tanggal 20, bukan?"

Pria yang Emily ajak bicara itu bergumam sekali sembari tetap mengetikkan beberapa kata pada berkas yang tengah dikerjakannya. Emily berdecak sekali, merasa sebal karena belakang ini Richard sering pergi dan mengacuhkannya. Itu terasa sangat aneh bagi Emily, pasalnya selama ini pria yang ia anggap sudah lebih seperti sahabat itu selalu bersamanya.

"Kau kenapa sekarang terlihat menjauh dariku?" protes Emily seraya melarikan tangannya untuk menarik tangan Richard, berharap Richard kembali memerhatikannya.

"Apa-apaan kau ini?!" sentak Richard yang lantas bangkit dari duduknya dan memandang Emily dengan tatapan kesal luar biasa. Richard sedang pusing memikirkan pekerjaannya yang menumpuk, namun Emily malah menghancurkan semua konsentrasinya. Emily yang terkejut mendengar bentakan Richard menatap pria itu seakan tak percaya.

"Kau yang apa-apaan! Kenapa kau menjauhiku akhir-akhir ini?! Kenapa kau tidak pernah mengajakku pulang bersama lagi?" Emily melirihkan ucapannya pada akhir kalimatnya. Ini yang Emiliy takutkan; tatapan dingin dan menusuk milik Richard.

"Kau tak perlu tahu! Kau--"

Ucapan Richard terhenti tatkala ponselnya yang berada di atas meja bergetar. Pria itu lantas meraih ponselnya dan kembali menatap Emily. "Jauhi aku," desisnya tajam.

Apa yang terjadi padamu, Richard? Batin Emily sedih. Ia kecewa, sangat.

🔫🔫🔫

Manusia terkadang menyukai tantangan. Tentang seberapa berat tantangan itu, tak menjadi halangan bagi siapapun yang mau berusaha. Namun pantaskah bila tantangan itu mengenai bagaimana cara merebut hati dari seorang gadis? Tentu hal itu tidaklah mudah untuk dilakukan. Mengingat Kayreen adalah kekasih atasannya, Richard pun menyusun berbagai rencana yang diharapkannya mampu merebut hati gadis itu.

Tentang posisi Justin yang notabenenya adalah atasannya, itu bukan masalah besar bagi Richard. Dengan berbekal otak cerdasnya, apapun bisa Richard lakukan.

"Terima kasih telah bersedia mengantarku, Richard. Aku--"

"Bolehkah aku menunggumu? Atau bisa juga dibilang menemanimu." Richard mengedikkan bahunya lantas tersenyum lembut. Ia menatap Kayreen yang nampak berpikir sejenak. Ayolah, bukankah itu mudah untuk mengatakan 'ya'? Batin Richard merasa gemas.

"Baiklah, karena kau lama berpikir maka kuanggap sebagai jawaban 'ya'. Tak ada penolakan." Kayreen melotot tak terima. Kenapa Richard terlihat seperti Justin, sekarang? Tunggu, apa yang Kayreen pikirkan? Tidak! Ia tak boleh kembali memikirkan pria itu. Toh Justin juga tak lagi memikirkan dirinya.

"Ugh, baiklah," kata Kayreen akhirnya.

🔫🔫🔫

"Kau benar-benar berbakat, Kay!" seru Mr. Payne puas. Entah ada angin apa, Mr. Payne tiba-tiba saja mau menunggu pemotretan karyawannya. Itu jelas membuat beberapa orang terheran, lantaran selama ini Mr. Payne tak pernah terlihat sepeduli ini dengan model-modelnya, secantik apapun dirinya.

"Terima kasih, Mr. Payne," ucap Kayreen sembari berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Sekarang adalah sesi terakhir pemotretan. Setelahnya kau boleh pulang."

"Tidak ada sesi lanjutan! Kau pulang sekarang!" ucap seseorang yang baru saja menerobos masuk ke dalam bilik pemotretan.

"Justin?" gumam Kayreen terheran. Apa yang sebenarnya pria itu mau? Sebentar-sebentar bersikap manis, kemudian bersikap kasar. Benar-benar tak bisa ditebak. "Justin!!!" seru Kayreen saat merasakan Justin mengangkat tubuhnya dan menaruhnya di bahunya. Seketika gadis itu memberontak lantaran merasakan pusing pada kepalanya yang tengah berhadapan dengan punggung Justin.

CHANGEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang