1. Shut up!

604 44 15
                                    

"Apa yang terjadi padamu, Kay? Kenapa hari ini kau terlihat sangat kaku?"

Kayreen terdiam mendengar penuturan kekecewaan dari Mr. Nick, managernya. Ia tak mempu mengelak, karena semua yang Mr. Nick katakan memang benar.

"Kau punya masalah, Dear? Kau bisa menceritakannya padaku. Jangan sampai klien-klienku kecewa padaku hanya karena kekauanmu dalam beberapa pose tadi." Mr. Nick bangkit berdiri lantas melangkah mendekati Kayreen yang tengah menunduk menatap lantai.

"Ada yang menarik di bawah sana?" tanya Mr. Nick seraya mengangkat dagu Kayreen, membuat Kayreen mau tak mau menatap seseorang yang sudah menjadi sosok ayah baginya beberapa tahun belakangan ini. "Katakan apa yang terjadi padamu, Dear. Jangan buat semuanya yang telah tertata rapi menjadi berantakan. Kau tahu benar bukan, kalau projek ini salah satu yang terbesar. Jangan sampai kau membuat Mr. Payne kecewa."

Tak mendengar sahutan apapun dari Kayreen, Nick kemudian kembali berucap. "Kau mengatakan kalau aku sudah seperti ayahmu, bukan? Lalu kenapa kau tak mau bercerita padaku?"

"A-aku hanya merasa lelah saja belakangan ini, Mr. Nick. Seperti yang kau tahu, jadwalku sangat penuh selama sebulan ini," keluh Kayreen dengan pandangan sayu.

Memang benar apa yang dikatakannya. Berangkat terlalu pagi, pulang larut, itulah makanan sehari-harinya. Bahkan untuk mengisi perutnya saja terkadang Kayreen merasa tak mempunyai waktu.

Mr. Nick terdiam, memikirkan apa yang baru saja Kayreen katakan. Pria paruh baya itu tak mampu menyanggah apa yang Kayreen katakan. Dan ia sekarang menjadi merasa bersalah telah memacu Kayreen untuk bekerja terlalu keras.

"Bagaimana kalau kau meluruskan punggungmu selama dua minggu?" tanya Mr. Nick jenaka seraya menyerahkan sebuah tiket liburan ke Miami.

Tak ada yang lebih baik selain ini!

🔫🔫🔫

Kayreen menghirup udara dalam-dalam, lantas menghembuskannya perlahan. Kelegaan memenuhi paru-parunya setelah bisa sampai di hotel tempatnya akan menginap selama dua minggu ini di Miami.

Liburan.

Sejak kapan kata itu terdengar asing dalam kamus hidupnya? Kayreen tak tahu pasti. Namun yang pasti kini semuanya telah kembali berubah. Bukan hanya fisik, namun juga hatinya.

Tak percaya dan memerlukan bukti? Baiklah. Kayreen tak menyerahkan hatinya kepada siapapun semenjak kejadian itu. Ya, dan takkan pernah lagi.

"Ya, Alex?" ucap Kayreen sambil menjepit ponsel di antara bahu dan pipinya, sementara kedua tangannya berusaha membuka pintu hotel.

"Kau sudah sampai? Jangan lupa makan terlebih dahulu. Oh, dan apakah kau sengaja melupakan Brownie? Lihatlah, dia kesepian sekarang," ucap Alex di seberang sana terdengar melebih-lebihkan.

"Ya Tuhan, aku benar-benar lupa, Alex! Bisakah-bisakah kau menjaganya selama aku pergi?" Kayreen memukul dahinya konyol. Bodoh! Bisa-bisanya ia melupakan boneka kesayangannya yang merupakan hadiah ulang tahun Alex pada usianya yang ke 21 beberapa bulan yang lalu.

"Tidak. Tentu saja tidak. Kau telah berjanji akan membawanya kemanapun kau pergi. Dan kau mengingkari janjimu. Aku marah."

Alex langsung memutuskan panggilannya setelah selesai mengerjai Kayreen. Ini yang selalu Alex suka dari adiknya, karena ia bisa dengan mudah mengerjainya. Terlihat tidak penting, namun bagi Alex hal itu menjadi hiburan tersendiri.

Sudah mempunyai istri dan anak masih saja bertingkah seperti bayi! Gerutu Kayreen dalam hati.

Mendengus kesal, Kayreen melempar ponselnya begitu saja ke atas tempat tidur lantas berjalan ke arah kopernya. Jemari lentiknya bergerak membuka benda berwarna hitam itu, lantas mengambil beberapa barang yang ia perlukan.

Kayreen butuh untuk mandi. Setidaknya, kotoran-kotoran pada tubuhnya yang melekat selama beberapa jam perjalanan tadi tidak ia bawa untuk berjalan-jalan mengelilingi Miami.

Tampak bodoh berjalan-jalan tanpa beristirahat terlebih dahulu? Kayreen tak peduli. Perutnya tak mau menerima alasan apapun untuk saat ini.

Maka jadilah Kayreen mengganti pakaiannya dengan sesuka hatinya, toh gadis cantik berprofesi model itu sebenarnya sudah tampak cantik bahkan bila pakaiannya sederhana.

Memoleskan sedikit pelembab pada wajahnya, Kayreen lantas mengambil ransel kecilnya untuk ia bawa berjalan-jalan. Tampak seperti anak sekolahan, padahal hal itu sebenarnya sangat bermanfaat. Tanganmu tak perlu susah-susah menjinjing tas bila menggunakan tas punggung, bukan?

The Capital Grille adalah tujuan Kayreen. Ia mendengar bahwa restoran itu terkenal di Miami. Dari siapa ia tahu? Tentu saja Gloria. Sahabatnya yang satu itu nampaknya tak pernah bosan menjajali makanan-makanan di penjuru dunia bersama dengan kekasihnya, Thomas. Selagi Gloria bahagia dengan apa yang ia lakukan, maka Kayreen tak akan berceloteh.

Tinggal sedikit lagi, beberapa belokan lebih tepatnya, maka Kayreen akan sampai pada tempat itu. Tak sabar dengan apa yang akan segera ia temukan, Kayreen pun mempercepat langkahnya.

Namun entah pada detik ke berapa ia melangkah, suara tembakan tiba-tiba saja menyusup ke telinganya. Kayreen yang amat terkejut sekaligus kebingungan dengan apa yang terjadi hanya diam di tempatnya dan tak melakukan apapun.

Hingga kemudian, satu suara tembakan kembali terdengar, membuat gadis cantik itu menutup kedua telinganya menggunakan telapak tangannya. Ia bahkan tak sadar bahwa orang-orang sedari tadi meneriakinya untuk segera pergi. Ketakutan tengah menderanya.

Dan entah siapa, secara tiba-tiba menarik pergelangan tangan Kayreen dan membawanya menuju salah satu gang yang cukup sempit. Kayreen takut pada orang yang menariknya, namun ia lebih takut pada orang yang sedari tadi mengeluarkan suara tembakan.

Siapapun itu, Kayreen sangat membencinya.

"Lepas!" sentak Kayreen saat merasakan sengatan perih pada pergelangan tangannya. Dan benar saja, nampak goresan berwarna merah telah terukir di pergelangan tangannya.

"Diam!"

Bulu kuduk Kayreen meremang mendengar suara bernada rendah itu. Entah karena apa, tiba-tiba saja ia merasa tak asing. Menggelengkan kepalanya, Kayreen menepis pemikiran yang sempat hinggap di kepalanya.

Gang yang Kayreen dan laki-laki itu masuki sangatlah gelap. Kayreen tak bisa melihat wajah laki-laki di depannya, ditambah lagi hoodie yang laki-laki itu kenakan menutupi sebagian wajahnya. Tampak menyeramkan.

"Menyingkir!" Kayreen meronta saat laki-laki yang ada di depannya malah merapatkan tubuhnya padanya. Benar-benar kurang ajar. Rupanya laki-laki itu butuh pelajaran dari Kayreen. Inilah saatnya ia memanfaatkan kelas beladiri yang Mr. Nick berikan.

Tangan Kayreen mengepal, hendak melayangkan sebuah pukulan pada orang yang ada di depannya. Namun sebuah keajaiban, benar-benar keajaiban. Bahkan dengan cahaya yang amat minim, laki-laki itu mampu menangkap kepalan tangan Kayreen dan menggenggamnya erat.

"Lepas!" teriak Kayreen, diiringi dengan suara tembakan yang tiba-tiba terdengar.

Kayreen hendak memekik saat melihat seseorang di ujung gang, bersiap mengarahkan pistol ke arahnya dan laki-laki di depannya. Namun sesuatu terlebih dahulu membekap mulutnya. Sesuatu yang lembab dan lembut, menempel pada bibirnya.

Belum sempat Kayreen tersadar pada apa yang terjadi, tiba-tiba sebuah tembakan kembali terdengar. Dan Kayreen dapat memastikan bahwa; dirinya atau laki-laki di depannya terkena tembakan itu. Namun sayangnya, kesadarannya terlebih dahulu hilang sebelum menyadari akan hal itu.

🔫🔫🔫

A/n

Siapa yang nyium Kayreen?? :V
Tau kan ya wkwk.

CHANGEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang