"Ini kamarmu dan kamarku berada di sebelah kamarmu--"
"Tunggu! Kenapa kamarmu berada di sebelah kamarku?" protes Kayreen tak terima. Kayreen bahkan merasa kesulitan menghitung berapa banyak jumlah kamar yang ada di rumah ini. Lalu kenapa dari sekian banyak kamar Justin memilih kamar yang berada disebelah kamarnya?
"Hei. Ini rumahku, aku berhak mengatur semuanya," kata Justin tak terima. Enak saja Kayreen mengatur-aturnya. Bukankah ia tuan rumah?
"Kalau begitu aku akan pergi," kata Kayreen tak mau mengalah. Kayreen bergerak meraih kopernya. Namun sebelum ia melangkah, suara Justin terlebih dahulu mencegahnya.
"Memangnya kau tahu ke mana jalan menuju rumahmu?" tanya Justin ringan seraya menyandarkan punggungnya ke dinding.
Nyali Kayreen sedikit menciut, menyadari ia memang tak tahu jalan menuju rumahnya. Namun ia tak akan menyerah.
"Aku bisa bertanya pada siapapun." Kayreen melangkah sekali.
"Memangnya kau akan naik apa?" tanya Justin semakin menantang.
"Aku bisa naik tak--"
Kayreen menghentikan ucapannya saat menyadari bahwa dompetnya tidak ada. Dan ia mendelik ketika melihat tangan Justin mengangkat tinggi-tinggi dompetnya.
"Ih! Kau menyebalkan! Aku akan menelpon Richard!" kata Kayreen seraya meraih ponselnya.
"Tunggu, siapa Richard?" tanya Justin tak tenang. Apakah selama ini Kayreen sudah memiliki penggantinya? Oh tidak! Itu berita terburuk sepanjang masa. Kayreen masih kekasihnya sebab Kayreen tak pernah menyatakan bahwa hubungan mereka putus. Jadi, mereka tetap sepasang kekasih bukan?
"Apa urusanmu," ucap Kayreen tanpa menatap Justin. Sedetik sebelum ia menekan tombol panggil, Justin terlebih dahulu menahan tangannya di dinding dan mengurung tubuhnya.
"Siapa Richard? Apa dia ... kekasihmu?" tanya Justin khawatir. Ia benar-benar akan mencari siapapun Richard itu dan akan menghajarnya bila ia benar-benar kekasih Kayreen. Enak saja orang itu merebut gadisnya.
"Kalau iya, apa yang akan kau lakukan?" tantang Kayreen.
"Kau tak punya kekasih," bantah Justin tak percaya.
"Oh ya? Tapi Richard kekasih--mmh!"
Justin membungkam bibir Kayreen dengan bibirnya. Tangannya bergerak dari tengkuk Kayreen, lantas berjalan menuju leher, lengan, kemudian berakhir di tangan Kayreen, tempat gadis itu menyimpan ponselnya. Memiringkan wajahnya, Justin kemudian menarik ponsel Kayreen perlahan tanpa membuat Kayreen menyadari apa yang terjadi.Sesaat kemudian, Justin melepaskan ciumannya dan menempelkan keningnya pada kening Kayreen.
"Tak ada yang boleh menjadi kekasihmu selain aku," bisik Justin dengan napas tak beraturan. Kayreen dengan pipinya yang sudah memerah kemudian sekuat tenaga melepaskan diri dari kukungan Justin dan berlari masuk ke kamarnya. Justin terkekeh melihat Kayreen yang salah tingkah, kemudian berjalan memasuki kamarnya. Tak lupa pria itu mengunci pintunya karena ia tahu sebentar lagi akan ada seseorang yang mengamuk.
Justin melepaskan kemejanya dan berjalan ke kamar mandi. Ia tersenyum seraya menghitung mundur.
"Tiga."
"Dua."
"Satu." Senyuman semakin mengembang pada wajah tampannya.
"Justiinnn!!!!!! Kembalikan ponselku!!!!!"
🔫🔫🔫
Kayreen baru saja mandi dan memakai pakaiannya. Tangannya bergerak meraih hairdryer dan menyalakannya. Gadis itu menghela napas dengan berat sekali, kebingungan dengan apa yang terjadi pada hatinya. Sampai kapan ia akan terus membenci dan mencintai dalam satu waktu?

KAMU SEDANG MEMBACA
CHANGED
FanficSemuanya tak akan tetap sama. [Sequel of Complicated] Baca Complicated dulu boleh Langsung baca Changed boleh