19. We Can't

285 35 13
                                    

"Biarkan aku masuk!"

"Tidak setelah apa yang kau lakukan pada Kayreen!" sahut Richard penuh emosi. Pria itu tak habis pikir, bagaimana Justin bisa melakukan hal keji itu hanya karena beberapa lembar foto dan sebuah video. Itu sama sekali tidak masuk akal. Hanya pria pengecut yang akan melakukan hal-hal seperti itu.

"Kau tak berhak apapun atas Kayreen! I am her boyfriend--"

"Tidak ada kekasih yang tega memerlakukan kekasihnya layaknya binatang!"

Justin berniat mengelak. Namun jauh di dalam hatinya, ia membenarkan perkataan Richard. Melihat Justin yang tengah lengah, Richard pun segera melayangkan sebuah pukulan keras ke rahang kiri Justin. Justin yang memang tidak siap pun terjatuh dengan sebuah lebam di sudut bibirnya. Justin tidak membalas ataupun sekadar bangkit. Ia hanya membiarkan Richard memukul wajah dan perutnya. Sampai kemudian Emily datang dan memisahkan mereka berdua. Emily membawa Justin menjauh dari Richard dan mengobati lukanya.

Keheningan menyelimuti Justin dan Emily, sampai kemudian Emily bersuara.

"Temui dia."

Hanya dua kata itu, setelahnya Emily pergi dari hadapan Justin. Emily tak peduli Justin adalah bosnya. Tidak dengan sikap banjingan Justin. Namun sebelum benar-benar pergi, Emily berbalik.

"Dia cacat. Rahimnya mengalami kerusakan serius, dan kau tahu siapa yang seharusnya bertanggung jawab." Setelahnya, Emily benar-benar pergi dari hadapan Justin.Emely tadinya tak berniat memberi tahu Justin tentang satu ini. Namun ia sadar, bahwa Justin lah yang berhak tahu atas apa yang terjadi pada Kayreen, tak peduli bila Justin merupakan penyebab dari segalanya.

Tapi, separah itukah? Ya, tentu saja. Justin saja yang waktu itu buta dan tuli akan permohonan Kayreen untuk berhenti. Dan sekarang, Justin mendapatkan hasil dari perbuatannya. Pria itu tahu apa yang dimaksud cacat oleh Emily. Lalu apakah Kayreen tahu akan hal itu? Tapi itu bukan hal utama yang perlu dilakukan. Sekarang, Justin hanya perlu untuk menemui kekasihnya dan meluruskan segalanya. Justin tahu semuanya sudah amat rumit, namun diam dan bersembunyi juga bukan jalan keluar dari segalanya.

Justin menatap sebuah pintu yang sedikit terbuka, beberapa meter dari tempatnya duduk. Pria itu bangkit, kemudian berjalan perlahan ke arah pintu itu. Justin meraih knop pintu dan mendorongnya sedang matanya tertutup. Pria itu berharap, ini bukanlah akhir dari segalanya.

🔫🔫🔫

Kayreen terduduk di lantai dengan tatapan kosong. Gadis itu kemudian mengalihkan tatapannya pada pergelangan tangannya, tempat di mana lebam-lebam kebiruan menyelimuti kulitnya. Tak menunggu waktu lama, sekelebat ingatan di mana Justin merenggut keperawanannya memenuhi kepalanya. Kayreen kemudian meremas pergelangan tangannya sekuat tenaga, lantas menjambak rambutnya, berharap ingatan itu hilang dari kepalanya. Namun nyatanya tidak. Ia justru melihat bayang-bayang Justin mendekatinya.

"Jangan mendekat, kumohon...," rintihnya dengan suara parau. Air mata terus mengalir dari kedua bola matanya, tak peduli seberapa kuat gadis itu menahannya. Lalu setelahnya, gadis itu merasakan sentuhan yang seakan menyayat kulitnya. Sentuhan ringan seorang pria yang telah berjanji akan menjaganya. Sentuhan yang benar-benar terasa menyakitkan bagi Kayreen. Namun sayangnya gadis itu bahkan tak mampu melakukan apapun selain pasrah, bahkan saat sang pemilik sentuhan merengkuhnya.

"Justin, no!"

Kayreen memejamkan matanya, mencoba menahan air matanya. Kesakitan itu kembali menguar. Kayreen dapat merasakan dengan jelas bagaimana Justin menghancurkannya, bagaimana Justin membunuhnya, dan bagaimana pria itu benar-benar berhasil melakukannya. Kayreen berusaha melupakannya, tentu. Namun apa yang bisa gadis itu lakukan saat ingatan itu datang dengan sendirinya?

"Arrgh, Justin!"

Lalu dengan sekuat tenaga, Kayreen meronta dari rengkuhan Justin dan menampar pria itu dengan teramat kencang, hingga membuat bunyi yang cukup keras.

Justin terdiam. Pria itu tahu benar bahwa di sudut bibirnya mengalir darah segar. Pukulan Richard ditambah tamparan kekasihnya, membuat cairan berwarna merah itu keluar dengan lancar. Justin tidak marah, alih-alih tersenyum.

"Do that again, please."

Namun Kayreen tak melakukan apa yang Justin pinta. Gadis itu hanya terdiam, bahkan saat Justin semakin mendekatinya dan membelai pipinya. Justin tak tahu, bila hanya dengan sentuhannya, hati seorang perempuan dapat ia remukkan.

"I'm so sorry."

Kayreen diam.

"Tampar aku sebanyak yang kau mau."

Kayreen tetap diam.

"Aku tidak akan pernah menyakitimu lagi. Kumohon maafkan aku."

"A-apa dengan memaafkanmu aku bisa kembali mendapatkan apa yang telah kau renggut?" tanya Kayreen dengan suara bergetar. Dan Justin terdiam, tak mampu menjawab. Pertanyaan Kayreen tadi membuat Justin sadar betapa bajingannya dirinya.

"Aku bukan lagi perempuan yang ibuku inginkan lagi. Aku telah merusak impian ibuku." Kayreen meremas tangannya sendiri. "Aku bukan perempuan istimewa di mata suamiku nanti."

"Aku yang akan menjadi suamimu," sahut Justin cepat.

Kayreen terkekeh, meski air matanya tetap mengalir. "Oh, God. I am a lucky slut! Am I?"Mata biru laut itu menajam. "Setelah tanpa alasan kau memperkosaku, lalu dengan mudahnya kau berkata seperti itu? Di mana hatimu?"

Justin meraih tangan Kayreen. "Aku tidak melakukannya tanpa alasan. Aku mendapat beberapa gambar dan video yang--"

"Apa setelah apa yang kita lalui tak bisa membuktikan bahwa aku mencintaimu? Apa hanya dengan gambar dan video bisa membuatmu membutakan perasaanmu padaku? Hanya sejauh inikah rasa cinta seorang pria yang berkata akan menjadi suamiku?"

"Ya! Karena aku lemah bila tentang dirimu! Karena aku dipenuhi dengan rasa cemburu yang bahkan mampu membakar hatiku! Aku--sangat sangat mencintaimu, dan itu yang membuatku kalut dan tak bisa lagi berpikir jernih. Aku tak mampu mendapati pria lain memilikimu, Sayang.

"Pria yang telah menghancurkanmu ini, pria yang pengecut ini... mencintaimu. Mencintaimu, sampai rasanya aku bisa mati hanya karena aku melihatmu seperti ini. Bahkan jika bisa, aku ingin memutar waktu di mana aku bisa bertanya dulu padamu. Di mana aku bisa... namun nyatanya aku tak bisa.

"I am begging you, Kay, please... give me one more chance." Justin menggenggam erat kedua tangan Kayreen. Namun pada detik setelahnya, Kayreen menyentakkan tangan Justin dengan kasar.

"Pergi," lirih Kayreen. Itu sebuah usiran, tentu.

"No, please. I'll try--"

"Don't try anything. We're done," potong Kayreen cepat.

"No! I love you, I do love you, Kay. We can fix it. We can--"

Prang!

"Pergi," kata Kayreen lagi seraya mengambil pecahan kaca dari gelas yang baru saja diambilnya, lalu mengarahkan pada tangannya.

"Okay, okay. I'll go."

Justin bangkit dan melangkah mundur perlahan. Ia mengisyaratkan pada Kayreen untuk menurunkan pecahan kaca di tangannya, dan Kayreen melakukannya.

Sepeninggal Justin dari kamarnya, Kayreen memeluk lututnya erat dan menenggelamkan wajahnya di sana. Tangan gadis itu mengambil selembar kertas yang tak sengaja Emily tinggal saat memberikan obat untuknya. Selembar kertas pernyataan yang membuatnya hancur berkeping-keping.

"Aku sudah rusak, Justin. And we can't fix anything," lirihnya putus asa. "I need you," lanjutnya. Gadis itu bahkan tak tahu pada siapa ia meminta. Pada orang tuanya yang sudah tiada, pada kakaknya yang jauh di sana, atau pada... Justin?

🔫🔫🔫

A/n

Gaje parah :/

Terlalu lama tidak menulis :(

But fast update wohoo :D

CHANGEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang